Thursday, September 9, 2021
TEMANKU, KEKASIHKU,SAUDARAKU
POKERBOLA - Perkenalkan namaku Maya aku punya teman bernama Jenny. Kami sudah berteman sejak SMA kalau dihitung2 sekarang sekitar 15 tahun. Dan kami selalu terbuka dalam segala hal. Persahabatan kami boleh dibilang sangat dekat bahkan kami sudah begitu akrab dengan saudara dan orang tua masing2 sudah seperti saudara selayaknya. Begitupun dengan kedua orang tua kami dan saudara2 kami sangat akrab satu sama lain.
Setelah kami lulus kami tinggal di kota yang berbeda. Dia melanjutkan kuliah sedangkan aku lebih memilih bekerja secara langsung karena kemampuan ekonomi keluarga yang tidak mendukung.
Tapi pekerjaan aku banyak berurusan ke kota tempat tinggal dia sehingga kami kerap ketemu walaupun hanya untuk makan siang dan sekali2 aku menginap di kostnya karena letih menempuh perjalan yang agak jauh dengan sepeda motor ataupun hanya untuk sekedar tidur2 an melapas lelah. Dia sampai memberikan aku kunci cadangan kalau2 dia tidak ada di tempat dan aku mau kesana.
Kerap kalau aku gajian aku membeli sesuatu untuk dia sekedar hadiah atau kadang kami makan ketempat yang agak lumayanlah untuk ukuran anak kost.
Suatu hari ketika aku ke tempat dia aku lihat dia sedang tiduran, berselimut.
“Lho jam segini kok tiduran? Kamu sakit ya?” sambil aku raba keningnya agak panas.
“Kamu sudah makan belum?” Tanya aku lagi
“Ga kepingin masih mual2?
“Kok mual kamu ngidam toh? He..he” aku candain dia sambil aku raba badannya basah semua.
“Baju kamu basah. Ganti dulu gih” sambil aku ambilin baju di almari dia.
Ini pertama kali aku liat dia telanjang di depan aku walaupun kami sudah temanan cukup lama. Memang badannya putih mulus beda sama aku yang kulitnya asia banget. (Kata orang kopi lebih mahal dari gula …tapi ga nyombong bule banyak yang suka boo sering muji katanya badanku seksi dengan payudara yang bisa dibilang lumayan lah…)
Habis itu dia tiduran lagi dan aku selimutin dia.
“Aku keluar dulu beli bubur ayam ya? Kamu minta apa lagi?” dia Cuma senyum dan menggeleng sambil bilang “Hati-hati !!”.
aku suapin dia sambil memberikan minum teh hangat. Baru aku makan.
“Kamu hari ini jangan pulang ya, tidur disini saja!” pintanya.
“Ya liat kamu begini ga mungkinlah aku pulang. Tapi aku pinjam baju kamu biar ini besok bisa dipake kerja lagi”.
Malam ini tidak seperti biasanya aku tidur disini, aku berbaring di sebelah dia sambil membaca buku dan dia tertidur lebih awal. Biasanya kami ngobrol sampe larut.
Tiba-tiba aku liat dia agak gelisah tidurnya dengan keringat mengalir di kening. Tanpa tersadar aku elus2 kepala dia untuk menenangkan. Dan dia terbangun.
“Kamu kok tidurnya gelisah banget ada apa?” sambil aku ambil tissue dan mengelap keringat dia. Dia hanya memandang aku sebentar kemudian melanjutkan tidurnya. Dan akupun ikut berbaring di sebelahnya. Dan tanganku masing mengelus elus rambutnya.
Aku tidak tau ada suatu perasaan aneh yang blm pernah aku rasakan walaupun kami sudah dekat begitu lama. Tiba2 dia terbangun lagi. Dan secara spontan dia meletakkan kepalanya di dada aku.
Dengan sedikit bingung aku Tanya lagi “Kamu ada apa kok tidurnya begini?”
“Ya pingin aja, biar lebih tenangan kamu ga suka ya”
Aku cuman tersenyum sambil tangan aku yang satunya pegang tangan dia dan yang satunya tetap mengelus2 rambut dia.
Tanpa sadar aku kecup kening dia. Mungkin terbawa suasana. Dia hanya melihat dan tersenyum. Senyum termanis yang pernah aku lihat.
Tiba-tiba dia bilang “Aku sayang banget sama kamu. Kamu gimana?”
Deg….aku agak kaget dan aku jawab “Ya sayang lah”.
Tangannya sedikit bergerak mengelus2 payudara aku, aku jadi agak terangsang karena tidak pakai bra. Tapi aku biarkan saja. Lama-lama nafasku agak cepat dan diapun begitu. Lalu aku turun dan mengecup bibirnya.
Tidak aku sangka dia membalas. Kami berpagutan lama sekali saling mempermainkan lidah kami berdua.
Dengan secepat kilat aku ubah posisi agar dia di bawah aku bergerak menciumi lehernya dia terus mendesah. Ssshhhhhhhhh……tanganku yang kiri bergrilya menuju payudaranya untuk meremas-remas sedangkan yang kanan tetap mengelus rambutnya. Lalu aku naik, aku gigit2 kecil kupingnya ku kecup dan kupermainkan lidah disana dia semakin menggelora ougghhhhh….sambil tanganku tetap memilin putingnya. Kecupanku pindah lagi ke lehernya dan kemudian satu persatu aku lepas pakainnya dan juga pakaiannku.
Aku turun lagi menuju ke payudaranya yang kanan sambil aku cium-cium aku tarik2 putingnya dan tanganku yang kiri memilin putingnya sambil sesekali meremas.
Dia mendesah ooouuughhhhhh sayang…..aku suka ini terus…oughhhh aku sayang kamu
Mendengar kata-kata itu aku menjadi lebih bernafsu. Aku ciumi payudaranya bergantian, aku kulum, aku tarik2 seperti bayi netek tangan yang satunya tetap meremas dan dia tambah mengigau kepalakupun makin di tekan ke teteknya. Terusin sayang oughhhhh…..ooooughhhhh shhhhhh…….
Akhirnya tanganku yang kiri aku turunkan dan menjalar ke bawah bermain2 di permukaan V nya. Dia semakin menggelinjang dan aku semakin bernafsu melihat rona mukanya akupun semakin liar menghisap, menarik, meremas dan kadang mempermainkan lidahku di putingnya sambil tanganku yang dibawah meraba area V nya. Ouugghhhhhh sayang……ooughhhh aku ga tahan dan tiba2 dia mendapatkan orgasmenya yang pertama.
Kemudian sasaranku turun. Aku ciumi dari perutrnya kemudian aku permainkan lidah di pusarnya, dia sedikit kegelian sambil tanganku yang satu tetap meremas tetenya.
Aku semakin ke bawah dan sampilah di selangkangannya. Aku ciumin pahanya kiri kanan, terus makin ke bawah ke daerah V nya aku permainkan dengan lidah dia semakin menggeliat, memohon, dan pandangan matanya membuat aku semakin bernafsu melihat dia begitu memohon.
Oooughhhhh sayang masukin jari kamu plssss aku pingin……
Aku masih mempermainkan lidah di sekeliling V nya dan tanganku yang satu mempermainkan tetenya meremas, menarik putingnya kadang aku pilin2. tangan yang satu tetap bermain di permukaan V nya.
Oughhhh sayang….masukin jari kamu dong plsssss!!!
Aku suka sekali melihat dia memohon dan akhirnya aku tidak tega. Aku masukin 2 jari sambil aku permainkan lidah aku di klentitnya. Aku tusuk2 permukaannya pakai lidah sedangkan tanganku bermain di area dalam. Keluar masuk seirama dengan lidah aku.
Dia mengerang, menjerit pantatnya sesekali mengangkat dan kadang bergoyang dengan liarnya.
Kepala aku ditekan dengan ganasnya sampai aku sulit bernafas. Aku gerakkan kepalaku naik turun sambil menusukkan lidah aku di area Vnya dan mengocoknya dengan jari.
Oughhhhhh…aaaaggghhhh sayang jarinya jangan dilepasin, kocok aku pls…aku suka ini….akkkhhhhhh
Pantanya semakin liar naik turun kadang memutar dan tangannya kadang menjambak kadang menekan kepala.
Tiba tiba dia aughhhh sayang…badannya bergetar dan dia orgasme dia menyiram aku dengan cairan kepuasannya.
Ini tidak aku hentikan sekarang aku isap kuat2 semua cairannya dan aku tarik2 kelentitnya. Dia meronta, kadang2 kepalanya mengangkat melihat aksi yang aku lakukan dan tanganya tetap menekan2 kepalaku seolah2 tidak mau dilepaskan.
“Oughhh sayang ini milik kamu semua” dan jariku tetap di dalam bermain2 dan kadang dia menjepit dengan kuatnya. Aku permainkan lagi lidah aku. Aku tusuk dengan sekuatnya bersamaan dengan jari dia merontah oooughhhhh…..
Berikutnya aku meminta dia menungging…
“Sayang kamu nungging ya????”
Dan dia pun menungging dalam keadaan dia begitu aku isap seluruh daerah Vnya dari belakang dan aku sedot cairan kepuasan yang masih tersisa. Kemudian aku permainkan lidah aku dari belakang. Dia menggelinjang dan berteriak oughhhhh sayang….
Kemudian aku masukkan lagi 2 jari dari belakang sambil terus aku ciumi dia jariku dengan kuat menyodoknya dari belakang dia semakin liar pinggulnya, badannya semua bergerak, dan tangaku yang satunya mempermainkan teteknya.
Dia mengigau menjepit sayang….kocok yang dalam ouughhh aku suka
akupun memenuhi keinginannya sambil lidah tetap bermain2 dari belakang. Tiba2 dia meremas bantal dan dia menempelkan wajahnya di bantal dia berusaha menjerit aaaauuugggggggghhhhhhhh……saaaa aa…..yyyaaaangggg aaaaggghhhhhh cairannya keluar banyak sekali sampai meleleh di tanganku. Akhirnya aku masukkan lagi kepala aku keselangkangannya.
Kemudian kami sama2 berbaring kelelahan. Dia tersenyum dan aku cium keningnya.
Kamu suka? Aku Tanya dia. “Iya..tks sayang” dan dia mengecup bibir aku
Akhirnya kamipun tertidur sambil berpelukan.
Besoknya aku bangun pagi2 sekali setelah membersihkan badan aku langsung keluar mencari sarapan untuk kami berdua dan sambil membeli obat penurun panas.
Kami sarapan bersama dan sebelum aku berangkat kerja aku cium keningnya tapi ternyata dia lebih ganas dengan mencium bibirku. Trus dia memberikan senyum “Tks untuk yang semalam”. Akupun tersenyum sambil menyuruhnya meminum obat.
Hubungan kami berlanjut begitu lama dan bersukur tanpa pernah ada masalah. Aku kasi dia kebebasan untuk bergaul dan dia juga begitu kami sangat menghargai dan menikmati hubungan ini dan kami tetap keept agar jangan sampai orang lain tahu. Aku menjadi lebih sering tinggal di kostnya secara tidak langsung pekerjaan aku yang bertambah banyak jadi aku pulang kadang 2 atau tiga hari sekali.
Hampir setiap malam kami berekspresi mewujudkan kasih sayang kami.
Pernah suatu hari aku ambil cuti 2 hari yang bertepatan dengan libur dia kuliah. Kami pergi ke tempat yang kami sudah idam2kan sejak SMA karena keindahannya. Kami menyawa hotel.
Aku berendam di kamar mandi tiba-tiba dia datang. Dia menyabuni seluruh badan aku dan yang paling lama dia menyabuni tetekku. Kadang ditekan, kadang di remas membuat aku tidak tahan. Aku tarik dia ke bathtub, kami berciuman sangat lama kemudian aku raba kebawah, dia mulai mendesah…ssshhhhh oughhhh
Aku permainkan permukaan V nya sebelum aku masukkan 2 jari sambil bibir kami tetap berpagutan dan tetek kami beradu membuat sensasi yang berbeda.
Kemudian dia menjerit dan dia orgasme.
Aku begitu bahagia bila melihat dia puas.
Dan kamipun melanjutkan mandi.
Malamnya kami bertempur agak sedikit gila dengan inspirasi yang baru.
Aku senderkan dia ke tembok, aku mencium dia dengan agak ganas karena permintaan dia mau sedikit liar malam ini.
Aku mencium bibirnya, lehernya, kupingnya sambil tete kami tetap beradu dan saling menekan.
Kemudian aku angkat satu kakinya aku masukkan jari kesana aku permainkan maju mundur ternyata rasanya lebih menekan dia menjerit, dan menarik kepala aku sambil mencium dengan lebih ganas
Terkadang dia melepaskan pagutan kami hanya untuk mendesah aooughhhh…oooughhh….
Lalu aku dorong dia ke pinggir tempat tidur sambil kakinya tetap menggelantung
Aku buka pahanya lebar-lebar. Aku masukkan 2 jari kanan ke Vnya dan 1 jari telunjuk ke anusnya sambil aku tusuk dengan lidah area V nya
Dia kaget dan menjerit, tapi aku diamkan jariku sebentar untuk membuat dia rileks sambil terus kucium V nya akhirnya aku gerakkan kedua jariku pelan2
Dia mulai merontah tidak karuan, mendesah oooughhh sayanggg pantatnya naik turun makin lama kocokanku makin cepat bibirku tidak berhenti melumat V nyadia berteriak, mengerang, menekan kepalaku ssshhhhh ouuggghhhh sayang jangan tinggalin aku…oouughhhh
Akhirnya sampai pada suatu titik dia tutup wajahnya dengan bantal dia gigit dan berteriak sambil pantatnya bergoyang naik turun tidak teratur.
Dia orgasme..orgasme paling dalam karena mendapakan serangan dari dua arah.
Aku cium keningnya. Sambil tersenyum. “Kamu suka?” aku Tanya
Dia langsung memeluk aku sambil bilang “I LOVE U”
“I LOVE U TOO …..” sambil aku peluk dia
Setelah dia lulus kuliah dia mendapat pekerjaan di hotel dan aku kebetulan mendapat tugas belajar 1thn keluar daerah. Jadi kami agak jarang bertemu tapi kami tetap melakukan komunikasi via telp. Kadang kalau sama2 pingin kami melakukan Phone Sex dan herannya kami bisa sama2 puas.
Sampai pada suatu saat dia mengatakan bahwa dia mencintai seseorang. Pertama ada rasa takut kehilangan.. sedih…sampai aku tutup telpnya tanpa mengatakan sepatah katapun. Dia telpon berkali2 aku tidak mau menjawab. Fikiranku tidak karuan. Ada rasa marah
Lama aku berfikir tentang hal ini. Aku mencintai dia bukan berati bisa memiliki dalam keadaan begini. Dia berhak memiliki masa depan yang lebih baik dan aku harus support itu.
Kemudian aku telpon dia dan menjelaskan semuanya. Dia sangat bahagia.
Dan aku berjanji kalau pulang nanti mau bertemu mereka berdua.
Saat bertemu ada sedikit rasa cemburu tapi aku berusaha untuk tidak menampakkan itu. Kami hanya bercanda sambil menikmati makan malam.
3 thn mereka pacaran akhirnya mereka menikah juga. Aku sangat bahagia bahkan aku turut sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk pernikahan mereka. Dan sebagai hadiah aku memberikan mereka voucer hotel utk bulan madu.
6 bln setelah pernikahan mereka suaminya berangkat ke negaranya dia orang binis jadi kadang 2 bulan disini 3 bln di negaranya. Lama2 dia goyah juga menghadapi situasi begini.
Dia sering curhat, sampai masalah sedetilnya.
Suatu hari dia menelpon aku saat itu aku libur. Dia bilang mau curhat dan akupun datang ke tempatnya.
Dia menceritakan permasalahannya melihat mukanya sangat sedih aku reflek memeluknya dan mencium keningnya.
Lama sekali aku memeluknya dan aku merasa sangat rindu memperlakukan dia begini. Hanya ingin memeluknya dan mengecup keningnya.
Dia melarang aku pulang malam itu, katanya sudah kangen tidak pernah tidur bareng. Dan akupun memenuhi permintaannya.
Malamnya kami nonton TV berdua dan dia duduk di sampingku. Tiba2 dia meletakkan kepalanya di pangkuanku. Aku elus2kepalanya rasanya agak canggung tapi aku rindu. Dan dia membimbing tanganku ke teteknya. Dia bilang “Aku kangen seperti dulu”
Tanpa aku sadari aku meremas, aku mencium kupingnya aku lumat kemudian aku kebibirnya lidah akmi beradu dengan ganasnya dan tanganku beralih keperutnya aku elus2
Dia mendesah dan kamipun membuka pakaian aku tatap dia lama aku cium keningnya kemudian matanya bibirnya dan terus sampai dia bilang ouughhhhhhh
Aku permainkan tanganku di bawah kemudian akupun turun menuju ke area V nya
Aku permainkan disana sangat lama aku pagut, aku hisap aku tusukkan lidahku, dan jariku bermain2 di permukaan. Dia merintih…memohon …puasin aku plsss kayak dulu…
Aku naik lagi aku ciumin tetenya, aku remas dengan ganasnya, aku cium, aku tarik, aku sedot dan dia tetap merintih…memohon
Aku turn kembali ke Vnya yang sudah basah aku masukkan 2 jari dan dia mendengus oooughhhhhh……kemudian aku masukkan lidah aku bersamaan dengan jari aku permainkan aku kocok, sambil tangan yang satunya meremas tetenya. Aku kocok makin keras ..makin cepat dan dia semakin liar pantatnya naik turun tanganya menekan aku sodok dia semakin keras. Sampai akhirnya dia menjerit panjang. Sayaaaaaangggg akkkkkk …..u dappp…pat aoughhhh
Aku tidak berhenti, aku mau bikin dia benar2 puas. Bibirku tetap di Vnya tanganku tetap mengocok dan telunjuk kiriku ikut masuk ke anusnya, dia kaget ouuughhhhhhh sayanggggggg…..aku diamkan sesaat sambil tetap mencium Vnya
Kemudian aku kocok bersamaan anus,v dan lidah aku, aku lihat dia makin menggelepar dia menikmati sekali dan aku suka itu.
Matanya memandang sayu terkadang kepalanya diangkat ouughhh terusin…terusin…
Kemudian diapun menjerit dan mengeluarkan cairan yang menyemprot mukaku.
Lama tidak merasakan ini dan kamipun berpelukan.
Saat suaminya datang tidak ada rasa cemburu sedikitpun dihati ini. Aku ikut senang. Terkadang kami jalan bertiga bahkan akhirnya suaminya menjadi salah satu costumer bisnis aku.
Hubungan kami makin erat, dan kami tetap mencintai tetapi cinta yang lain.
Sampai kemudian dia memutuskan untuk ikut suaminya.
Itulah akhir dari cerita aku. Walaupun sudah lama berlalu tetapi aku tetap keep dia di hati as my best friend, as my sister, as my lovely u are the best for me.
Aku senang kamu bahagia.
Dan semoga aku segera menemukan kebahagiaan aku juga.
BERCINTA DENGAN SEKRETARIS PRIBADI
POKERBOLA - Selepas sekolah aku kuliah di akademi sekertaris. Aku pisah dengan keluarga dan tinggal sendiri. Tak jarang rasa sepi terasa saat jauh dari keluarga. Untunglah aku memiliki teman akrab yang dapat menghilangkan rasa sepi. Namanya Selly ia teman kampusku dan kebetulan kami satu kost.
Selly memang supel. Ia memiliki banyak teman dan kenalan. Sering ia memperkenalkan aku dengan teman-temannya. Tak jarang teman prianya mencoba untuk berpacaran denganku. Katanya sih aku cantik dan memiliki penampilan yang begitulah. Akhirnya aku berpacaran dengan kenalan Selly. Namanya Daniel. Ia sangat gigih untuk meluluhkan hatiku. Bisa dibilang temanku Selly memiliki pergaulan yang bebas. Memang ia memiliki banyak pacar dan tak jarang mereka menginap di kamar Selly.
Memang tempat kostku bagus dan bebas. Dan terkadang pacarku sering pulang malam. Tapi kami hanya mengobrol dan tidak melakukan apa-apa. Mungkin, karena Daniel cara berpacarannya jauh, terkadang ia mencoba untuk menaklukan tubuhku.
Baru kali aku menerima pria sebagai pacarku. Awalnya Daniel mencoba untuk mencium bibirku. Tapi aku menghindar dan menolaknya. Tapi karena usahanya yang gigih akhirnya bibir ini kuberikan. Hampir setiap bertemu ia melahap bibirku. Seakan tiada pertemuan tanpa berciuman. Tahap demi tahap usahanya berhasil membuatku memberikan tubuhku. Mulai dari bibir, dadaku dan kepolosan tubuhku yang tanpa sehelai pakaian. Kecuali keperawananku.
Sering Daniel meminta keperawananku. Tapi kutolak, kuanggap sudah semua kuberi. Kecuali satu ini. Setiap bertemu tubuhku selalu polos, karena Daniel selalu melucuti pakaianku. Awalnya aku merasa canggung. Awalnya aku hanya kasihan, mungkin karena kelembutan Daniel aku malah menyukai hal ini.
Aku memiliki komputer di kamar kostku. Sering Daniel membawakan film. Tapi lama-lama aku diajak nonton film XX. Awalnya aku risih, karena merasa lihat tubuh sendiri. Aku jijik melihat adegan-adegan itu. Tapi karena Daniel memberikan kelembutan disaat kami menonton, perlahan aku suka. Kuanggap sebagai pelajaran. Beberapa lama kemudian aku mempraktekkannya. Aku mencontoh beberapa adegan dan aku menyukainya. Sampai kuberikan liangku, tapi aku tetap perawan karena hanya liang belakangku yang kuberikan. karena kasihan terhadap Daniel yang menginginkan bersetubuh denganku.
Awalnya aku agak risih dan aneh. Tapi rasa nikmat yang kurasakan malah membuatku ketagihan. Sampai-sampai aku beronani saat kusendiri. Makin diasah rasanya aku makin butuh. Sampai kurobek sendiri selaput daraku dengan jari-jariku. Daniel tidak tahu hal ini. Kurasakan kenikmatan yang berbeda disaat liang vaginaku dimasuki sesuatu.
Saat malam minggu, Daniel dan aku bercumbu seperti biasanya. Sampai kami benar-benar terangsang dan sodomi kami lakukan. Aku menikmatinya, entah Daniel. Beberapa kali kurasakan semburan Daniel di liang anusku. Sampai-sampai liangku sangat licin. Akhirnya aku kelelahan dan kulihat Daniel ke kamar mandi. Sesaat kuterlelap. Beberapa lama kuterlelap. Sesaat kutersadar dan kurasakan kakiku mengangkang lebar. Terasa sentuhan yang lembut merangsang daerah sensitifku. Dengan reflek, dada dan daguku terangkat tinggi. Ah, birahiku mengalir di dalam darahku. Sesaat nafasku berburu, kumendesah. Kemudian kurasakan tubuhku dipeluk. Kurasakan bibir vaginaku tersentuh sesuatu. Perlahan suatu benda memasuki liang vaginaku. Sekejap kutahan nafas dan kurasakan nikmat seiring benda yang memasuki liangku. “Ooouuhh,” terucap seiring liangku tertancap dalam. Mataku tak dapat kubuka lebar karena kunikmati kejadian ini. Perlahan terlihat sosok Daniel.
Kurasakan Daniel mengeluar-masukkan miliknya perlahan. Mengapa kurasakan kelembutan dan kenikmatan dari sentuhannya. Beberapa lama kurasakan semburan di liangku. Aahh, rasanya, membuat rasa yang.. Sesaat kemudian kurasakan puncakku. Kudekap erat Daniel dan sesaat tubuhku menegang. Setelah itu kubenar-benar tersadar dan rasa bingung, sedih, kecewa dan senang bercampur aduk di hatiku. Rasa malu tersimpan di hatiku. Harga diriku sesaat hilang bersama persetubuhan itu. Beberapa kali Daniel menyetubuhiku. Tapi rasa klimaks yang kurasakan setiap berhubungan, membuatku ketagihan.
Akhirnya aku lulus kuliah. Dan Aku menjadi sekertaris. Bosku baik. Ia sudah menikah. Kurasakan orangnya lembut. Entah mengapa, lambat laun aku menyukainya. Perasaan sama kurasakan dari sikapnya. Kulihat ia rajin datang. Kami sering bersama dan kami sering mengobrol di dalam ruangannya. Awalnya kami berbincang. Akhirnya kami saling terbuka dan membicarakan tentang hal yang pribadi. Sesaat kami bertatapan. Rasa getaran yang kuat mengalir di tubuhku di saat dekat dengannya
. Mungkin karena rokku yang pendek membuat ia terangsang. Beberapa kali tangannya menyentuh pahaku. Awalnya aku ingin menolaknya. Tapi apa salahnya, maka kubiarkan. Karena sikapku ini Pak Rian semakin sering memegang pahaku. Tak jarang ia mengelus-elus dan bertahap menyusup ke selangkanganku. Sebenarnya aku ingin menepis perbuatannya. Mungkin karena aku menyukai, sentuhannya maka kubiarkan. Tampaknya ia merasa dapat lampu hijau dariku. Tangannya awalnya meraba pahaku dan akhirnya merembet ke selangkanganku, aku bingung haru berbuat apa. Aku hanya bisa diam, kemudian ia mengangkat rokku, merangkulku. Bibirnya menciumi kupingku, leher dan bibirku. Aku bingung harus bagaimana.
Hari-hari berikutnya ia melakukan hal ini terus. Suatu saat ia mencumbuku, kurasakan tangannya perlahan mengelus dari pahaku, pinggul, perut dan naik ke dada. Sesaat kami terdiam. Rasa campur aduk di hatiku. Serasa aku ingin memarahinya. Tapi aku tak dapat. Ia atasanku, dan sebetulnya aku menyukai hal ini.
Karena kuterdiam ia semakin menjadi. Dadaku ia raba-raba lalu diremasnya. “Dadamu empuk ya, besar loh,” bisik bosku. Kurasakan di dadaku mengalir rangsangan. Putingku terasa mengeras, nyilu dan nikmat. Rasanya kusuka. Kutak sanggup bergerak karena birahiku muncul. Beberapa lama kurasakan tangannya menikmati dadaku. Kemudian bibirku juga ia nikmati. Kurasakan bibirku dilahap dengan nafsunya. Beberapa lama mulai kurasakan kelembutannya. Kubalas kecupan bibirnya, lidahnya dan hisapan terhadap air liurku.
Beberapa lama kurasakan tanganku mulai sanggup bergerak. Perlahan kugerakkan dan kuhampiri pipinya. Lalu pipinya tersentuh tanganku dan kuelus-elus sebagai tanda kumenikmatinya. Kurasakan kemejaku keluar dari rokku. Ternyata Pak Rian mengangkatnya. Tangannya kurasakan menyusup dari perutku. Kurasakan sentuhan tangannya membuai perut lalu naik mendekap braku. Terbuai kulit dadaku. Beberapa lama kemudian tangannya menelusuri tali BH-ku dan akhirnya sampai dikaitan BH-ku.
Kurasakan tangannya mengelus punggungku sesaat. Lalu kurasakan kaitan bra-ku lepas. Pak Rian melepaskannya. Kurasakan jemarinya berjalan meraba punggunku dan akhirnya mendekap buah dadaku. “Tanpa bra lebih besar, lebih terasa,” bisik Pak Rian. Kurasakan tubuhku memasrah. Jemarinya memainkan putingku. Rasanya nyilu dan nikmat. Sekilas wajahku ke samping dan tertunduk. Perlahan kuhisap dan kugigit lembut bibir bawahku. Dadaku terangkat dengan reflek, seakan kusodorkan ke Pak Rian.
Kurasakan tangan Pak Rian keluar dan tak menyusup lagi. Bibirku ia kecup lagi. Perlahan tangannya kurasakan menyusup di celah lengan kemejaku. Tali bra-ku kurasakan ditariknya keluar sampai ke ujung jemariku tanganku. Sesaat kemudian taliku yang satunya juga ia lepaskan, kini tiada yang menahan bra-ku. Kemudian tangannya menyusup ke dalam kemejaku lagi. Penyangga buah dadaku kurasakan turun dan lepas keluar ditarik tangannya. Sesaat kurasakan putingku menyentuh langsung kemejaku. Lalu tangannya meremas-remas kemejaku yang menutupi langsung buah dadaku. Kemudian kurasakan putingku ia gelitik dengan lembut. Aahh, nikmat rasanya.
Sesaat terdengar dering telpon. Kami terhenti dan Pak Rian segera mengangkatnya. Sesaat terlihat kedua titik dadaku oleh mataku. “Kamu temenin aku nanti ya!” sahut Pak Rian kepadaku saat berbincang di telepon. Aku rasa aku harus memakai bra-ku lagi. Tidak enak bila terlihat karyawan lain. Sesaat kulepaskan kancingku satu persatu dan kulepaskan kemejaku sambil membelakangi Pak Rian. Sesaat kurasakan tubuhku didekap dari belakang. “Badan kamu bagus,” sambil tangannya meraba dan meremas buah dadaku lagi. Telingaku ia cumbu. Kemudian ia ajak lagi aku ke tempat duduk. Lalu ia duduk dan kedua tanganku ditarik sehingga aku mendudukinya secara berhadapan. Rokku terangkat dan celana dalamku terlihat jelas. Mulutnya segera melahap dadaku. Salah satu tangannya memelukku dan satunya lagi menikmati dadaku yang tersisa. Mataku terpejam sambil menikmati sentuhannya.
Bberapa lama ia menikmati buah dadaku. Ada teleon berbunyi. “Uah dulu, kita berangkat ya,” ucapnya setelah beberapa lama melahap tubuhku. Aku segera memakai dan merapikan pakaianku. Ia memintaku menemaninya rapat di pantai utara Jakarta. Setelah itu kami menyempatkan berbincang sambil melihat matahari terbenam di ujung laut.
Perlahan sore selesai dan mendung perlahan menutupi langit. Angin perlahan berhembus kencang dan gerimis turun. Akhirnya kami bergegas masuk kemobil. Perlahan hujan turun. Suasana di luar terlihat gelap. Rasa tenang aku rasakan di dalam mobil. Setelah lama mengobrol di mobil. Kulihat di sekitar mobil banyak yang berhenti parkir dan kadang ada yang bergoyang.
Mata Pak Rian kulihat menatapku. Lalu ia pindah ke tempat dudukku. Bibirnya segera melahap bibirku. Aku tak mau kalah dan kami bersaing. Kurasakan buah dadaku diraba tangannya, lalu diremas-remas dengan lembut. Sesaat kemudian kancing bajuku kurasakan dilepas satu-persatu, rasanya tali bra-ku juga dilepas. Dadaku ia telajangi. Perlahan bibirnya turun dari bibir, leher, pundak, sesaat senderan kursiku ia rebahkan dan kemudian buah dadaku ia lahap.
Daguku terangkat dan dadaku membusung ke mulutnya. Kurasakan nikmat, terkadang wajahku kuhadapkan ke kanan atau ke kiri sambil kugigit lembut bibir bawahku. Kurasakan pahaku ia raba dan kemudian ke celana dalamku. Beberapa lama kemudian kurasakan celana dalamku ia tarik dan lepaskan. Rokku juga tak ketinggalan. Kurasakan hembusan AC mobil membuai tubuhku bersama jemari Pak Rian yang meraba-raba hampir seluruh tubuhku dengan kehangatannya.
Buah dada dan bibirku ia gilir. Kurasakan tangannya turun dari perut ke tonjolan sensitifku. Lalu ia mainkan dan perlahan jarinya meraba bibir vaginaku yang sudah basah. Sesaat kurasakan liang vaginaku ia masuki dengan jarinya. “Ooouuhh,” ucapku sesaat. Kurasakan jarinya keluar-masuk di liangku. Beberapa lama kurasakan tubuhnya menindih tubuhku. Kurasakan ia membuka celananya. Kakiku ia buat melebar, lalu kurasakan bibir vaginaku tersentuh miliknya, sesaat liangku ia tancap sampai dalam dengan mudah. “Oouuhh,” ucapku sesaat lagi. Kurasa aku sudah basah. Tanpa tahapan ia langsung mengeluar-masukkan miliknya dengan cepat.
Kutaksanggup menahan rasa nikmat. Desahan demi desahan akhirnya terlepas dari mulutku. Tubuhku menjadi pasrah menikmati sentuhannya. Rasa nikmat membuatku cepat mencapai puncak. Beberapa lama kemudian kurasakan miliknya menyembur liang vaginaku. “Ooouuhh.. aahh..” terlepas dari mulutku seiring menikmati semburannya yang terasa hangat di liangku. Akhirnya kami istirahat sesaat. Mungkin karena suasana yang nikmat, kami akhirnya mengulangi beberapa kali.
Keesokannya ia menjadikan aku merangkap sekretaris pribadinya. Ia meminta aku tinggal di apartermen barunya. Kami semakin sering berhubungan. Mungkin hampir setiap hari. Aku juga membantunya memperlicin kerjsama dengan klien usahanya. Dari situ aku banyak mengenal orang-orang tertentu. Dan kunikmati petualangan ini. Mungkin karena aku menyukainya, aku bersedia jadi istri mudanya.
PENGALAMAN SEORANG DEN KECIL
POKERBOLA - Siang itu sepulang dari sekolah aku langsung menuju rumah untuk bermain playstation yang baru dibelikan ayah untukku. Saat itu keadaan rumah cukup lengang karena ayahku berada di kantor sementara ibuku sedang mengunjungi saudaranya yang berada di luar kota selama tiga hari. Di rumah cuma ada seorang pembantuku yang sudah cukup tua usianya.
“Den kecil,” begitu pembantuku biasa memanggilku yang memang saat itu aku baru berusia 13 tahunan.
“Ada apa bik?”tanyaku.
“Begini den, tadi bibi dapet kabar dari orang rumah, katanya anak bibi yang kecil sakit panas jadi paling bibi harus cepat pulang sekarang.”
Aku pun jadi bingung lalu aku bilang,
“Bi’ mendingan ngomongnya sama Mbak Wi aja, mungkin bentar lagi dia pulang,” begitu jawabku.
Mbak Wi adalah adik dari ayahku yang tinggal bersama keluarga kami di Jakarta untuk bersekolah dan saat itu ia masih duduk di kelas 3 SMA. Ia juga seorang yang cantik dan sangat menarik karena banyak teman laki-lakinya yang berkunjung ramai-ramai untuk mengobrol dengannya di teras depan rumahku, atau mengajaknya pergi jalan-jalan bareng, tapi ia tidak pernah mau. Menurutku ia adalah seorang gadis baik-baik. Begitulah, akhirnya si bibi pun setuju dan ia menunggu sambil mempersiapkan barang bawaannya sementara aku sibuk bermain dengan playstation baruku.
Tak lama berselang terdengarlah bunyi bel dan si bibi kulihat dengan tergopoh-gopoh membuka pintu sambil berharap bahwa yang datang adalah mba Wi.
“Hai bi, ada apa? kok mukanya kusut begitu?”
Kudengar mba Wi berbicara dan bibi pun menceritakan apa yang terjadi.
“Oh, kalau gitu sebentar ya bi biar saya telepon bapak di kantor jadi bapak bisa memutuskan apa bibi boleh pulang atau tidak.”
Setelah itu kulihat mba Wi menelepon dan menceritakan semuanya pada ayahku di kantor dan akhirnya diputuskan bahwa si bibi boleh pulang selama tujuh hari dan kemudian harus kembali bekerja lagi. Mendengar hal itu terlihat si bibi senang sekali dan segera mengambil semua barang bawaannya yang tidak banyak karena sebagian besar barangnya masih ada di kamarnya, pamit padaku dan mba Wi lalu pergi. Dari sinilah cerita itu bermula..
Aku masih saja asyik bermain dengan playstation baruku yang keren itu sampai aku benar-benar lupa bahwa aku belum mengganti baju seragam sekolahku sementara mba Wi sudah masuk ke kamarnya. Aku masih tenggelam dalam permainan playstationku sampai aku dikejutkan oleh suara keras mba Wi,
“Joon, kamu benar-benar bandel ya!” masa pulang sekolah tidak ganti baju, cuci tangan dan cuci kaki, bagaimana sih kamu?”
Aku tersentak kaget dan hanya bisa berkata ,
“maaf mba Wi, Jon lupa.”
“kalau begitu sini mba Wi gantiin bajumu,”kata mba Wi sambil menuntunku ke kamarnya.
Aku heran mengapa ke kamarnya. Sesampainya di kamar mba Wi langsung mengunci pintu kamar lalu membuka baju dan celana seragamku sehingga saat itu aku telanjang bulat di hadapannya. Agak malu juga rasanya karena ia memandangi tubuh telanjangku dengan pandangan yang menurutku aneh. Aku bertanya
“mba Wi mana baju gantinya soalnya Jon mau cepat-cepat main playstation lagi di luar.”
“Sabar sayang,” begitu kata mba Wi dan ia melanjutkan
“Coba Jon duduk di ujung tempat tidurnya mba Wi yang dekat ke TV jadi Jon bisa nemenin nonton film bareng mba Wi.
Segera aku duduk di ujung tempat tidur, kedua kakiku menjuntai ke lantai dan masih dalam keadaan telanjang bulat aku bertanya
“Memang kita mau nonton film apa mba Wi?”
Ia pun menjawab bahwa kita akan menonton film pendidikan. Tak lama setelah itu mba Wi membawa kaset video dan segera menyetelnya dan setelah itu ia duduk di sebelahku. Pertama ia duduk sambil satu tangannya dirangkulkan ke pundakku sementara yang satunya lagi mulai mengelus-elus paha kananku. Aku diam saja sambil menunggu munculnya gambar di TV.
Tak lama kemudian gambar di TV itupun muncul yang berarti film sudah dimulai. Aku melihat di film tersebut ada keluarga bule yang terdiri dari ayah!, ibu dan seorang anak perempuan kecil yang cantik yang umurnya sebaya atau mungkin lebih muda dariku sedang sarapan pagi, di mana ayah dan ibunya sudah siap dengan pakaian kerjanya untuk berangkat ke kantor. Persis ketika mereka mau berangkat bel pintu rumah berbunyi dan yang datang adalah pembantu rumah tangga mereka atau mungkin baby sitter entahlah pada saat itu aku tidak tahu, tapi yang jelas wanita remaja yang datang itu mengenakan semacam baju seragam.
Setelah kedua orang tua anak itu pergi, kulihat si wanita remaja tadi sibuk bebersih rumah dan..tiba-tiba, mba Wi mempercepat video tersebut karena katanya bukan ini yang akan diperlihatkannya padaku. Ia masih tetap mempercepat video tersebut sampai adegan di mana si wanita remaja tadi menggendong si anak perempuan kecil yang kali ini terbalut dengan handuk tersebut keluar dari kamar mandi menuju ke kamar orang tuanya yang terdapat tempat tidur besar. Wanita remaja tadi segera melepas handuk dan membaringkan tubuh si anak perempuan kecil telanjang tadi di tempat tidur dan mulai menciumi bibir si anak perempuan kecil tersebut sambil kulihat tangannya mengelus paha dan mulai memainkan kemaluan si anak dengan jarinya.
Baru kali ini aku melihat kemaluan anak perempuan kecil, masih gundul dan di tengahnya ada belahan yang bisa sedikit dilebarkan dengan jari. Aku bisa melihat semuanya dengan jelas karena sebelum itu kamera telah memperlihatkannya dari dekat. Kulihat mba Wi tersenyum sementara tangannya masih mengusap pahaku. Aku mulai bergerak kegelian saat jemarinya juga mulai memainkan burungku. Merasakan aku yang sudah mulai tidak tenang mba Wi berkata,
“Tenang kamu nikmati saja ini sangat enak kok.”
Aku tidak berkata apa-apa selain hanya berusaha menikmati sambil menonton film tersebut. Sementara kulihat lagi di layar, wanita remaja tadi kini menjilati kemaluan si anak perempuan kecil dan kemudian menghisapinya dengan mulutnya, dan pada saat itu tanpa kusadari mba Wi sudah berada di lantai sementara kepalanya sudah menghadap ke burungku yang sudah berdiri tegak, ia berkata sebaiknya kamu sekarang tiduran telentang di kasur tenang dan nikmati saja.
Mba Wi pun mulai menjilati burungku
“..Ooohh..”
Terasa kehangatan dan kenikmatan saat lidahnya bermain-main di lubang burungku yang kebetulan saat itu aku sudah disunat ” Aaahh..”
Aku tetap duduk dan tidak menuruti keinginannya karena menurutku film itu sangatlah menarik, jadi aku tetap menonton film itu sambil merasakan nikmatnya kuluman dan sedotan yang dilakukan mba Wi pada burungku. Aku melihat di film itu bahwa anak perempuan kecil itu juga terlihat menikmati apa yang dilakukan si wanita remaja itu padanya. Walaupun sibuk menghisap burungku, ia masih tetap memperhatikanku lalu kudengar mba Wi berkata, “Jon kenikmatan yang perempuan kecil itu rasakan, sama dengan kenikmatan yang kamu rasakan saat ini.
Kata-kata itu merupakan kata-kata yang tak terlupakan untukku, sehingga mungkin sampai saat ini selain menyukai wanita cantik yang seumuran, aku juga sangat menyukai perempuan muda yang cantik atau yang masih sangat muda dan cantik tentunya (Lolita lover). Sementara aku sudah merasa kegelian akibat jilatan, kuluman dan hisapan yang dilakukan mba Wi pada burungku sehingga tanganku yang kupakai untuk menopang badanku, kupindahkan untuk memegang kepala mba Wi akibatnya tubuhku pun telentang di tempat tidur
“..sshh..aahh..mba Wi ..aku ..”
Aku tidak bisa berkata-kata, tanganku mencengkram rambutnya dan mba Wi tahu kalau aku sudah mau mencapai klimaks, ia mempercepat jilatan lidahnya pada burungku yang berada di dalam mulutnya sementara kepalanya turun naik dengan lambat, hal itu membuatku kelojotan tak tentu arah
“..Aauh..sshh..aahh..”
Mba Wi pun memeluk pinggangku dengan erat untuk meredam gerakanku sehingga akhirnya aku merasa bahwa aku akan pipis
“..Aaahh..mba Wi aku mau pipis..ahh..”
Mba Wi bukannya melepaskanku tapi malah semakin erat memeluk pinggangku dan dapat kurasakan hisapannya pada burungku semakin kuat dan juga lidahnya tidak berhenti menggelitik kepala dan lubang kemaluanku dan akhirnya
“..mba Wi..oohh..aku tidak kuat lagi menahan ledakan kenikmatan yang kurasakan..”
Saat itu aku merasa malu karena merasa telah pipis di dalam mulut mba Wi, tapi juga aku masih merasakan sedotan mulut mba Wi pada burungku masih berlanjut sampai tiba-tiba ia melepaskan mulutnya dari burungku dan dengan mulut yang terbuka kepalanya menyusuri badanku sehingga terasa cairan kencing hangatku yang tumpah dari mulutnya mengenai badanku lalu setelah pada jarak yang kira-kira aku bisa melihatnya dengan jelas ia berhenti dan memperlihatkan cairan pipisku yang ada di mulutnya lalu ia menelannya! Aku kaget setengah mati karena kupikir di akan marah besar padaku. Setelah menelannya ia berkata,
“Wah pipisnya anak kecil memang benar-benar nikmat.”
Lalu ia pun menjilati cairan yang jatuh dari mulutnya tadi di badanku sampai bersih dan kembali menjilati burungku untuk membersihkan yang bersisa.
“Nah Jon enak kan rasanya? Mau lagi ngga?” Tanya mba Wi.
Dengan tersipu-sipu aku mengangguk
“Kalau gitu syaratnya jangan bilang siapa-siapa, janji ya!” ujar mba Wi disertai dengan anggukanku.
“Bagus nanti kalau gitu mba Wi kasih hadiah buat kamu,” katanya sambil tersenyum manis sekali padaku sembari mencium bibirku.
“Nah sekarang kamu boleh bobo.”
Mba Wi segera memakaikan pakaian padaku dan menuntuku ke kamar untuk tidur sementara Mbak Wi sendiri sama sekali tidak membuka baju atau roknya selama “menikmati” diriku. Kejadian itu benar-benar membuatku bahagia dan aku dan mba Wi bisa berperan seolah tidak terjadi apa-apa di depan kedua orang tuaku.
BERCINTA DENGAN MOLLY, KAKAK KELASKU
POKERBOLA - Mula mula gue ingin memperkenalkan diri. Nama gue Daron. Gue ada kesempatan belajar di Malaysia karena ayah gue bekerja di sana. Ketika itu gue berumur 15-16 kira-kira kelas 1 SMA. Pertama kali masuk skolah ada upacara bendera. Waktu lagi kenalan ama temen-temen baru ada cewe’ datang dari arah pintu gerbang dengan terburu-buru, soalnya semua murid sudah berbaris. Gue liatin tuh cewe’..”OK jugak nih..”. Setelah gue tanya temen gue ternyata die kakak kelas. Umurnya 17an kira-kira kelas 3 SMA. Namanya Molly.
“Cute juga nama doi”.
Tiba -tiba dari belakang ade rekan sekelas megang bahu gue.
“Ngapain loe nanyain tentang kakak gue?”.
Buset dah, kaget gue. Gue cuma takut dipukulin soalnya die ‘gangster’ di sekolahan.
“Ah..enggak kok. Nanya doank” kata gue dengan gementar.
Balik dari sekolah gue terus ngebayangin tuh cewe. Gue nggak bisa ngilangin die dari pikiran gue. Gila cantik banget. Bibirnya yang kecil dan tipis, buah dadanya yang montok (mungkin boleh dibilang lebih besar dari ukuran teman sebayanya), betisnya yang putih dan mulus, pokoknya absolutely perfect. Gue cuma bisa ngebayangin kalo-kalo die mau ama gue.
Di suatu pagi yang cerah (gue belajar kalimat kayak gini waktu kelas 4 SD), gue ama nyokap pergi ke deretan toko-toko di deket rumah. Maksudnya sih mau nyari toko musik, soalnya gue mau belajar main gitar. Setelah kira-kira 1 bulan baru gue tau bahwa guru gitar gue sama ama adiknya Molly. Terus guru gue tu nyaranin kita berdua ngadain latihan bersama di rumahnya. Gue girang banget. Mungkin ada kesempatan gue ngeliatin wajah cantik kakaknya. Yah.. walaupun kagak “buat” ngeliat wajahnya juga udah cukup.
Waktu liburan semester adiknya (biar lebih gampang gue tulis Jason) ngundang gue ke rumahnya untuk latihan gitar barengan. Terus gue tanya ada siapa aja di rumahnya.
“Gue ama kakak gue doank kok” jawabnya. Wah.. berdebar-debar nih rasanya. Tapi gue juga rasa diri gue sendiri bodoh. Soalnya die aja kagak kenal gue, malahan cuma ngobrol sekali-sekali melalui chatting. Tapi gue ngak peduli.
Jason sebenarnya belom mastiin kapan gue bisa dateng ke rumahnya. Tapi gue ngak peduli dateng ke rumahnya hari itu karena gue cuma ada waktu hari itu. Sampai di depan pagarnya gue neken bell. Kelihatannya sepi. Tiba-tiba pagar terbuka (pagar automatik nih) terus kakaknya muncul.
“Nyari siapa?”.
“Jason” gue bilang.
“Wah, maaf, Jasonnya nggak ada tuh.”
Wah.. sekarang baru gue sadar suara Molly ternyata lembut lagi ‘cute’.
“Oh.. ya udah, terima kasih.”
Gue muterin badan gue, belagak mau pergi gitu. Tiba-tiba suara yang lembut itu terdengar lagi.
“Eh.. nggak masuk dulu? Daripada capek bolak-balik mendingan tunggu di sini.”
Wah!! Peluang emas!
Terus gue masuk dan dihidangin minuman dingin ama Molly. Terus dia duduk dihadapan gue ngajakin gue ngobrolin sesuatu. Dalam sekelip mata, pemandangan di depan gue menjadi sangat indah. Kebetulan dia memakai baju T-Shirt tipis dan skirt pendek jadi gue bisa ngeliat bahagian pahanya yang putih mulus. Sekali-sekala gue ngelirik ke bagian dada dan pahanya. Gue rasa sih dia tau tapi dia belagak nggak peduli.
“Kapan Jason balik?” tanya gue.
“Nggak tau kayaknya sih nanti jam 6″
Gue ngelirik jam tangan gue. Sekarang jam 2 petang.
Kira-kira selama 15 menit kami ngobrol kosong. Tiba-tiba ntah gimana jam di meja sebelahnya jatuh. Kami terkejut dan dia terus membereskan benda-benda yang berselerak. Dari belakang gue bisa ngeliat pinggulnya yang putih mulus. Tiba tiba jeritan kecilnya menyadarkan lamunan gue. Ternyata jarinya terluka kena kaca. Naluri lelaki gue bangkit dan terus memegang jarinya. Tanpa pikir panjang gue isep aja darah yang ada di jarinya. Waktu darahnya udah beku gue mengangkat wajah gue. Ternyata selama ini die ngeliatin gue. Tiba-tiba dia ngomong
“Ron, kok lu ganteng banget sih?”
Gue hanya tersipu-sipu. Terus gue diajakin ke tingkat atas untuk ngambil obat luka. Waktu duduk di sofa, gue usapin aja tuh ubat ke jarinya. Tiba-tiba datang permintaan yang tidak disangka-sangka.
“Ron, cium gue dong, boleh nggak?”.
Gue bengong doank nggak tau mo jawab apaan. Tapi bibirnya udah deket banget ama bibir gue. Langsung gue lumat bibir mungilnya. Dia memejamkan matanya dan gue nyoba untuk mendesak lidah gue masuk ke dalam mulutnya. Dia membalas dengan melumat bibir gue. Tanpa sadar tangan tangan gue udah merayap ke bagian dadanya dan meremas-remas payudaranya yang montok dari luar pakaiannya. Dia mendesah lirih. Dan mendengarnya, ciuman gue menjadi semakin buas.
Kini bibir gue turun ke lehernya dan kembali melumat dan menggigit-gigit kecil lehernya sambil tangan gue bergerak ke arah skirt pendeknya dan berusaha meraba-raba pahanya yang putih dan mulus. Tiba-tiba tangannya membuka resleting celana gue dan coba meraih anu gue. Gue semakin ganas. Gue elus-elus celana dalamnya dari luar dan tangan gue satu lagi meremas-remas payudaranya yang montok. Dia mendesah dan melenguh.
Akhirnya gue berhenti melumat bibir dan lehernya. Gue coba melepaskan t-shirtnya yang berwarna pink. Tetapi tangannya mencegah.
“Ke kamar gue aja, yuk!”
Ajaknya sambil menuntun tangan gue. Gue sih ikut aja. Gue kunci pintu kamarnya dan langsung gue raih t-shirtnya hingga dia hanya mengenakan bra putih dan skirt birunya. Gue kembali melumat bibirnya dan coba membuka kaitan branya dari belakang. Sekarang die bener-bener telanjang dada. Langsung gue lumat payudaranya. Gue remas-remas dan gue jilatin puting kiri dan kanannya.
Tanpa disadari dia mengerang.
“ummh..ahh..!”
Gue malah lebih bernafsu. Tiba-tiba tangannya yang lembut meraih penis gue yang sangat besar. Kira-kira 14 cm panjangnya. Dia langsung mengelus-elus dan mulai mengocok penis gue itu. Gue mengerang
“Ahh..Molly..terusin..ahh!”
Kira-kira 15 menit gue melumat payudaranya. Sekarang gue nyoba ngebuka skirt hitamnya. Setelah terlepas gue tidurin dia di ranjang dan kembali melumat bibirnya sambil mengusap-usap vaginanya dari luar CDnya dan tangan gue yang satu lagi memelintir puting payudara kanannya.
“Ahh.. Daron.. ummhh!” Erangnya.
Akhirnya kami berdiri. Dia melepaskan baju dan celana gue dan meraih penis gue yang sangat tegang. Dia nyuruh gue duduk. Terus dia jongkok di depan gue. Dia nyium kepala penis gue dan menjilatnya. Kemudian die berusaha mengulum dan menghisap penis gue yang besar. Gue mengerang keenakan.
“Ummhh..Molly..!!”
Akhirnya gue nggak tahan dan menyuruhnya berhenti. Gue nggak mau keluar terlalu awal.
Terus perlahan-lahan gue lepasin celana dalam putihnya dan memandang sebuah lubang berwarna merah jambu dengan bulu-bulu yang halus dan tidak terlalu banyak di sekelilingnya. Langsung gue tidurin dan gue kangkangin kakinya. Kelihatan vaginanya mulai merekah. Gue yang udah nggak tahan terus menjilati dan menghisap-hisap bahagian selangkangan dan menuju ke arah vaginanya. Gue isep dan jilatin klitorisnya. Molly menggelinjang keenakan sambil mendesah dan mengerang.
“Awwhh.. uhh.. Darroonn..!!
Tiba tiba orgasme pertamanya keluar. Tubuhnya menggelinjang dan dia menjambak rambut gue dan sprei di ranjangnya.
Kemudian gue melebarkan kedua kakinya dan mengarahkan penis gue ke arah lubang kenikmatannya. Sebelum gue masukkin gue gesekin dulu penis gue di pintu lubang vaginanya. Dia mendesah kenikmatan. Akhirnya gue dorong penis gue ke dalam vaginanya. Terasa agak sempit kerana baru 1/3 dari penis gue masuk. Perlahan-lahan gue tarik lagi dan gue dorong sekuat-kuatnya. Ketiga kalinya baru berhasil masuk sepenuhnya.
“Aawwhh..sakit, Ron!!”
Dia mengerang kesakitan. Maka gue berhenti sejenak nunggu rasa sakit dia hilang. Akhirnya gue mulai bergerak maju mundur. Semakin lama gerakan gue semakin cepat. Terasa penis gue bergesekan dengan dinding vaginanya. Kami berdua mengerang kenikmatan.
“Ahh..Molly..enakk!!”
“Mmhh..awwhh..Ron, terus, cepet lagi!”
Gue semakin bernafsu dan mempercepat genjotan gue. Akhirnya dia menjerit dan mengerang tanda keluarnya orgasme ke dua.
Lantas kami berdiri dan gue puter badannya hingga membelakangi gue (doggy style). Gue tundukkin badannya dan gue arahin penis gue ke arah vaginanya dan gue genjot sekali lagi. Kedua payudaranya berayun-ayun mengikut gerakan genjotan gue. Gue pun meremas-remas pantatnya yang mulus dan kemudian ke depan mencari putingnya yang sangat tegang. Kami berdua banjir keringat.
Gue puter putingnya semakin keras dan payudaranya gue remas-remas sekuat-kuatnya.
“Ahh, Daron..gue pingin keluar..!!” jeritnya.
Terus gue percepat gerakan gue dan die menjerit untuk orgasmenya yang kali ketiga. Gue pikir-pikir gue ni kuat juga ya.. Tapi gue juga merasa mo keluar sekarang. Gue nggak sampai hati ngeluarin sperma gue di vaginanya. Langsung gue cabut penis gue dari vaginanya dan gue puter badannya. Gue arahin penis gue ke mulutnya yang langsung mengulum dan melumat penis gue maju mundur. Gue mengerang kenikmatan
“Akhh..Mol, gue keluar..!!”
Gue semburin sperma gue didalam mulutnya dan ditelannya. Sebagian mengalir keluar melalui celah bibirnya. Terus penis gue dibersihin dan dijilatin dari sisa-sisa sperma.
Kemudian gue ngeliat jam di meja. Pukul 5.30!! Mati kalau nggak cepet-cepet. Selepas kami memakai baju semula dia ngucap terima kasih ke gue.
“Makasih, Ron! Belum pernah gue ngrasa sebahagia ini. Sebenarnya dari pertama kali gue ngeliat loe gue udah suka” Katanya.
“Oh, emang mungkin jodoh kali soalnya waktu ngeliat loe di gerbang sekolah gue juga udah suka.” kata gue.
“Tapi gimana dengan adik loe?”
“Nggak apa-apa, dia juga nggak bakalan marah. Adik gue bentar lagi datang. Jadi latihan bareng nggak?”
“Nggak, ah. Males, udah letih latihan tadi” kata gue sambil tersenyum.
Dia pun balas tersenyum. Akhirnya gue balik rumah dengan perasaan gembira. Mimpi gue udah tercapai.
BURUNG MUDAKU BERNAMA ALEX
POKERBOLA - Sebut saja namaku Haryani, saat menikah aku tidak tahu kalau ternyata suamiku masih berstatus suami sah orang lain, namun belakangan kuketahui nasi sudah menjadi bubur. Pada akhirnya dia pun mengakui kalau sudah punya anak isteri, namun apalah artinya aku yang lemah dan bodoh ini jika harus bersikeras untuk menuntutnya. Kendatipun aku tahu akan sangat menyakiti isteri sahnya, jika ia mengetahui. Suamiku adalah seorang perwira yang mempunyai kedudukan penting di sebuah propinsi (tidak kusebut tempatnya). Usianya sudah mencapai 55 tahun dan aku sendiri baru mencapai 27 tahun. Fasilitas yang diberikan dan ketakutanku lah yang membuatku sangat tak berdaya untuk menentang keberadaanku. Aku dibelikan sebuah villa yang sangat mewah yang terletak tidak begitu jauh dari kota tempat suamiku bertugas.
Semua fasilitas yang diberikan kepadaku sangatlah mewah bagiku, aku mendapatkan sebuah mobil pribadi, telepon genggam dan perangkat entertainment di rumah. Namun ini semua ternyata masih kurang, aku ingin punya momongan, aku ingin dicintai dan disayangi. Kenyataannya aku hanya tempat persinggahan saja. Belakangan kudengar bahwa suamiku juga punya WIL lain selain aku, malahan kadang ia juga jajan kalau sedang keluar kota, kabar ini kudapatkan dari isteri ajudannya sambil wanti-wanti agar aku tutup mulut. Aku sendiri memang sudah kenal dekat dengan keluarga ajudan suamiku, namun demikian sampai saat ini rahasia ini masih tersimpan cukup rapi. Bagaimanapun juga aku kesal dan sedih dengan kondisi seperti ini, sehingga timbul niatku untuk berperilaku serupa.
Pada suatu hari suamiku bertindak ceroboh dengan menitipkan anak bungsunya kepadaku, beliau memperkenalkanku sebagai ipar ajudannya. Anak itu memanggilku Mbak maklum dia masih SMP dan usinya pun masih 14 tahun. Wajahnya, perilakunya persis bapaknya, nilai kesopanannya agak kurang bila dibanding dengan anak-anak di kampungku. Maklumlah ia adalah anak pejabat tinggi. Jam 21.00 bapaknya telepon, meminta Alex (sebut saja nama anak itu begitu) untuk tidur di rumah karena bapak ada urusan. Aku jadi curiga pasti dia ada kencan dengan orang lain. Alex pun belum tidur, ia lagi asyik nonton televisi di ruang keluarga. Akhirnya timbul niat burukku untuk memperdaya Alex, namun bagaimana caranya? aku dihadapkan pada jalan buntu. Akhirnya spontan kumasukkan VCD-VCD porno ke dalam player untuk saya hidangkan kepada Alex. Aku hidupkan oven selama 3 menit yang kebetulan isinya adalah daging yang sudah masak sejak siang tadi.
Langsung saja kurayu dia untuk menyantapnya sehingga kami pun menyantap daging panggang dan sambal kecap bersama-sama. Sambil basa-basi kutanyakan sekolahnya, tampaknya kemampuannya di sekolah biasa-biasa saja, terbukti dengan kekurang antusiasannnya bicara tentang sekolah. Ia lebih suka bicara tentang video game dan balap motor.
Kupegang tengkuknya dan kupijit sambil kukatakan, “Kamu pasti capek, sini Mbak pijitin…” Dia pun diam saja, maklum dia adalah anak yang manja. Kuraih remote control dan kutekan play untuk CD yang pertama, film-filmnya adalah jenis vivid dengan tema seks yang cukup halus. Tampaknya Alex sangat menyukainya, ah pucuk di cinta ulam pun tiba. Sambil kupijit sekujur tubuhnya, kuamati roman mukanya. Kukatakan tidak usah malu, karena itu hanya film saja (tidak sungguhan). Muka Alex tegang, setiap ada adegan orang berpelukan (cuma berpelukan) aku suruh dia telentang untuk pijatan bagian depan. Sambil telentang Alex tetap memperhatikan film yang tampaknya mulai disukainya itu.
Kini acara di film mulai ke adegan yang cukup panas, seorang wanita melepas pakaiannya sehingga tinggal pakai celana dan BH dalam saja. Alex semakin tegang dan agak kupercepat tanganku mengarah ke pangkal pahanya. Pura-pura kupijit pahanya dengan menyentuh kemaluannya, dia terkejut ketika kemaluannya yang tegang kesentuh tanganku. Pucat pasi mukanya, namun kunetralisir dengan mengatakan “Tenang Alex, semua orang sama, adalah hal yang sangat wajar bila seseorang terangsang. Karena semua orang mempunyai nafsu.” “Malu Mbak”, jawab Alex.
Kalau orang banyak malu, tapi Alex kan sendirian cuma sama Mbak. Mbak nggak malu kok. Dengan berkata demikian kubuka bajuku sehingga aku hanya pakai BH saja. Akupun heran juga kagum, anak seumur dia juga bisa tegang dan tampak tidak berdaya, jauh dari sikap sehari-hari yang agak arogan. Namun aku mulai menyukainya tanpa memikir yang jauh ke depan mengingat bapaknya sendiri juga berbuat serupa terhadap saya. Film terus berputar, tubuh Alex terasa hangat malah aku khawatir kalau dia sakit, dia tampak pucat entah takut apa bagaimana, aku tidak tahu.
Alex hanya melirik buah dadaku tanpa berani menatap langsung, dia tetap memperhatikan film dengan seksama. Saat kupegang lagi kemaluannya dia hanya diam saja, tak kusia-siakan kesempatan ini kuremas kemaluan yang berukuran agak kecil itu. Akupun sudah tidak memperhatikan film lagi, kubuka celana Alex dan kuperhatikan kemaluannya. Tampak bersih dan mulai ditumbuhi bulu-bulu halus, aku semakin bernafsu melihatnya. Langsung kuterkam dengan mulutku dan kumulai menjilatnya, Alex hanya terdiam sambil kadang pinggulnya bergerak menikmatinya. Kuhisap kemaluannya dan dia pun teriak Uh.. Mbak.. kubiarkan anak kecil itu menggelinjang, kubimbing tangannya ke payudaraku.
Ah, dia malah meremas kuat sekali. Kumaklumi dia sangat lugu dalam hal ini, aku tidak menyesal malah menyukainya. Aku hisap terus, dia pun semakin bergerak tidak karuan sambil teriak-teriak ah, uh, ah, uh. Kemudian dia teriak keras sambil tubuhnya gemetar disusul oleh cairan hangat dari kemaluannya. Aku telan cairan asin dan pekat ini tanpa rasa jijik sedikit pun, dan dia pun diam lemas terkulai. Kupeluk dia, dan kubisikkan kata-kata, “Enakkan”, sambil aku tersenyum, dia balas pelukanku dan hanya bicara “Mbak..” Aku bimbing dia ke kamar mandi dan kumandikan dengan air hangat, burung kecilku masih tidur dan aku yakin nanti akan bangun lagi.
Kemudian kami pun tidur bersama di depan televisi di atas karpet, dia tampak kelelahan dan tidur pulas. Aku pun puas meski tidak sampai coitus. Menjelang subuh aku bangun, dan kulihat dengan seksama tubuh Alex yang sedang tidur telanjang. Nafsuku bangkit lagi dan kucoba membangunkan burung kecil itu, ternyata berhasil dan kuulangi lagi perbuatan tadi malam dengan pertambahan Alex meningkatkan variasi permainan. Tampaknya Alex mulai mengikuti naruninya sebagai makhluk bernafsu, ia mungkin meniru adegan film tadi malam. BH-ku dibuka dan dijilati, aku pun merasakan kenikmatan dari anak bau kencur, kubayangkan anak dan bapaknya mengerjaiku seperti sekarang, ah tak mungkin. Aku tuntun tangan Alex ke kemaluanku yang sejak tadi malam belum tersentuh sama sekali. Kubimbing tangannya menggesek-gesek kemaluannya dan ia pun memahami keinginanku.
Gerakan-gerakan Alex dan servicenya kepadaku masih sangat kaku, mungkin perlu beberapa kali aku melatihnya. Tiba-tiba ia menarik paksa celana dalamku dan BH-ku pun dilucuti. Kubiarkan dia berkreasi sendiri, tampak wajahnya masih tegang tapi tidak setegang tadi malam dan ia pun mulai tidak sopan kepadaku, ah biarlah. Aku didorong hingga telentang, dan ia pun langsung menindihku. Dicobanya memasukkan burung kecil itu ke dalam kemaluanku, namun berkali-kali ia tidak berhasil. Ia pun semakin penasaran, ah suami kecilku ini mesti banyak belajar dariku.
Kubimbing kemaluannya memasuki kemaluanku dan ia pun menggesek-gesekkannya. Terasa nafsuku merasuk ke sekujur tubuhku, kini penantianku tadi malam hampir tercapai dan ah nikmat sekali, suami kecilku bisa memuaskanku kali ini. Dengan cepat aku bangun dan kuhampiri burung kecil yang masih menantang itu, kuhisap dalam-dalam, dia pun mengerang kenikmatan dan terus menerus kuhisap hingga badannya bergetar dan lagi-lagi air liur burung kecil yang hangat itu menjadi bagian dari dagingku. Hari sudah terang, dan segera kami mandi air hangat bersama-sama. Aku merasa puas dan Alex hanya diam saja, entah apa yang dipikirkan. Menyesalkah? aku tidak tanya. Kenyataannya kisah ini masih berlangsung, sekarang Alex sudah SMA dan masih tetap dalam bimbinganku.
Pagi harinya bapaknya Alex (yang juga suamiku) datang dan dengan tanpa menaruh curiga sedikitpun. Ini adalah pengalaman pertamaku dengan burung muda.
Tuesday, September 7, 2021
PEMERKOSAAN YANG TERBARU
POKERBOLA - Sebelum saya ceritakan kisah-kisah nyata yg terjadi di hidupku, sebelumnya saya perkenalkan dulu. Saya lahir di Jakarta, keturunan cina, umur 28 thn, kerja disalah satu perusahaan swasta sebagai auditor pembukuan dan keuangan, saya ditugasi untuk mengawasi cabang denpasar, jadi saya tinggal disana menempati rumah kontrakan.
Suatu hari saya diberi kabar oleh pacar saya (Wiwi umur 26) yg di Jakarta, bahwa dia mau datang bersama adiknya (Irene umur 22).
Setelah kedatangannya, mereka menginap di kontrakanku (kamar tamu).
Tetapi Wiwi tidak bisa lama, karena dia hanya diberi ijin oleh kantornya 3 hari.
Selama 3 hari saya dan Wiwi selalu ngumpet-ngumpet dari cicinya untuk bermesraan, dan sialnya kita hanya bisa melakukan hubungan sex 1X (kami dulu telah biasa melakukannya sewaktu saya tingal di Jakarta), karena kesempatan untuk itu susah sekali.
Setelah Wiwi pulang, tinggal saya dan Irine yg masih mau liburan di bali.
Pada hari minggu saya ajak dia jalan ke berbagai tempat wisata, pulangnya dia langsung ingin istirahat karena kelelahan. Karena saya belum merasa ngantuk, saya ke ruangan tamu untuk nonton TV, sedangkan dia masuk kamar tidur tamu untuk istirahat.
Setelah acara yg saya sukai selesai, saya melihat jam, ternyata sudah jam 1 pagi, tiba-tiba muncul ide isengku untuk memasuki kamar tidur Irene, dengan perlahan-lahan saya berjalan mendekati pintu kamarnya, ternyata tidak dikunci, saya masuk dan melihat Irene telentang dengan kedua lengan dan paha terbuka, saya langsung mengambil tali plastik dan perlahan-lahan saya melucuti pakaiannya semua, mungkin karena dia terlalu lelah sehingga tidurnya sangat nyenyak sampai tidak tahu apa yg sedang saya lakukan, setelah semua pakaiannya kubuka, saya langsung mengikat lengan dan kakinya ke sudut-sudut ranjang. Ter-populer.com
Tiba-tiba dia terbangun, dan terkejut karena tubuhnya telah telanjang polos dan terikat di ranjang. “Ko lepasin saya”, suaranya gemetaran karena shock. “Cepat lepasin Ko!” Irene mengulangi perintahnya, kali ini lebih keras suaranya. Tubuh telanjangnya telah mambiusku. Aku segera mencopot celana dan celana dalamku dengan cepat. “Ko!” Irene memekik. “Mau ngapain kamu?” Irene terkesiap melihat batang kemaluanku yang sudah berdiri tegak. Kusentuh payudaranya dengan kedua tanganku, rasanya dingin bagai seonggok daging.
“Koko gila luu yah!” Aku merasakan sensasi aneh melihat payudara dan liang kemaluan adik pacarku ini. Jelas beda dengan waktu-waktu dulu kalau mengintip dia ganti baju di kamarnya. Sekarang aku melihatnya dengan cara yang berbeda. “Koko, gua khan adik Wiwi!” Aku menyentuh liang kemaluannya dengan tanganku, lalu menjilatinya.
Setelah puas segera kuletakkan batang kemaluanku di gerbang liang kemaluan Irene. “Ko jangaan!” dia memohon-mohon padaku. “Diam.. cerewet!” aku menjawab dengan sembarangan. Sekali batang kemaluanku kudorong ke depan, tubuhku sudah menjadi satu dengannya. “Iiih.. shiit!” dia mengumpat tapi ada nada kegelian dari suaranya itu. Aku menggoyangkan pinggangku secara liar hingga batang kemaluanku mengocok-kocok liang kemaluannya. “Ahh.. shiit! ah shiit! Ko stop!” Semakin dia mamaki dan mengumpatku dengan ekspresi judesnya itu, semakin terangsang aku jadinya.
Sambil memompa liang kemaluannya aku menghisap puting-puting payudaranya yang agak berwarna pink itu. “Mmmh.. udah jangan Ko!” Irene masih berteriak-teriak memintaku berhenti. “Lu diam aja jangan banyak ngomong”, ujarku cuek. “Ohh shiit!” ujarnya mengumpat. Dia menatapku dengan tatapan yang bercampur antara kemarahan dan kegelian yang ditahan. Sejenak aku menghentikan gerakanku. Kasihan juga aku melihatnya terikat seperti ini. Dengan menggunakan cutter yang tergeletak di meja samping ranjang aku memotong tali yang mengikat kedua kakinya. Begitu kedua kakinya terlepas dia sempat berontak.
Tapi apa dayanya dengan posisi telentang dengan tangan masih terikat. Belum lagi posisiku yang sudah mantap di antara kedua kakinya membuat dia hanya bisa meronta-ronta dan kakinya menendang-nendang tanpa hasil. “Aaahh Ko stop dong.. udah Ko.. gue khan adik Wiwi”, dia memohon lagi tapi kali ini suaranya tidak kasar lagi dan terdengar mulai berdesah karena geli. Nafasnya pun mulai memburu. Aku menjilati lehernya dia melengos ke kiri dan ke kanan tapi wajahnya mulai tidak mampu menutupi rasa geli dan nikmat yang kuciptakan. ” Aduhh sshh Ko udah doong.. hh.. ssh!” suaranya memohon tapi makin terdengar mendesah lirih. Kedua kakinya masih meronta menendang-nendang tapi kian lemah dan tendangannya bukan karena berontak melainkan menahan rasa geli dan nikmat.
Aku menaikkan tempo dalam memompa sehingga tubuhnya semakin bergetar setiap kali batang kemaluanku menusuk ke dalam liang kemaluannya yang hangat berulir serta kian basah oleh cairan kenikmatannya yang makin membanjir itu. Kali ini suara nafas Irene kian berat dan memburu, “Uh.. uh.. uhhffssh.. shiit Koo.. agh uuffsshh u.. uhh!” Wajahnya semakin memerah, sesekali dia memejamkan matanya sehingga kedua alisnya seperti bertemu. Tapi tiap kali dia begitu atau saat dia merintih nikmat, selalu wajahnya dipalingkan dariku. Pasti dia malu padaku. Liang kemaluannya mulai mengeras seperti memijit batang kemaluanku. Pantatnya mulai bergerak naik turun mengimbangi gerakan batang kemaluanku keluar masuk liang kenikmatannya yang sudah basah total.
Saat itu aku berbisik “Gimana, lu mau udahan?” Aku menggodanya. Sambil mengatur pernafasan dan dengan ekspresi yang sengaja dibuat serius, dia berkata, “I.. iiya.. udah.. han yah Ko”, suaranya dibuat setegas mungkin tapi matanya yang sudah sangat sayu itu tidak dapat berbohong kalau dia sudah sangat menikmati permainanku ini. “Masa?” godaku lagi sambil tetap batang kemaluanku memompa liang kemaluannya yang semakin basah sampai mengeluarkan suara agak berdecak-decak. Ter-populer.com “Bener nih lu mau udahan?” godaku lagi. Tampak wajahnya yang merah padam penuh dengan peluh, nafasnya berat terasa menerpa wajahku. “Jawab dong, mau udahan gak?” aku menggodanya lagi sambil tetap menghujamkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya.
Sadar aku sudah berkali-kali bertanya itu, dia dengan gugup berusaha menarik nafas panjang dan menggigit bibir bagian bawahnya berusaha mengendalikan nafasnya yang sudah ngos-ngosan dan menjawab, “Mmm.. iya.. hmm.” Aku tiba-tiba menghentikan gerakan naik turunku yang semakin cepat
“Lho katanya udahan”, kata-kataku membuat Irene tidak mampu berpura-pura lagi.
Mukanya mendadak merah padam dan setengah tersipu dia berbisik, “Ah shiit Koo.. uhh.. uhh.. swear enak banget.. pleasee dong terusiin yeeass!” belum selesai ia berkata aku langsung kembali menggenjotnya sehingga ia langsung melenguh panjang. Rupanya perasaan malunya telah ditelan kenikmatan yang sengaja kuberikan kepadanya. “Ah iya.. iiya.. di situ mmhh aah!” tanpa sungkan-sungkan lagi dia mengekspresikan kenikmatannya. Selama 15 menit berikutnya aku dan dia masih bertempur sengit. Tiga kali dia orgasme dan yang terakhir betul-betul dahsyat kerena bersamaan dengan saat aku ejakulasi. Spermaku menyemprot kencang sekali bertemu dengan semburan-semburan cairan kenikmatannya yang membanjir. Irine pasti melihat wajahku yang menyeringai sambil tersenyum puas. Senyum kemenangan.
Aku melepaskan ikatannya. Dia kemudian duduk di atas kasur. Sesaat dia seperti berusaha menyatukan pikirannya.
“Huuhh, kamu hebat banget sih Ko, sering yach melakukan dengan Wiwi”
“Enggak juga koq!”
“Alah, sama setiap cewek yang kamu tidurin juga jawabannya pasti sama”
“Keperawanan lu kapan diambil?” tanyaku
“Sewaktu pacarku ingin pergi ke Amerika untuk kuliah, saya hadiahkan sebagai hadiah perpisahan”
Kemudian dia bangkit dengan tubuh yg lemah ngeloyor ke kamar mandi, setelah selesai bersih-bersih Irene kembali lagi ke kamar.
Di depan pintu kamar mandi kusergap dia, kuangkat satu pahanya dan kutusuk sambil berdiri. “Aduh kok ganas banget sih Lu!” katanya setengah membentak. Aku tidak mau tahu, kudorong dia ke dinding kuhajar terus vaginanya dengan rudalku. Mulutnya kusumbat, kulumat dalam-dalam. Setelah Irene mulai terdengar lenguhannya, kugendong dia sambil pautan penisku tetap dipertahankan. Kubawa dia ke meja, kuletakkan pantatnya di atas meja itu. Sekarang aku bisa lebih bebas bersenggama dengan dia sambil menikmati payudaranya. Sambil kuayun, mulutku dengan sistematis menjelajah bukit di dadanya, dan seperti biasanya, dia tekan belakang kepalaku ke dadanya, dan aku turuti, habis emang nikmat dan nikmat banget. “aahh.. sshh.. oohh.. uugghh.. mmhh”, Irene terus meracau.
Bosen dengan posisi begitu kucabut penisku dan kusuruh Irene menungging. Sambil kedua tangannya memegang bibir meja. Dalam keadaan menungging begitu Irene kelihatan lebih aduhai! Bongkahan pantatnya yang kuning dan mulus itu yang bikin aku tidak tahan. Kupegang penisku dan langsung kuarahkan ke vaginanya. Kugesekkan ke clitorisnya, dan dia mulai mengerang nikmat. Tidak sabar kutusukkan sekaligus. Langsung kukayuh, dan dalam posisi ini Irene bisa lebih aktif memberikan perlawanan, bahkan sangat sengit. “Aahh Koo Akuu mmoo.. kkeelluuarr laggi..” racaunya. Irene goyangannya menggila dan tidak lama tangan kanannya menggapai ke belakang, dia tarik pantatku supaya menusuk lebih keras lagi.
Kulayani dia, sementara aku sendiri memang terasa sudah dekat. Irene mengerang dengan sangat keras sambil menjepit penisku dengan kedua pahanya. Saya tetap dengan aksiku. Kuraih badannya yang kelihatan sudah mulai mengendur. Kupeluk dari belakang, kutaruh tanganku di bawah payudaranya, dengan agak kasar kuurut payudaranya dari bawah ke atas dan kuremas dengan keras. “Eengghh.. oohh.. ohh.. aahh”, tidak lama setelah itu bendunganku jebol, kutusuk keras banget, dan spermaku menyemprot lima kali di dalam. Ter-populer.com
Dengan gontai kuiring Irene kembali ke ranjang, sambil kukasih cumbuan-cumbuan kecil sambil kami tiduran. Dan ketika kulihat jam di dinding menunjukan jam 02.07. Wah lumayan, masih ada waktu buat satu babak lagi, kupikir. “rine, vagina dan permainan kamu ok banget!” pujiku. “Makasih juga ya Ko, kamu juga hebat”, suatu pujian yang biasa kuterima!
Setelah itu kami saling berjanji untuk tidak memberi tahu cici dan pacarnya yg sedang kuliah di Amerika. Selanjutnya kami selalu melakukannya setiap hari sampai dia pulang ke Jakarta.
MAMA ADALAH BUDAK SEK AKU
POKERBOLA - Sudah lama aku menyimpan hubunganku dengan kakak tiriku. Mbak Afif sangat menikmati setiap permainan seks yang kami lakukan. Kami melakukannya tanpa sepengetahuan ibuku. Tujuanku sebenarnya adalah untuk menghukum ibu yang sudah berbuat tidak adil terhadap mbak Afif. Dan kesempatan itupun tiba.
Aku saat ini sudah SMA. Dan mbak Afif juga badannya makin dewasa. Dadanya makin montok dan tubuhnya makin seksi. Yang aku heran adalah aku selalu menyemprotkan maniku ke dalam rahimnya, tapi sampai sekarang ia tak hamil-hamil, padahal aku berharap ia hamil, dan dari hasil hubunganku itu bisa menyelamatkan mbak Afif dari deritanya, tapi ternyata tidak begitu. Aku berhubungan dengan mbak Afif tidak setiap hari, sebab kami masih sekolah dan ada orang tua kami di rumah. Aku melakukan kalau sempat aja, tapi setiap permainan kami makin hot.
Hari itu adalah aku masih di kelas 1 SMA. Pulang dari sekolah, aku hanya mendapati mbak Afif yang ternyata juga baru saja pulang. Aku langsung masuk ke kamarnya, kamar kami sekarang sudah terpisah, tapi aku masih sering main ke kamarnya, dan dia juga ke kamarku. Aku langsung peluk dia dari belakang.
‘Mbak, Rendy kangen nih’, kataku. Ia menoleh sambil tersenyum.
Aku melepaskan celanaku dan celana dalamku. Dan aku rebahan di tempat tidur. Seakan tahu maksudku, mbak Afif segera memegang penisku, lalu ia memasukkannya ke mulutnya. Ia hisap dan ia kocok dengan mulutnya, sementara ia membuka pakaian sekolahnya. Kini dihadapanku ada seorang gadis yang hanya memakai pakaian dalam sambil mengulum penisku. Ohh….nikmat sekali.
Aku menikmati setiap hisapannya, Dan terkadang ia menjepit penisku di tengah dadanya. Ia suka melakukan itu. Siang itupun yang terjadi adalah, mbak Afif mengoralku dan memberikan kepuasan terhadapku. Peniskupun mulai keras. Sudah lumayan lama sih ngulumnya, aku mau sampai, aku cengkram pundak mbak Afif. Ia faham dan mulai mempercepat kocokan mulutnya, dan
AAAHHHH…..crot..crot…crot… kusemprotkan di dalam mulutnya. Ia menghentikan kocokannya, sambil perlahan melepaskan penisku dari mulutnya. Ia mengurut penisku, sedikit sperma tampak keluar dari ujung penisku. Ia memuntahkan spermaku ke penisku. Oh….bercampur air liurnya membuatku puas, penisku serasa disiram air hangat.
‘Dek Rendy puas?’, tanya mbak Afif. ‘Datang-datang koq langsung kepengen’.
‘Iya nih mbak’, jawabku.
Ia mengambil tisu dan membersihkan spermaku. Kakakku sudah sangat ahli dalam memuaskanku. Dan aku ingin tahu bagaimana caranya biar ibuku takluk padaku. Dan mungkin aku punya rencana.
Keesokan harinya, ibuku tidak pergi ke kantor. Ia mengeluh sakit. Sedangkan mbak Afif berangkat sekolah. Aku juga tidak masuk sekolah dengan alasan sakit. Pokoknya hari ini aku ingin ibuku takluk kepadaku.
Langkah pertama adalah aku ke kamar ibu.
‘Lho, ma, nggak berangkat?’, tanyaku pura-pura tidak tahu.
‘Mama lagi flu nih, nggak enak body’, jawabnya.
Mamaku itu walaupun usianya sudah hampir 40, tapi boleh dibilang ia sangat menjaga tubuhnya. Ia masih seksi, bokongnya masih naik dan dadanya masih montok. Aku sama sekali tak melihat keriput di wajahnya, sepertinya ia rajin merawat tubuhnya. Kebetulan hari itu ayah tiriku sedang ada tugas lama ke luar kota, jadinya aku dan ibuku sendirian di rumah.
‘Waduh…gimana tuh ma?’, tanyaku.
‘Ya akhirnya mama nggak masuk’, jawabnya singkat.
‘Udah mandi ma? Mau Rendy mandiin?’, tanyaku.
‘Belum, dan terima kasih, mama bisa mandi sendiri’, jawabnya.
‘Tapi mamakan sakit, biar Rendy yang mandiin’, kataku merayu.
‘Nggak ah, anak mamikan sudah besar, masak mau mandi bareng mami?’
‘Kan anak sendiri ma, emangnya nggak boleh?’, tanyaku. ‘Takut kenapa-napa ya? Mama ngeres!…’
Ibuku tertawa. ‘Yee, kan Rendy udah punya pacar, ntar pacarnya cemburu lagi.’
‘Pacar? nggak punya tuh ma’, kataku. ‘Kalau boleh sih, biar Rendy yang mandiin mama, kalau nggak juga nggak papa’
Mamaku diam sejenak. Mungkin ia harus berpikir logis. Dan akhirnya jawabnya, ‘Baiklah, mama akan ijinkan, lagipula anak mama ini sedikit genit.’
Dan pucuk dicinta ulam pun tiba. Pertama-tama mama mencopot bajunya, ia memang sedikit lelah, bisa dilihat di matanya. Mamaku benar-benar telanjang di hadapanku, walaupun ia membelakangi aku, aku bisa melihat mulusnya tubuhnya. Mama lalu mengambil handuk piyamanya dan ia pakai.
‘Yuk’, ajak mama. Akupun ikut, aku lepas semua pakaianku dan aku hanya pakai handuk untuk menutupi pinggangku.
Kamipun ada di kamar mandi sekarang. Di dalam bathup, mama membelakangiku dan melepas piyamanya, akupun melepas handukku. Air shower mengucur dari atas. Tubuhku dan tubuh mama tersiram air yang hangat.
‘Sini ma, Rendy gosok’, kataku.
Mama menurut saja. Akupun mengambil sabun dan menggosok punggung mama. Dan perlahan akupun mendekat hingga sekarang kakiku melingkar di pinggangnya, dan penisku menempel di pantatnya. Otomatis penisku menegang. Posisi itu sangat pas untuk dibuat bercinta. Tapi aku tak mau memulainya, aku ingin mama benar-benar takluk padaku. Mama mungkin merasakan penisku yang tegang.
‘Wah, anak mami sudah panas ternyata’, kata mama.’Iyalah ma, normal, wong lihat wanita secantik ini koq’, kataku. Mama tertawa. Akupun mulai mengusap-usap punggung mama. Sambil aku memijatnya.
Mulanya pundak, lalu punggung. Tampak mama sangat menikmatinya. Dan akupun agak sedikit berani menyentuh payudaranya. Mama nggak marah.
‘Ma, bagian belakang sudah nih, bagian depan dong’, kataku.
Mamaku berbalik. Dan, bisa dibilang pertama kali pandangannya tertuju pada batang penisku yang berdiri tegak.
‘Barang anak mami ini ternyata besar juga’, kata mamaku sambil mencubitnya.
‘Aw, ma…’, kataku sedikit manja.
‘Sama mama sendiri koq bisa terangsang sih?’, tanya mama.
‘Lha mau gimana ma, mama masih seksi, masih sintal dan benar-benar mulus’, kataku.
‘Bisa saja kamu’, kata mama.
Aku pun mengusap tubuh mama bagian depan. Aku mengusap dadanya. Awal menyentuh sih, aku agak ragu, tapi aku perlahan menyentuh dada bagian atas, lalu mulai ke bawah, awalnya sih hanya menggosok, tapi kemudian aku sedikit memberikan pijatan. Tampak mama hanya memejamkan mata, serasa menikmatinya. Aku lalu menggosok ketiak mama, tangannya, pahanya, kakinya. Perlu diketahui, posisi penisku dan vagina mama saat itu sangat dekat, aku seakan-akan sudah siap untuk menusukkan penisku kalau aku mau.
‘Sudah ma, gantian dong’, kataku.
Mama seperti tersambar petir. Ia membuka matanya dan agak gugup. Ia mengambil sabun dan menggosok dadaku, perutku dan ia agak canggung untuk menggosok penisku.
‘Kenapa ma?’, tanyaku ketika mama berhenti mau menggosoknya. ‘kasih sabun dong ma’
Mama pun akhirnya menggosok penisku, oh…rasanya luar biasa. Jemari mamaku yang lentik dan bersabun itupun menggosok penisku. Aku pun hanya bisa memejamkan mata dan berkata, ‘Ahh….enak ma…’.
‘Waah, anak mami koq begitu sih?’, kata mama.
‘Ayo dong ma, terusin jangan berhenti pliiisss, sudah terlanjur basah nih’, kataku.
‘Tapi cuma ini aja ya!’, kata mama. ‘Janji!?’
‘Janji deh’, kataku.
Mama pun akhirnya mengurut penisku. Ia sangat profesional sekali, jelaslah, kalau tidak mana mungkin papa tiriku mau dengannya. Punyaku terus dikocok dengan kedua tangannya. Aku tahu mama juga terangsang. Terlihat nafasnya juga seakan memburu. Ia menikmati pemandangan diriku yang terangsang akibat kocokan tangannya.
‘Oh maa…mama sangat seksi….ahh…’, kataku merancau. Mama diam saja. ‘Maa..oh…’.
Aku memberanikan diri untuk menyentuh dadanya. Mama membiarkannya. Aku dikocoknya dengan sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Dan, kalau ini terus-terusan aku bisa jebol nih. Aku melihat mama melihat penisku, ia seakan menikmatinya, kulihat vaginanya yang bersih tanpa rambut itu benar-benar mulai dekat dengan buah pelirku, aku mencoba bergeser sedikit dan akhirnya vagina mama dan buah pelirku bersentuhan. Sensasi ini sungguh nikmat. Mama tampak menikmatinya juga. Ia mencoba menyembunyikannya dengan cara mempercepat kocokan penisku. Rasanya aku mau meledak. Dan….’Ahhh….maaa….oh….’
Spermaku muncrat ke mana-mana. Tampak sebagian ke wajah mama. Nafasku tersengal-sengal dan mama tampak merasa aneh. Aku melihat ke wajahnya, bisa kulihat sedikit sperma menempel di dahinya. Mamaku membersihkannya.
‘Udah ya Ren, anak mami baru saja onani pake tangan mami, ternyata cukup besar juga punyamu’, kata mama.
‘Mami mau merasakan?’, tanyaku sedikit berani.
‘Hush, kamu itu anakku, cukup ini aja!!’, kata mama.
‘Kalau gitu sekarang gantian ma’, kataku.
‘Maksudmu?’
Tanpa babibu, aku langsung menyentuh kewanitaannya. Mamiku agak kaget dan langsung berpegangan pada bathup. Aku menggesek-gesek klitorisnya. Hal yang sama aku lakukan kepadanya seperti dia melakukan padaku. Aku terus menggesek-geseknya sambil kumasukkan jari telunjukku ke dalamnya. Mama tak protes, ia malah menikmatinya, bahkan sekarang Mama benar-benar basah sekali.
‘Oh,…Ren…ackkhh…..penismu besar Ren,…akhhh’, mama mulai merancu. Dan tiba-tiba ia memelukku dan mencengkramku kuat. Aku percepat gesekan tangaku di vaginanya. Iapun menjerit. Nafasnya tersengal-sengal.
Mama nggak ngerasa kalau dadanya menempel di dadaku. Aku keluarkan tanganku dan kulingkarkan di pinggang mama. Penisku menempel di perutnya. Ia seakan bertumpu ke pundakku. Mungkin mama lagi sakit makanya ia capek luar biasa. Lama sekali mama memelukku. Lalu ia kembali ke posisinya semula. Ia menyalakan shower membasahi tubuhnya. Setelah ia membersihkan tubuhnya, ia beranjak dari bathup dan pergi meninggalkanku sendirian.
Kejadian itu pasti diingat mama terus. Malamnya, mama nonton tv di ruang tamu. Mbak Afif ada urusan ke rumah kakaknya. Sepertinya penting dan harus nginap. Jadi lagi-lagi di rumah ini hanya ada aku dan mamaku.
Aku onani di kamarku, sambil membayangkan mama. Aku sengaja melakukannya agar mama melihatku. Biasanya mama tidur jam 21.00. Saat itu sudah jam 21.00, mama mematikan tv-nya dan berjalan ke kamarnya. Saat itu aku sengaja membuka sedikit pintu kamarku agar bsia dilihatnya.
‘Oh mama, aahh..ahhh,…ayo ma, digoyang ma…iya…ahhh’, kataku sambil mengocok penisku.
Mamaku melihat itu. Ia mengintipnya dari pintu. Aku terus beronani hingga spermaku mau keluar. ‘Maaa….Rendy mau sampe nih ma.. keluarin di mulut mama aja ya…ahhh..ahhh…ma…nih ma…’.CRoott… spermaku keluar dan membasahi tanganku. Mamaku melihat itu semua dari pintu, lalu sebelum aku membersihkan spermaku, mama sudah pergi.
Esoknya, mama tampak agak aneh. Kami diam saja di meja makan. Lalu ia bertanya, ‘Ren?’
‘Iya ma?’, tanyaku.
‘Kenapa Rendy berfantasi tentang mami? Bukannya masih ada cewek lain?’, kata mamaku.
‘Habis peristiwa kemarin benar-benar membuat Rendy terangsang ma’, jawabku.
‘Jangan Rendy, aku ini mamamu’, kata mama. ‘Nggak sepantasnya anak sendiri ingin ibunya’
‘Tapi mama kemarin menimatinyakan?’, tanyaku.
‘Jaga mulutmu!’, jawabnya.
‘Udah deh ma, nggak usah munafik’, kataku.
PLAK!! mama menamparku. Aku sedikit frustasi. Lalu aku meninggalkan meja makan dan menuju ke tv. Aku nyalakan video player, setelah agak beberapa lama kemudian muncullah tayangan yang tida diduga oleh mama. Aku sebenarnya memasang kamera di kamar mandi mama, saat mama mengonani aku dan aku menggesek- geseknya. Mama terkejut.
‘Apa itu Rendy? Apa?’, tanya mama.
‘Ini video copy ma, kalau mama nggak mau ini ada di tangan papa sekarang. Maka mama harus turuti kemauan Rendy’, kataku tegas.
‘Apa maksudmu?’
‘Rendy telah mengcopy banyak sekali video ini dan Rendy kirim ke teman-teman Rendy. Jadi kalau terjadi sesuatu dengan Rendy, maka video ini nggak cuma ke papa aja, tapi juga ke teman, dan orang lain, atau mungkin tersebar di internet’, kataku.
‘Kurang ajar kamu ya’, kata mamaku marah. Ia mematikan videonya.
‘Eitt…ingat ma, aku masih punya copy-an dan aku tidak menggertak’, kataku.
‘Apa maumu Ren? Aku ini mamamu!’, katanya
‘Aku tahu, dan aku ingin mami jadi budakku untuk selamanya’, kataku.
Mama tiba-tiba berlutut di hadapanku. ‘Pliss Ren kumohon, jangan lakukan itu…’
Mama tampak menangis. Ia benar-benar tak ingin video itu tersebar ataupun menuruti kemauanku. ‘Simpel aja koq mam, mama turuti aku aja.’
Mama agak berpikir panjang, aku biarkan ia berlutut sambil menundukkan kepala. Tapi aku tak mau menunggu. Aku melepaskan pakaianku satu per satu hingga sekarang aku tak pakai pakaian apapun. Mama melihatku.
‘Mau apa kamu?’
‘Mama, adalah budakku sekarang, terima kenyataan ini deh ma’, kataku.
Mama benar-benar tak bisa apa-apa. Ia hanya pasrah. Akupun makin menguasai keadaan. Mama aku bopong ke sofa. Di sana aku lucuti seluruh pakaiannya. Mama benar-benar pasrah, air matanya mengalir. Aku ciumi bibirnya, kulumat lidahnya, kuhisap, lalu kuremas dadanya. Aku menyusu kepadanya sebagaimana aku menyusu ketika masih bayi.
Mama hanya memejamkan mata. ‘Nikmati aja ma, Rendy akan berikan kepuasan yang tidak diberikan oleh papa.’
Aku menciumi seluruh tubuhnya, ketiaknya, bahunya, dadanya, putingnya yang berwarna coklat, pusarnya, pahanya, dan ketika aku hisap jempol kakinya, ia menggelinjang. Sepertinya mama benar-benar pasrah. Kuketahui setiap ciumanku di tubuhnya ia mendesah.
Akupun ke vaginanya, dan tanpa basa-basi aku jilati tempat itu, tempat di mana aku lahir dulu. Aku jilati, aku basahi dengan ludahku, aku lumat, aku jilati klitorisnya, mama nggak tahan. Cairan kewanitaannya sangat banyak yang keluar. Mungkin ia mau orgasme.
‘Ren…ahh…Ren…jangan Ren…pliiisss, jangan perkosa mami’,kata mami memohon. Tapi aku tak tinggal diam. Mami meremas rambutku, lalu aku naik ke perutnya payu daranya kuhisap lagi.
Aktivitasku aku hentikan. Aku sudah siap untuk menancapkan rudalku sekarang. Mama melihat moncong rudalku. Ia pasrah dan tahu bahwa benda itu akan masuk ke vaginanya. Dan benar, aku memasukkannya perlahan. Pertama-tama hanya seperempat yang masuk, ujungnya saja. Mamaku sudah bergelinjang. Lalu aku tekan sedikit hingga setengah yang masuk. Itupun sudah aku goyang maju mundur. Vaginanya sangat basah, cairan kewanitaannya sangat banyak, ia mungkin sudah orgasme dulu. Aku terus menekannya hingga penuh benar punyaku masuk. Mama tak bisa berkata apa-apa lagi sekarang, malah dia mengimbangiku dengan menekan pantatnya ke atas.
Akupun segera menggoyangnya maju mundur. Kutindih mamaku, dada kami bersatu dan kucium bibirnya. Pantatku bergoyang seperti bor. Mencoba menuju puncak, untuk mengeluarkan spermaku. Aku tidak merasa puas dengan posisi seperti ini. Aku kemudian menghentikan gerakanku, kubalikkan tubuh mamaku yang lemas. Aku sodok dia dari belakang. Pantatnya sangat seksi. benar sekali, sensai doggy style ini luar biasa. Mama hanya berkata, ‘aah…ahh..ahh..oh…oh..ah..ahh..’
‘Enak ma?’, tanyaku.
‘Rendy….ah…terus Ren…perkosa mama Ren…perkosa mama’, katanya merancau. Aku pun tak tinggal diam. Kupompa lebih cepat lagi. Oh… pantatnya benar-benar merangsangku, aku tak tahan lagi.
‘Ma, Rendy mau keluar nih’, kataku.
‘Keluarin Ren, mama juga keluar’, katanya.
CROOOOTT…..CROOOT…CROOT…., banyak sekali spermaku yang keluar ke dalam rahimnya. Aku memeluk mama dari belakang. Dan kami pun lemas. Aku peluk mama sambil meremas dadanya. Penisku masih di vaginanya. Posisi kami di atas sofa dengan kedua tanganku meremas dadanya, tubuh kami bersandar sofa. Nafas kami terengah- engah. Kamipun akhirnya tertidur.
Satu jam kemudian aku terbangun. Mama sudah tidak kupeluk lagi. Ia duduk bersandar sofa. Matanya tampak sembab. Ia merasa bersalah.
‘Kenapa ma?’, tanyaku.
‘Rendy tega sekali ama mami’, jawabnya..
‘Tapi mama sukakan?’, tanyaku.
‘Tapi, mama sudah mengkhianati papi’, katanya. ‘Seharusnya tidak seperti ini’.
Aku lalu memeluknya dari belakang. ‘Tidak masalah ma, ini akan kita jaga, rahasia ini akan kita jaga, selama mama menjaga rahasia juga’.
Mama diam.
Aku lalu beranjak dari sofa. Aku berdiri di hadapannya.
‘Kenapa Ren?’, tanyanya.
‘Sepon penis Rendy dong, Rendy belum puas’, kataku.
Mama kali ini langsung nurut. Ia memegang ujung penisku. Dengan perlahan ia urut penisku, penisku yang masih tidur, langsung tegang. Lalu perlahan-lahan ia julurkan lidahnya, ia putar-putar lidahnya ke ujung penisku, lalu ia masukkan ke mulutnya. Yeah, nikmat sekali.
Lalu ia basahi seluruh penisku dengan lidahnya, dijilati, dicium, dikocok diremas. Entah berapa lama aku berdiri dengan diberi kenikmatan itu, yang jelas, aku benar-benar puas saat spermaku muncrat di dalam mulut mamaku. Mama menghisapnya habis, menelannya bulat-bulat.
Setelah kejadian itu, aku jadi makin berani dengan mamaku. Setiap malam aku selalu minta jatah. Setiap hari, bahkan mama mulai mengeluh kalau misalnya hamil bagaimana, aku tak peduli, mama sekarang menjadi budakku.
TANTE NISA, IBUKU DAN AKU
POKERBOLA - Aku orang yang mungkin punya kelainan, menyukai orang dari keluargaku sendiri. Aku anak tunggal, mungkin karena aku tidak pernah bertemu wanita lainlah yang membuatku demikian. Sudah semenjak SMP aku mengenal yang namanya bokep, semenjak itu pula aku selalu membayangkan ibuku sambil mengocok penis di kamar mandi. Ya, onani adalah kebiasaanku ketika pagi hari, akibat itulah aku mulai tumbuh kumis tipis. Tapi aku rajin mencukurnya. Dan aku pun tak jarang beronani ke celana dalam kotor ibuku, sambil sperma kutumpahkan di sana. Ya, kelainan inilah yang ada pada diriku. Ibu dan ayah sudah bercerai semenjak aku masih SD. Ibuku sebagai single fighter mampu menghidupi kami berdua. Ayah telah menikah lagi dengan wanita lain, setahun sekali mengunjungiku. Saat umur 16 tahun aku sekolah di SMA X. Awalnya ibuku ndak setuju karena bakal jauh dari rumah. Namun karena dekat dengan rumah Tante Nisa, akhirnya ibuku mengijinkanku.
cerita-sex-kisah-antara-aku-tante-nisa-dan-ibukuCerita Sex: Kisah Antara Aku, Tante Nisa dan Ibuku
Tante Nisa adalah tanteku, kakak dari ibuku. Umurnya sekarang sih 40-an. Seorang ibu berjilbab besar. Ia ditinggal mati suaminya 3 tahun lalu. Dan sekarang hidup sendiri dengan dua orang anaknya, cewek semua. Nama anaknya Irma dan Yulita. Tante Nisalah yang menganjurkan agar aku menginap saja di rumahnya, jadi kalau hari sabtu dan minggu baru pulang. Ibuku bisa mengunjungiku kapan saja. Usaha roti yang dikelolanya pun rasanya tak bisa dilepaskan. Ibuku mempunyai usaha roti. Dan omsetnya cukup lumayan. Tanpa itu aku tak bisa sekolah. Sedangkan Tante Nisa seorang PNS.
Aku sudah tinggal hampir satu semester di rumah Tante Nisa. Ibuku menjengukku setiap 3 hari sekali, kadang juga 1 minggu sekali. Aku pulang setiap Sabtu dan Minggu. Kegiatanku selama di rumah Tante Nisa, tentu saja membantunya mencuci piring, pakaian dan juga membersihkan rumah. Terus terang Tante Nisa sangat menyukai hasil kerjaku. Menjaga Irma dan Yulita yang masih sekolah SD dan SMP juga membuatnya bangga punya ponakan seperti aku. Aku juga mengajari keduanya dalam masalah pelajaran yang sulit di sekolah. Tante Nisa baru pulang jam 16:00. Namun ia sudah sangat senang melihat hasil kerjaku membantunya.
Lalu bagaimana kebiasaanku onani, tidak berhenti juga. Kali ini aku membayangkan tanteku sendiri. Melepas jilbabnya, lalu aku bayangkan ia memperlihatkan seluruh tubuhnya. Aku sebenarnya iseng juga. HPku ada kamera, dan aku gunakan untuk merekamnya ketika ia mandi. Dan selama ini tidak ketahuan, bahkan ketika aku onani aku sambil melihat video tersebut. Biasanya setelah onani aku sangat puas bisa membayangkannya.
Suatu malam Tante Nisa sedang nonton tv. Tampak anak-anaknya sudah tidur. Aku tak ada kerjaan lain, akhirnya ikutan nonton juga. Kebetulan saat itu tv-nya lagi main sinetron. Tante Nisa kali ini seperti biasa memakai daster dan jilbabnya masih terjulur. Namun karena dasternya lengan pendek, aku jadi bisa melihat betapa bersih keteknya. Bahkan sekilas warna branya bisa terlihat ketika ia mengangkat ketiaknya. Warnanya hitam. Wajah Tante Nisa masih mulus, dan ia tampak cantik malam itu.
Di tengah heningnya suasana nonton tv tersebut, ia tiba-tiba menyeletukku, “Kamu sudah punya pacar Nan?”
Aku kaget dengan pertanyaanya, “Belum, tante”
Ia mendesah, “Masa’ belum, biasanya anak-anak SMA seumuran kamu itu sudah punya lho”
“Beneran, suwer”, kataku.
“ohh.. ya udah”, katanya.
“Emang kenapa tanya begitu tante?”, tanyaku.
“Kamu jujur sama tante ya”, katanya.
Aku jadi penasaran.
“Kamu sering onani ke celana dalam tante ya?”, tanyanya.
JDERRR, aku bagai tersamber geledek. Aku pun diam lama.
“Berari bener”, katanya.
“Maaf tante”, kataku.
“Jangan ulangi lagi ya”, katanya.
“Koq tante tahu?”, tanyaku.
“Ya tahulah, habis dicuci masih ada bercak putih. Kan tante ndak keputihan koq bisa ada itu, ya berarti ada pria yang iseng”, katanya sambil tersenyum.
“Maaf tan, habis….”,
“Kenapa?”
“Jujur Kinan suka sama tante, tante orangnya baik, alim, cantik, keibuan, siapa yang tidak suka dengan tante”, kataku.
Mendengar itu tampak Tante Nisa agak tersentak.
“Tapi aku tantemu, mbaknya ibumu, kamu ndak boleh gitu. Lagian masih banyak cewek2 yang ada di luar sana. Aneh2 aja kamu ini, ntar aku pulangin ke ibumu klo kamu nakal seperti ini”, katanya mengancam.
“Terserah tante deh, Kinan sudah jujur. Awalnya Kinan juga merasa aneh punya perasaan ini, tapi sering ketemu tante jadinya begini. Terus terang aku selalu membayangkan tante, kalau hal ini bikin tante marah atau tidak suka, baiklah, Kinan akan nge-kost sendiri saja. Besok Kinan akan pergi”, aku beranjak dari tempat dudukku.
“Kinan!?”, kata tante Nisa.
Aku masuk ke kamarku. Dan menutup pintu. Aku lalu berbaring. Tampak tante Nisa mengejarku. Ia lalu mengetuk pintu.
“Kinan, buka pintunya!”, kata tante Nisa. “Bukan begitu Kinan, kamu harus tahu aku ini bibimu, tantemu, masa’ kamu punya pikiran jorok seperti itu? Kinan….?”
Aku tak peduli. Aku tinggal tidur. Di dalam tidur aku bermimpi bersama tanteku ngentot. Dan aku terbangun dalam keadaan celana basah. Ahh…..sial. Aku segera mandi, karena hari ternyata sudah siang. Selesai mandi tampak Tante Nisa berada di sofa. Ia menatapku. Mungkin ia mau melihat apa aku benar-benar akan pergi dari tempat ini. Aku lalu masuk kamar.
“Kinan, tunggu!”
Aku berjalan mundur lagi.
“Sini! duduk dekat tante!”, katanya.
Aku menurut.
“Maafkan soal tadi malam, aku tak bermaksud kasar kepadamu”, kata tante Nisa. “Terus terang perbuatanmu kemarin itu sungguh keterlaluan. Tapi setelah tante berpikir panjang, mungkin itu karena kamu baru masa puber. Maafkan tante. Kalau sampai ibumu tahu kamu tidak di sini, maka ia akan khawatir dan aku tak mau hal itu terjadi. Baiklah terserah kamu mau onani pake cd tante atau tidak, silakan asal kamu jangan pergi dari rumah ini.”
Aku koq seperti mendapatkan angin. “Serius?”
“Iya, tante serius”, kata Tante Nisa.
“Sebenarnya, bukan onani sih yang Kinan inginkan, tapi tante!”, kataku.
Tante tersenyum. Ia menarik nafas dalam-dalam. Tampaknya ia memikirkan sesuatu.
“Baiklah, kamu boleh mencintai tante seperti pacar, kalau itu maumu. Tapi jangan yang aneh-aneh. Ini aku lakukan agar ibumu tidak sedih”, kata Tante.
“Aneh-aneh gimana tante?”, tanyaku.
“Ya aneh-aneh”, jawabnya.
Aku menggeleng, “Nggak ngerti”
“Kamu sudah onani masa’ ndak tau?”, tanyanya. “Mengajak yang aneh-aneh ama tante, berbuat mesum.”
“ooo…”, kataku. “Siap”
Aku tersenyum senang. Dan ya, hari itu dimulailah petualangan cintaku dengan Tante Nisa.
Kami benar-benar merasa seperti orang pacaran. Aku pun mulai berani mencium pipinya, memegang tangannya, memeluknya. Ia benar-benar alim. Ia melakukan itu hanya kalau tidak kelihatan Irma dan Yulita. Setiap hari aku mengirimkan surat cinta kepadanya. Awalnya ia cuek, tapi lambat laun ada hal yang aneh kurasakan kepadanya. Suatu ketika aku sendirian di rumah, tidak ada siapapun. Iseng aku ke kamarnya. Di sana aku melihat buku harian. Dari situlah aku tahu bahwa ia mulai menyukaiku. Contohnya:
Hari ini tgl 17 April,
Dia mencium keningku lagi, lalu memberikan surat cinta yang indah. Ia keponakanku sendiri, haruskah aku mencintainya? Aku bingung sekarang. Membiarkan diriku masuk ke hatinya, sedangkan aku tak bisa memasukkan dia ke hatiku. Apakah aku telah jatuh cinta? Di saat ia bercerita tentang teman wanitanya yang cerewet di sekolah aku cemburu. Oh tidak, aku jatuh cinta.
Aku tak membaca semuanya, paling tidak aku tahu bahwa tanteku mulai mencintaiku.
Selesailah UAS semester 1. Besoknya libur panjang. Aku ijin ke ibuku untuk beberapa hari di rumah tante Nisa karena ada yang harus dikerjakan. Irma dan Yulita ikut berlibur bersama sekolahnya. Jadi aku dan tante Nisa sendirian di rumah. Dan hari itu hari sabtu, harusnya aku pulang hari itu menengok ibuku. Namun aku urungkan niat.
Tampak Tante Nisa memasak di dapur. Aku peluk dia dari belakang, kucium wangi tubuhnya.
“Masak apa say?”, kataku.
“Masak sayur lodeh”, jawabnya.
“Kayaknya enak?” pujiku.
Kami lalu sarapan. Tak ada obrolan berarti. Setelah sarapan kami beres2 rumah. Setelah itu kami capek, aku bersandar di sofa. Dan tante Nisa juga duduk disitu. Kami menonton tv, aku membiarkan tante Nisa bersandar di dadaku. Aku kali ini agak sedikit “berani”. Perlahan aku meraba payudaranya. Awalnya tanganku ditepis, lalu aku pun merabanya lagi. Kali ini malah dibiarkan. Kugesek-gesek bongkahan empuk itu, dan kurasakan puting mengeras dari branya yang tebal dan daster itu. Berikutnya, aku pelorotkan sedikit celanaku, dan peniskupun muncul.
“Ih, Kinan, apa-apaan sih?”, tanyanya.
“Lho, ndak ngapa-ngapain tante koq”, kataku.
“Itu koq dikeluarin?”, tanyanya.
“Kinan sudah lama ndak onani tante, pingin onani sambil memegang tante”, kataku. “Plis tante, sudah kepalang tanggung nih”
Tanteku menelan ludah melihat penisku yang mengacung dan keras.
“Kalo nggak boleh ya tante saja yang ngocokin”, sebenarnya aku cuma bercanda.
“Baiklah”, katanya mengejutkan.
Mulanya aku nggak percaya, tapi ia amati seksama barang ajaib itu. Perlahan-lahan ia pegang dengan jemarinya yang halus itu. Lalu perlahan-lahan ia kocok dengan lembut sampai helm-ku mengeras. Ndak cuma itu, buah pelerku diremas-remas juga. Ohhh….nikmat sekali. Baru kali ini penisku dipegang cewek. Apalagi tanteku sendiri. Aku mulai meraba toketnya. Ia tak protes. Ia pun mulai gelisah setelah lama mengocok punyaku.
“Tante boleh ya buka bajunya?”, tanyaku.
“Eh…ee…i…iya”, katanya.
Ohh my goossh…
Ia membuka dasternya dan jilbabnya.
“Jilbabnya nanti saja tante”, kataku.
Ia heran, tapi tak peduli. Ia kembali lagi mengurut tongkolku. Aku pun makin bergairah setelah melihat bra-nya dan cd-nya yang berwarna hitam tipis itu. Aku mencium bau harum, lalu mulai mencium bibirnya. Fuck, kami benar-benar berpanggutan, ia masih mengocok penisku dan aku meremas toketnya. Toketnya luar biadab. mungkin ukurannya 35D. Kami benar-benar berciuman, saling menjilat lidah kami. Lalu aku pun membuka pengait bra-nya. Tuing! dada itu menggantung. Ohh…indahnya, putingnya coklat, keras dan kencang. Dadanya putih sekali dan harum. Aku menggigit-gigit toket itu, lalu menyusunya.
“Oh…kinan…ahh….ahhh….terus nak, oh, lupakan aku ini tantemu. Ohh…iya, netek ke tante ya”, katanya merancau. Ia ternyata sudah haus sex.
Ndak butuh lama koq sekarang aku sudah menelanjanginya selama ia menikmati sensasi rangsangan di toketnya. Lalu perlahan aku cium perutnya, ia merebahkan diri ke sofa yang empuk dan panas itu. Kini kulebarkan kedua pahanya. Tampak rambut yang tipis menghiasi vaginanya, ohh. ternyata ia rajin mencukur. Akupun menyapunya, kujilati apa yang bisa dijilat di tempat itu. Ia meremas kepalaku, rambutku dijambaknya, dan kedua pahanya mengapitku erat, aku tak berhenti. bahkan klitorisnya kusapu, kuhisap, kulumat, dan kugigit-gigit gemas. Lidahku menyeruak ke dalam lubangnya, rasa asin pelumasnya tak kuhiraukan lagi. Bau khas wanitanya pun sekarang melekat di bibirku.
“Ahhh…Kinan jangan, aaahhh….geli…aaaarggh….maaf kinan, tapi tante keluar….AAAAHHHHH”, desahan panjang membuatku tersentak. Saat itulah ia terkencing-kencing, aku menghindar. Tampak sofa banjir dengan air orgasmenya. Nafasnya tersengal-sengal. Aku belum disepong nih, pikirku. Segera aku menempatkan pahaku di antara kepalanya. Ia mengerti yang kuinginkan. Dengan mata setengah terbuka karena kenikmatan orgasme ia pun menjilati kepala penisku. OOOHHH….fuck tanteku ini. Ia jago banget. Ia mengurut penisku sampai ke pangkal jadi tampak penisku mengeras hebat dan ia keluar masukkan kepala penisku hingga separuh ke mulutnya. Ia lakukan itu sambil menyedotnya. Sesekali ia menjilati ujung lubang kencing, ia putar-putar lidahnya di sana. Oh….kalau begini aku bisa jebol nih.
“Udah sayang, aku mau masukin ke tempat itu. Masih perjaka nih”, kataku.
Ia mengerti. Dibukanya pahanya. tampak vagina itu sangat basah dan becek, Aku bersiap di atas, gaya misionari. Ia masih pakai kerudungnya, lalu aku lepas kerudung itu, tampaklah rambutnya yang sedikit berombak, yang aku tak pernah melihatnya kecuali dari videoku itu. Kini wanita ini pasrah dan menginginkanku.
“Cepat masukin Kinan, tante udah nggak tahan nih”, katanya.
“baiklah tante, tapi kira-kira kita sekarang ngapain tan?”
“ayolah kinan, fuck me kinan, fuck you! entotin tantemu ini”
“apakah tante ini jadi pelacur sekarang?”
“iya, tante ini sekarang jalang, pingin kontolmu, ayo kontolin tante.”
Aku lega mendengar rancauannya itu. Ia benar-benar haus sex. Jadi SLEEBB! Ouuwwwww…fuck!! Ia mengunci kakinya ke pinggangku. Ia menaikkan pantatnya, otomatis punyaku masuk seluruhnya. Walaupun sudah punya 2 anak, tapi vaginanya sangat rapet, mungkin karena tak pernah dipakai. Perutnya yang rata itu membuatku bernafsu dan…owww…aku goyang akhirnya. Jemari kami saling menyatu. tanteku tak mau lepas dariku, ia mengoyak penisku sepertinya, dan aku menggerakkan maju mundur. Oh tidak, aku mau keluar rasanya, baru 2 menit padahal.
“Tan, ndak kuat nih…ahh….ahh…AHHH”, kataku
“Keluarin nggak apa-apa, aaahh…”, katanya.
Dan CROOOOTTT, entah berapa kali tembakan yang pasti tembakan perjaka yang dhaysat. Keras, dan banyak. Tanteku sampai tersentak merasakannya, ia membelalak, dan melihatku sambil mengerutkan dahinya. Ia melirik ke bawah sana. Ia meraba dengan jemarinya pangkal penisku yang masuk penuh. Lama kami diam, tanteku memejamkan matanya, menikmati setetes-demi-setetes sperma yang membasahi rahimnya setelah 3 tahun tidak pernah dibasahi. Aku tak mencabut punyaku sampai penisku mengecil sendiri. Aku lalu menarik tubuh tanteku dan kupangku. Ia memelukku, dada kami menyatu dan aku menciumi bibirnya.
“Kinan, ….kita tak boleh begini harusnya”, katanya.
“Tapi aku cinta tante”, kataku.
“Oh…kinan, ponakanku ini sekarang jadi suamiku”, katanya.
Aku meremas toketnya lagi, kami berpanggutan. Lama aku begitu, mungkin sepuluh menit, hingga punyaku mengeras lagi. Kali ini aku suruh dia nungging. Dengang doggy style, kami lebih lama lagi bercinta. Hasil akhirnya 4 ronde kami puas, sofa itu basah sekali, oleh keringat, dan pejuh. Total sehari penuh, tidak, 2 hari 3 malam, aku meladeni tante Nisa yang rupanya good in bed.
Hari ini Irma dan Yulita pulang ke rumah. Nanti siang kami akan menjemput mereka di sekolah. Setelah itu aku akan pergi dari rumah tante Nisa tercinta. Hari itu tante sedang berdandan siap untuk pergi.
“Sayang”, kataku.
“Hai, sayang”, katanya. Kami sudah tidak ribut lagi panggilan apapun. Asal di luar rumah sikap kami harus dirahasiakan.
“Hisap dong”, kataku sambil memelorotkan celanaku. Ia tersenyum.
Kini tante Nisa sedikit agak nakal dalam masalah sex. Ia berlutut sambil mengulum penisku. Aku memaju mundurkan pantatku mencari celah lidahnya. rambutnya kuremas-remas. Setelah 10 menit kemudian.
“Ohhh, nisa, ooohh…pejuhku keluar!!”, kataku.
Muncratlah semuanya di dalam mulutnya. Ia menjilati spermaku, dihabiskannya dan ditelannya.
“udah ah, pagi-pagi koq udah ginian. Nanti kamu pulang lho jangan lupa”, katanya.
“Rasanya ndak ingin pulang aku”, kataku.
“Hush ndak boleh gitu. Kan setelah ini kita masih bisa bersama lagi”, katanya.
“Iya sih”,
“Oya ada satu hal yang ingin kusampaikan”, katanya.
“Apa Nisa?”
“Aku masih subur, jadi…kalau nanti hamil bagaimana ya?”, tanyanya.
“Lho? waduh….”, aku terkejut.
Ia tersenyum. “Nggak apa-apa, toh kamu yang jadi bapaknya”
Ia masih mengurut-urut penisku, lalu ia jilati sisa-sisa sperma yang masih melekat di ujung lubangnya.
Hal itulah yang membuatku berpikir keras.
Ibuku sangat kangen padaku. Ketika aku datang ia langsung memelukku. Saking kangennya aku mau makan dimanapun ia bakal mentraktirku.
“Kamu mau apa sekarang Kinan? Ibu bakal ngasih deh”, katanya. yang bener?
“Masa’ sih?”, tanyaku.
“Iya, mau makan di restoran mana ibu akan kasih, soalnya ibu kangen sama anak ibu ini”, katanya sambil memelukku. Dadanya yang besar serasa sesak di perutku. Aku lebih tinggi darinya.
“Kalau permintaan yang lain gimana?”, tanyaku.
“Apa?”, tanyanya.
“Semisal kepingin tidur sama ibu telanjang gitu?”, tanyaku sambil tersenyum.
Ibuku tampak sedikit kaget dan mengerutkan dahi.
“Sekarang?”, tanyanya.
“Iyalah”, kataku.
Ia lalu mengunci pintu lalu melepaskan bajunya satu per satu. WTF?
“Ayo, katanya mau tidur ama ibu telanjang?”, tanyanya menantang.
Entah ibuku gila atau nggak, tapi aku nurut saja. Aku juga telanjang sama seperti beliau. Kami pun tidur di kamarku. Ibuku tidur miring dihadapanku. Tatapan mata kami penuh arti, disatu sisi ia kangen, di sisi lain aku berdebar-debar. Aku baru kali ini melihat lagi tubuh moleknya ibuku tanpa sehelai benang pun. Aku menelan ludah sampai ibuku mendengarnya. Dadanya besar, putingnya coklat, rambut di vaginanya tampak lebat. Tapi ketiaknya mulus.
“Boleh Kinan meluk ibu?”, tanyaku.
“Ya bolehlah, kenapa emangnya?”, tanyanya.
“Ah, nggak apa-apa bu”, kataku. Akupun memeluknya. Dadanya menempel di dadaku. dahi kami bersentuhan, penisku menempel di perutnya. Rasa hangat yang kurasakan.
“Kamu sudah dewasa ya Kinan”, katanya. “Ibu kangen sekali”
“Kinan juga”, kataku. Aku perlahan-lahan menempelkan bibirku ke bibirnya. Kami berciuman. Kumulai berani membelai punggungnya, lalu meremas bongkahan pantatnya. Kontolku sudah tegang sekali, kuyakin ibu juga merasakannya. Apa ibu ndak tahu hal ini? Kami berciuman, dan saling berpanggutan.
“Udah kinan, koq kita malah ginian seh?”, tanya ibu.
“Tapi kinan kepingin bu”, kataku.
Ibuku terdiam sesaat, tampaknya ia berpikir keras.
“Ibu lama ndak beginian, Kinan ndak keberatan jadi partner sex ibu? Sudah terlanjur begini”, katanya.
What? “Ya ndaklah, kinan sudah lama juga kepingin ngentotin ibu sendiri”
Ibu tersenyum, tanpa babibu, kami langsung mengulum satu sama lain. Nafas ibu memburu, ia tak ingat siapa aku lagi, aku juga demikian. Aku sudah tak tahan untuk bisa menyusu kepadanya. Bibirku pun menancap di puting susunya. Kuhisap kuat-kuat sambil kumainkan dengan lidahku.
“Ohh….iya nak, begitu seperti kamu bayi dulu….aahhhhh”, kata ibuku.
Aku terus mengulum dan meremas payudaranya bergantian. Aku hisap kuat-kuat seolah-olah di dalam dadanya itu masih ada ASI, entah itu ASI atau tidak, tampaknya aku mengeluarkan sesuatu dari putingnya, rasanya agak manis dan asam. Kemudian beliau tidak tinggal diam begitu saja, punyaku diremas-remas dan diurut-urut. Merasa keenakan dengan hal ini, aku sedikit berani untuk memasukkan jemari tanganku ke lubang memeknya yang jarang ditumbuhi bulu itu. Hangat. Itulah tempatku dulu keluar, dan sekarang ini aku bakal menikmatinya. Tanganku aku masuk dan keluarkan, sehingga seolah-olah malah tampak seperti mengocok sesuatu. Lama sekali aku menyusu sambil mengoyak vaginanya dengan jemariku. Ia pun hanya mengeluh ah dan uh saja.
Aku lalu bangun, lalu duduk di atas dadanya. Buah pelerku menyentuh perutnya bagian atas. Dan punyaku tegak mengacung ke wajahnya. Punyaku panjang, dan menyentuh bibirnya, seolah-olah ia faham maksudku. Ia meremas tokednya, lalu dikempitnya batangku itu. Ohh…nikmatnya. Hangat sekali, apalagi ditambah ia menjilati lubang kencingku. Ia terus memijat-mijat dadanya, sementara kepala penisku dijilati. Aku terangsang sekali, tetesan sedikit mani keluar dari lubang kencingku.
Beliau melihat wajahku.
“Waah….kinan jadi anak nakal sekarang ya, gituin ibu”, katanya.
“Habis ibu mau sih”, kataku.
“Minggir dulu sayang”, katanya.
Aku mengerti lalu minggir ke samping. Kini aku berlutut, dan beliau langsung dengan rakusnya mengulum separuh penisku. Kepalanya maju mundur memompa penisku. Ohh…tidak, enak banget. Lidahnya menari-nari di kepala penisku, seolah-olah tak mau lepas dari situ. Aku berkali-kali berkata, “Ohh..mom, fuck mom, fuck! enak banget…ahh….”
“Sudah, sudah bu, Kinan malah keluar nanti klo sampai begini”, kataku.
Ibuku menghentikan aktivitasnya. Sekarang aku serasa lemas, tapi kemudian jadi bersemangat ketika beliau balik badan menungging.
“Kinan, tolong, masukkan ya?! please….masukkan punyamu yang gedhe itu nak”, katanya.
Tanpa babibu langsung, SLEEEBBB! Wah mantab, pas! Aku lalu bergerak maju mundur. Tapi tampaknya ibu tak ingin berlama-lama begini, ia sepertinya sudah mau keluar, tampak ia menggoyang sendiri pinggulnya. Punyaku serasa dikoyak-koyak, ohh…nikmatnya. Gila, klo gini terus aku bakal ngecret di tempat aku dibuat dulu. AHHH….Tuh kan, aku sempat nyemprot sekali, tapi aku tahan sekuat tenaga agar jangan keluar dulu, nunggu beliau keluar dulu.
“Ohh…tidak bu, ahh….nggak tahan…Kinan ndak tahan, terlalu nikmat”, kataku.
“Tenang Kinan, ibu mau keluar nih…aaaaaahh…ahh..ah…ahhh.oh….ohh…aaaaaa AAAHHHH”, jeritan panjang ibuku sambil pantatnya bergetar menandakan ia telah orgasme, punyaku serasa dijepit oleh daging yang kenyal. Aku meremas tokednya, sambil terus maju-mundur, dan akupun tak sanggup lagi.
“Aduh…aduh…aduh…gimana ini, di luar apa di dalem?”, tanyaku.
“Dalam gak papa”, katanya.
“AAAAHHHHH”, CROOOT..CROOOTTT….CROOOTTT….perlu diketahui, aku nyembur banyak sekali. Lebih dari sepuluh tembakan, Ibuku lemas tengkurap, sambil pantatnya masih menungging, membiarkan penisku mendapatkan sensasi kenikmatan. Penisku sangat ngilu, ketika aku cabut dari lubang itu. Cairan kental putih mengalir dari lubang yang aku semproti tadi. Mengalir ke paha, lalu jatuh di sprei. Aku lalu berbaring di sebelah ibuku. Aku KO, dan tertidur.
Subscribe to:
Comments (Atom)







