Tuesday, August 31, 2021
KEPERGIAN KEKASIHKU
POKERBOLA - Saya boleh dikatakan bukan type lelaki yang over seks, saya hanya ingin membagi pengalaman lewat media ini. Dengan kisah ini, mungkin dapat menambahkan perbendaharaan kisah nyata yang ada di 17Tahun ini.
Awalnya, saat Dana (panggilan akrabku kepadanya) yang akan berangkat ke Australia untuk melanjutkan pendidikannya. Dana memang seorang cewek yang cukup cerdas dan tergolong masih lugu, sangat kontras dengan saya yang hanya memiliki IQ cukup-cukup makan saja dan teman-temanku menyebutku si nakal. Saya berkerja pada sebuah perusahaan BUMN, hubungan kami terjalin saat saya belum bekerja.
Dana sebenarnya ingin melanjutkan pendidikannya di Yogjakarta, namun karena ayahnya kurang setuju dengan hubungan kami, dengan terpaksa dan akhirnya satu-satunya jalan diambil ayahnya Dana untuk memisahkan kami. Ayahnya menyekolahkannya ke luar negri, yaitu ke Australia.
“Bang Ir, rasanya saya tak tahan pisah jauh dan..” isak Dana ketika kami duduk berdua di taman belakang rumah saya.
“Sudah suratan tangan kita barangkali.., tapi percayalah, dimana ada kemauan, disitu ada jalan..” balasku sambil membelai rambutnya yang terurai indah.
Dana tiba-tiba menarik saya ke dalam kamar pribadiku. Mungkin karena rasa yang mendalam yang membuatnya seperti itu. Mulanya saya heran dengan apa yang ada dibenak Dana. Rasa heranku hilang ketika Dana menciumku sambil berusaha membuka celana panjangku.
Terus terang, selama kami berpacaran, hanya sebatas ciuman dan pelukan saja yang kami lakukan. Entah kenapa dengan Dana saat ini, saya tidak nekat berbuat lebih dari seperti apa yang pernah saya lakukan dengan cewek lainnya.
“Bang, Dana ingin menyerahkan apa yang selama ini kita jaga..” dengan pelan tapi pasti, Dana seolah berbisik, sambil membuka pakaian luarnya.
Melihat tubuh Dana yang bahenol dan mulus putih, kawan lahirku (alias batang) terbangun dari tidurnya yang lelap selama ini.
Singkat cerita, setelah kami satu jam lebih melanglang buana dalam gairah percintaan, tubuhnya mengejang pertanda akan mencapai klimaksnya, dan saya masih tetap setia melayaninya. Tidak berapa lama saya menyusul dan kami berdua pun terkulai di ranjang yang sudah tidak beraturan lagi. Kami berdua terhanyut dalam rasa nikmat yang selama ini kami jaga agar tetap menjadi hal yang sangat berharga untuk hari pernikahan kami. Benar-benar pengalaman yang indah yang saya pernah lakukan, apalagi Dana masih perawan, dan memang dengan sedikit usaha yang keras, akhirnya kami berdua dapat melaluinya.
Aku tersentak, dan melihat jam bekerku menunjukkan pukul 12:16 WIB.
“Dan, bangun.. sudah jam dua belas lewat, nanti telat berangkatnya..” sentakku sambil menggoyangkan lengannya yang masih terkulai di atas dadaku.
“Mmm..” suara Dana terdengar lemas.
“Ayo bangun, sayang..” kataku sekali lagi.
“Iya, Bang Ir, aku sayang kamu..” katanya seraya mengambil pakaian, dan saya pun juga demikian.
Pukul 12:40 WIB, kami telah tiba di rumah Dana, jarak rumah kami terpaut kurang lebih 45 Km. Setelah Dana masuk ke rumahnya, saya langsung mengarahkan speda motor saya ke tempat yang telah kami janjikan, agar saya dapat mengantarnya ke bandara udara. Jarak bandara udara ke rumahnya tidak jauh. Singkatnya kami pun berpisah, kulihat wajahnya memerah untuk terakhir kalinya sebelum naik tangga pesawat. Berat hatiku melepasnya, apalagi setelah apa yang baru saja kami lakukan berdua di kamarku.
Dalam perjalan pulang, saya dihadang seorang wanita muda dengan sedan Soluna warna perak di sampingnya. Kelihatannya mobilnya sedang mogok.
“Mas, tolongin saya dong..” jeritnya.
Setelah saya perbaiki, saya pun pamitan padanya.
“Eh.. eh.. Mas, jangan pergi dulu, saya ingin tanya alamat..!” katanya sambil menarik tangan kiriku yang sudah memegang stang sepeda motorku.
Dia menawari saya untuk bisa mengantarnya ke rumahnya, karena dia takut kalau-kalau mobilnya ngadat lagi di jalan.
Pendek cerita, kami pun sampai pada alamat yang dituju. Sebuah rumah tergolong mewah dengan tamannya yang terawat rapih menghiahi halaman yang cukup luas. Di rumah tersebut hanya ada seorang pembantu dan seorang pengurus taman. Rumah tersebut milik suami wanita muda tersebut. Barangkali sebagai rasa ucapan terima kasihnya padaku, wanita tersebut mengajakku masuk dan menawarkan saya minum. Karena rasa lelah dan haus sehabis membenarkan mobilnya, tawaran tersebut tidak saya tolak.
Suaminya bernama Iyan. Suami wanita tersebut sudah dua hari tidak pulang, mengurus proyeknya di luar kota. Begitulah informasi yang disampaikan Sinta, pembantu di rumah tersebut. Kety merupakan isteri simpanan Iyan.
“Mau minum apa, Mas..? Oya kita belum saling kenalan. Nama saya Kety..,” sapanya sambil mengulurkan tangan ke arahku untuk salam perkenalan.
“Irsan..,” balasku singkat sambil menyalami tangannya yang mulus dan lembut itu.
Setelah sekian lama kami mengobgrol, ternyata umurnya sama dengan saya, hanya berbeda dua bulan saja.
Mungkin karena kelelahan, sambil berbincang-bincang, Kety merebahkan badannya dengan posisi kaki lurus di atas kursi panjang. Tanpa disadari olehnya, roknya tersibak, sehingga dengan tidak sengaja mataku melihat pahanya yang putih dan tampaknya berisi. Rupanya Kety sudah dari tadi mengawasi mataku yang sering singgah ke arah pahanya, tapi dia malah tersenyum.
Cukup lama kami berbincang-bincang, tidak berapa lama, saya merasakan ingin buang air kecil.
“Ket, kamar kecilnya sebelah mana..?” tanyaku setengah kebelet setelah minum dua gelas air.
“Masuk saja dari kamar sebelah sana.. terus belok kanan..” jawabnya sambil menunjuk arah kamar tengah.
Tanpa pikir panjang lagi, aku pun beranjak dari tempat duduk. Tidak terasa, ternyata celana dalamku telah basah oleh tetesan air maniku akibat melihat paha Kety tadi. Aku tersentak ketika keluar dari kamar kecil, ternyata Kety telah merebahkan badannya di ranjang kamar dimana saya buang air dalam keadaan hanya memakai celana dalam dan BH saja. Dalam hatiku bercampur aduk. Antara ingin pulang karena merasa tidak etis dan keinginan untuk menikmati pemandangan indah ini.
“Ket, saya pamit dulu, sudah hampir malam, terima kasih atas layanannya,” kataku sambil melihat tubuh indahnya setelah mempertimbangkan untuk pulang saja.
“Mas.., kok buru-buru, kita kan belum cerita banyak. Duduklah dulu disini..” sambil menawarkan tempat di sampingnya.
Karena merasa tidak diijinkan pulang, akhirnya kami pun kembali melanjutkan obrolan kami.
“Mas, tolong ambilkan minyak gosok di rok saya..!” pintanya.
“Ini..” kataku sambil mengulurkan tangan untuk memberikan minyak gosok tersebut kepadanya.
“Tolong gosokin dong Mas..! Kaki Kety.. lemes.” pintanya memelas.
Segera saja tongkat warisan (alias alat vital saya) terbangun, ketika tanganku mulai merambat ke pangkal pahanya, apalagi ketika terdengar desahan Kety yang menggairahkan. Karena tidak tahan akan gairahnya, Kety tiba-tiba menarik badan saya dan kami pun berciuman sambil bergumul. Rabaan demi rabaan membuat kami semakin menerawang. Karena tidak tahan lagi, kami saling membuka pakaian dalam kami. Kugenggam gumpalan dua buah dagingnya yang masih kenyal dan putingnya pun tampak masih merah itu, mungkin karena saling berjauhan dengan suaminya selama ini sehingga kurang mendapatkan perhatian yang lebih.
“Em.., em.., emmhh..” desahnya mendalam ketika tangan kananku serta mulutnya menikmati gumpalan daging tersebut, sementara tangan kiriku merayap menggengam gumpalan daging bawah Kety yang ditumbuhi bulu yang lumayan lebatnya.
Satu jam kami menerawang ke dunia lain sampai akhirnya, “Mas, masukkaan.., udah takk.. tahan lagi..” pintanya.
Aku pun siap untuk melayani permintaanya. Pelan-pelan saya memasukkan tongkat warisanku ke dalam lembah Kety yang telah kembang kempis mengharapkan hantaman dahsyatnya senjataku.
“Akhh.., akhh.., lebih cepat Mas..,” pinta Kety sambil membantu genjotanku dengan menarik kuat-kuat punggungku.
“Akhh.., akhh..” kali ini Kety tanpa sadar berteriak keras, pertanda sudah sampai pada klimaksnya.
Kurubah posisi, Kety kuarahkan untuk telentang dan kuangkat pinggulnya sedikit. Pelan-pelan kumasukkan tongkat warisanku ke dalam lembah Kety yang menawan itu.
“Cleekk.., cleekk..” terdengar cairan dari dalam lembah Kety ketika tongkat tersebut masuk.
“Akhh.. emm..,” desahnya sambil meremas seprei warna merah muda bercorak karena menahan gairah yang dirasakannya.
Untuk kedua kalinya Kety mencapai klimaksnya, ketika itu, aku pun tidak tahan lagi untuk mengeluarkan maniku.
“Ket.., aku mau keluuaarr..”.
Setelah masing-masing mencapai klimaksnya, kami terbaring lemas dan sekujur badanku basah oleh keringatku. Tanpa terasa, jam dinding ruang tamu berbunyi sembilan kali, pertanda telah menunjukkan pukul sembilan malam.
“Saya pamit dulu yah..?” kataku sambil beranjak mengambil pakaian dalamku di lantai.
“Mas, disini saja bermalam.” kata Kety sambil berusaha menarik tangan kananku.
“Nanti suamimu datang, gimana dong Saya..?” timpalku.
“Mas Iyan paling besok sore baru datang.”
“Kalau ketahuan sama pembantu bagaimana..?”
“Sudah Saya katakan bahwa Mas adalah Abang kandungku dari Medan.”
“Mas, Saya tidak pernah mengalami nikmat seperti ini, Punya Mas cukup panjang dan besar dibanding punya Mas Iyan. Mas.., tidak keberatan kan kalau kita ulangi lagi nanti..?” pintanya.
Aku tertegun sejenak kemudian menjawabnya, “Boleh aja, asal jangan sampai tercium sama orang lain setelah ini.”
Akhirnya saya memutuskan untuk menginap semalam di rumahnya. Tengah malam dan bangun pagi kami pun mengulanginya lagi kegiatan percintaan kami, sampai akhirnya saya pamitan kepadanya.
PESTA PERNIKAHANKU
POKERBOLA - Kisah ini bermula dari pesta perkawinanku di tahun 1999. Sebut saja namaku Iwan, aku berumur 27 tahun ketika kisah ini terjadi. Aku menikah dengan pasanganku, sebut saja dia Anita, di sebuah hotel berbintang 5 di kota “Y” (nama kota kusamarkan). Aku ingat ketika pesta
berlangsung, undangan begitu banyak yang hadir, suasana begitu meriah. Suatu ketika tanpa sengaja mataku menangkap sesosok wanita yang sangat menarik. Wajahnya cantik, rambut disemir sedikit warna pirang sehingga kulitnya yang putih semakin kelihatan mencolok di antara undangan yang lain. Ditunjang dengan bentuk badan yang padat serta proposional dan dibalut pakaian yang seksi, mataku seakan tak bisa lepas darinya. Tentu saja aku memperhatikannya secara diam-diam.
Belakangan aku sadar bahwa dia datang bersama suaminya. Sesudah pesta berakhir aku mendapatkan kesempatan untuk melihatnya dari dekat ketika para undangan bersalaman dengan kami. Wajahnya memang cantik dengan senyum menawan dan tatapan matanya sangat menggoda. Daya tariknya yang dipancarkan dari wajahnya sangat kuat sehingga pikiranku melantur seketika.
Pukul 21.30 semua undangan sudah pulang, kami bersantai dengan saudara-saudara di kamar hotel sambil menceritakan pengalaman-pengalaman lucu di hari yang istimewa ini. Pukul 23.00 semua saudara-saudara pamit ke kamar masing-masing dan memberikan kami kesempatan untuk beristirahat. Sambil menunggu Anita membersihkan diri, aku membuka amplop sumbangan satu-persatu sampai suatu ketika aku memperhatikan ada sebuah kartu nama dengan catatan samar-samar di belakangnya, “Call me: 081-xx-xx”. Tentu saja kartu nama tersebut kusimpan secara khusus agar tidak terlihat oleh Anita. Setelah semua amplop sumbangan kukumpulkan, aku menyusul Anita yang sedang mandi dan kami pun mandi bersama.
Malam itu dan beberapa malam berikutnya kami habiskan dengan penuh gelora asmara. Kami bercinta dengan berbagai macam variasi, dengan tempat yang berbeda-beda, di sofa, kamar mandi, ruang tamu, dapur dan semua tempat yang memungkinkan di kamar hotel tersebut. Kami memang menginap di Honeymoon Suite yang menyediakan kamar tidur, ruang tamu, dapur dan ruang santai.
Dua minggu setelah pesta penikahan kami, aku baru teringat dengan kartu nama yang kuselipkan di dompetku. Dengan rasa penuh penasaran aku pun menghubungi nomor di balik kartu nama tersebut. Setelah beberapa kali nada panggil, panggilanku diterima. Aku mulai bicara,
“Hallo, apakah saya berbicara dengan nona Sandra?”.
Suara wanita di seberang sana menjawab dengan lembut,
“Ya, saya sendiri. Siapa ini?”
“Saya Iwan, saya yang menikah 2 minggu lalu dan saya mendapatkan kartu nama anda dengan catatan khusus di belakangnya,” godaku.
Sandra tertawa renyah dan tanpa terasa obrolan pun mengalir dengan lancar seolah kami sudah berteman lama. Dari obrolan di telepon selama hampir 30 menit aku pun mengetahui bahwa Sandra adalah wanita yang selalu kuperhatikan secara khusus waktu pesta dulu. Sandra merupakan seorang eksekutif yang bekerja di sebuah perusahaan asing di kota “S” dan dia baru berusia 25 tahun. Perusahaan tempatnya bekerja sering mengadakan promosi di kotaku, dan Sandralah yang ditugaskan untuk hal itu. Kami pun berjanji untuk saling menelepon dan bertemu jika Sandra ditugaskan di kotaku.
Seminggu setelah telepon pertamaku handphone-ku berbunyi. Sandra menelepon dan mengabarkan bahwa dia sedang berada di kotaku untuk 3 hari promosi. Sandra baru tiba di sebuah hotel dan akan mulai bekerja pukul 14.00 siang ini juga. Aku memberanikan diri untuk bertanya apakah aku bisa menemuinya sebelum jam 14.00. Sandra berkata bahwa dia tidak keberatan dan ingin segera bertemu. Aku pun segera berangkat ke hotel tersebut dan menemui Sandra yang sudah menungguku di coffe shop hotel. Sandra mengenakan rok mini hitam dipadu dengan blazer sewarna serta kemeja warna putih tipis sehingga menampakkan bayang-bayang BH-nya yang berwarna hitam. Kami berbincang dengan akrab dan Sandra menawarkan untuk mengunjungi kamarnya di lantai 2 hotel tersebut.
Sampai di kamar Sandra melepaskan blazernya sehingga yang terlihat olehku adalah sosok tubuh wanita yang sangat menggiurkan. Sebagai gambaran Sandra tingginya 165 cm dengan berat seimbang. Badannya padat, dengan payudara 36B. Tanpa sadar hal itu membuat batang kemaluanku berdiri seketika. Kami duduk berdampingan di ranjang yang berukuran king size. Aku memberanikan diri untuk memegang tangannya dan mengambil kesempatan pertama untuk mencium pipinya untuk melihat reaksinya. Ternyata Sandra tidak menunjukkan reaksi menolak dan aku pun mulai berani.
Kami berciuman bibir dan aku terkejut karena secara agresif dia mengeluarkan kemampuannya dengan French Kiss. Kami saling memasukkan lidah kami ke mulut masing-masing dan tanganku mulai menjalar ke bagian tubuhnya yang menonjol. Aku meraba payudaranya perlahan-lahan. Diawali satu tangan dan disusul tangan satunya lagi. Sandra mulai mendesah, apalagi setelah tanganku menaikkan rok mininya dan meraba bagian luar kemaluannya. Aku mulai melepaskan pakaiannya dan dengan perlahan mencopot BH hitamnya disusul dengan rok mininya sehingga yang telihat olehku sekarang adalah pemandangan yang sangat luar biasa. Kemolekan seorang wanita yang dianugerahi kulit putih bersih, payudara yang kencang dan montok dengan puting kemerahan.
Celana dalamnya warna hitam dengan bahan transparan sehingga terlihat samar bulu kemaluannya yang tipis rapi. Aku segera menjulurkan lidahku ke puting payudaranya, bergantian kanan dan kiri, bermain di seputar aerola-nya, membasahi putingnya yang kemerahan itu. Putingnya mengeras sehingga membuatku semakin bernafsu. Tanganku perlahan menurunkan celana dalamnya dan aku mengusap bibir kemaluannya yang sudah basah secara hati-hati karena takut menyakitinya. Jari tengahku kutekan di tengah-tengah antara bibir kemaluannya sehingga sewaktu bergerak naik turun menyentuh klitorisnya.
Dia menggelinjang nikmat dengan desahan panjang dan tangannya menarik dan mengacak-acak rambutku. Aku menurunkan lidahku dari puting payudaranya, perlahan menyusuri bagian perutnya, bermain sebentar di sekitar pusarnya sehingga membentuk garis basah seperti aliran sungai. Kedua tanganku bermain di payudaranya, memilin halus puting yang sudah sangat keras tersebut. Sekarang wajahku sudah menghadap kemaluannya yang ternyata bulunya sudah dicukur habis dengan hanya menyisakan sedikit saja di atas klitoris dan itupun dicukur halus. Bibirku menjelajahi bagian luar kemaluannya dan dengan lidahku aku berusaha menerobos di antara bibir kemaluannya. Sandra menggelinjang merasakan kenikmatan. Dengan jari-jari tanganku, aku membuka bibir kemaluannya dan aku pun membenamkan wajahku di sana.
Lidahku menjelajahi setiap milimeter bagian kemaluannya yang sudah basah. Aku memainkan bagian klitorisnya dengan lembut dengan ujung lidahku yang bergerak membentuk lingkaran. Jari tangan kananku kubasahi dengan air liurku dan kubiarkan bermain di lubang anusnya. Ketika Sandra merasakan orgasme menghampirinya, ia menarik-narik rambutku, mendesah nikmat “Aaahh..” aku pun memasukkan lidahku ke liang kemaluannya, membenamkan ke dalamnya, maju mundur teratur dan ujung hidungku menggosok klitorisnya setiap kali aku memaju mundurkan lidahku. Jari tanganku kumasukkan sedikit ke lubang anusnya. Sampai suatu saat Sandra tidak mampu menahan arus orgasmenya, ia menjerit keras sambil menarik rambutku dan membenamkan wajahku lebih dalam lagi ke liang kemaluannya. “Aaahh, Iwann.. enakk, ahh..”
Setelah arus orgasmenya mereda Sandra berbalik menindih tubuhku (tinggiku 177 cm dengan berat 75 kg), ia menciumi bibirku, memainkan lidahnya dalam mulutku sambil tangannya melucuti semua yang kukenakan. Lidahnya menyusuri bagian leherku, bermain di telingaku, turun ke puting susuku dan bergerak melingkar di bagian tersebut. Aku merasakan geli yang luar biasa yang membuat perutku serasa kejang. Tangannya memainkan batang kemaluanku yang berukuran 16 cm dengan kepala batang kemaluan berbentuk seperti jamur. Dengan gerak yang sangat cepat ia menurunkan wajahnya dan memasukkan kepala kemaluanku ke dalam mulutnya. Ia membuat gerakan naik turun dan tetap menggunakan lidahnya untuk memainkan batang kemaluanku. Kadang-kadang Sandra menghisap dengan keras kepala batang kemaluanku sambil melirikku untuk melihat reaksiku. Tatapan matanya sungguh seksi saat itu. Beberapa kali ia memasukkan semua kemaluanku ke dalam mulutnya sehingga aku bisa merasakan ujung kemaluanku seperti menekan tenggorokannya sementara lidahnya berputar-putar.
Aku hanya bisa mendesah nikmat dan tanganku menekan kepalanya untuk memainkan irama. Sandra mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya dan digantikan tangannya yang membuat gerakan naik turun di batang kemaluanku yang basah karena air liurnya sementara kedua kakiku diangkatnya sehingga membentuk huruf V dan ia pun memainkan lidahnya di sekitar lubang anusku. “Aaahh..” aku mendesah keras ketika lidahnya pertama kali menyentuh lubang anusku. Aku belum pernah merasakan rasa nikmat dan geli seperti ini. Setelah itu ia kembali memainkan kemaluanku, lidahnya menjulur mengikuti batang kemaluanku, naik turun berirama, dan turun ke “telur”-ku yang dihisap pelan olehnya. Setelah beberapa saat kami pun berganti posisi, kali ini kami mencoba posisi 69 dengan Sandra di bagian bawahku. Aku membuka bibir kemaluannya dengan jari-jariku dan memainkan lidahku di klitorisnya. Sandra memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya dan membuat gerakan naik turun dengan cepat. Sampai suatu ketika ia mendadak menekan pinggulnya ke wajahku dengan kuat karena orgasmenya kembali. Basah wajahku karena cairan yang keluar dari kemaluannya tak kuhiraukan.
Aku pun mempercepat gerakanku karena kurasa spermaku sudah mendesak untuk dikeluarkan. “Aku hampir keluar.. ahh..” Sandra seperti tidak mendengarkanku dan tetap memaju-mundurkan mulutnya tambah cepat dan ketika aku mencapai puncaknya dia tetap tidak melepaskan kemaluanku dari mulutnya. “Aaahh, ahh, ahh..” aku mendesah panjang ketika spermaku keluar dan melesat ke dinding tenggorokannya. Sandra memundurkan mulutnya sampai batas kepala batang kemaluanku dan kepala kemaluanku dihisap kuat olehnya sehingga pipinya terlihat kempot, tangannya membuat gerakan mengocok batang kemaluanku. Aku menggelinjang merasakan geli dan nikmat yang sangat dahsyat. Batang kemaluanku dihisap dan lidahnya membersihkan sisa-sisa sperma yang tertinggal di batang kemaluanku. Tak ada sedikitpun yang tersisa. Batang kemaluanku bersih mengkilat. Aku melihatnya tersenyum dan membuka mulutnya, memamerkan spermaku yang ada di mulutnya dan ia menelannya sambil menatapku lekat-lekat. Suatu pengalaman yang sangat hebat buatku karena aku belum mengalami pengalaman seperti ini dengan Anita istriku.
Kami berbaring berpelukan di ranjang hotel tersebut sambil menyalakan rokok. Sandra pun bercerita bahwa ia memang maniak dengan apa yang namanya SEKS. Hubungannya dengan suaminya baik-baik saja. Mereka sudah menikah 5 tahun tetapi belum mempunyai anak karena Sandra masih ingin mengejar karirnya, sedangkan suaminya selalu memaksanya untuk mempunyai anak. Ia bercerita bahwa ia selalu merasa puas berhubungan seks dengan suaminya, hanya saja ia malu untuk berterus terang kepada suaminya bahwa ia sebenarnya ingin frekuensi berhubungan lebih banyak lagi karena takut kalau suaminya menganggapnya maniak. Ia juga bercerita bahwa ia sudah mengetahuiku sejak lama dan menyukaiku karena wajahku seperti mantan pacarnya ketika SMA dulu.
Dua batang rokok sudah habis, aku menggendongnya ke kamar mandi dan menyalakan shower. Kami saling menyabuni tubuh dan memainkan bagian vital masing-masing. Setelah tubuh kami bersih kami tidak segera mengeringkan badan tetapi Sandra berjongkok di depanku dan memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya. Ia memaju mundurkan kepalanya sambil tangannya mengocok batang kemaluanku. Aku hanya bisa bersandar ke dinding kamar mandi sambil menikmati hisapannya. Karena batang kemaluanku sudah keras sekali, aku pun mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya ke meja wastafel di kamar mandi. Aku memainkan kepala kemaluanku di bibir kemaluannya, membuat gerakan melingkar perlahan sampai kurasakan kemaluannya basah. Aku memasukkan batang kemaluanku sampai bagian kepala kemaluanku dan memaju-mundurkan pantatku. Sandra yang sudah bernafsu mendesah-desah menyuruhku memasukkan semuanya. Aku mendorong kemaluanku perlahan sampai kurasa sudah masuk seluruhnya dan aku menggerakan pantat maju-mundur makin lama makin cepat. Ketika kurasakan Sandra sudah mendekati puncaknya aku melambatkan gerakan pantatku dan membuat gerakan memutar sehingga batang kemaluanku tertanam lebih dalam di kemaluannya. Sandra menghisap puting susuku dengan kencang, aku memutar-mutar pinggulku lebih cepat sambil kulihat pantulan badan kami yang basah dari kaca di depanku.
Sandra mendesah keras, “Wann.. aku orgasmee.. ohh.. ahh.. ahh,” suaranya seperti tertahan karena ia menggigit bibirnya sendiri. Aku menurunkannya dari meja wastafel, membalikkan tubuhnya dan dengan cepat memasukkan batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluannya. Dengan posisi seperti ini, doggie style, aku menarik rambutnya, mengangkat kepalanya sehingga ia bisa melihat gerakan-gerakan kami melalui kaca di depannya. Jariku kumasukkan ke mulutnya, dihisap dan dibasahi dengan liurnya dan kemudian kumasukkan jari telunjukku ke lubang anusnya sambil tetap menggerakkan pantatku maju mundur. Ketika orgasmenya datang lagi, jari telunjukku serasa diremas kencang oleh otot anusnya dan hal itu membuatku tidak tahan lagi. Orgasme kami datang bersamaan, ia menjerit kencang bersamaan dengan semprotan spermaku ke dalam rahimnya. Setelah kurasa batang kemaluanku mengecil dalam kemaluannya aku pun menarik keluar perlahan dan aku membalikkan badannya. Kami berciuman, bertukar liur melalui lidah kami yang liar dan ia berlulut di depanku dan memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. “Cleaning service,” kata Sandra sambil tertawa.
Kami mandi sekali lagi dan kali ini benar-benar sampai badan kami kering kembali. Aku pamit untuk pulang ke rumah karena ia harus mempersiapkan acaranya dan kami berjanji untuk bertemu lagi malam sehabis acaranya selesai.
BERCINTA DENGAN SEORANG JANDA
POKERBOLA - Aku sebenarnya enggan memperkenalkan diri sebagai dokter, namun untuk kelengkapan cerita, aku terpaksa mengakui bahwa aku memang dokter.
Telah belasan tahun berpraktek aku di kawasan kumuh ibu kota, tepatnya di kawasan Pelabuhan Rakyat di Jakarta Barat. Pasienku lumayan banyak, namun rata-rata dari kelas menengah ke bawah. Jadi sekalipun telah belasan tahun aku berpraktek dengan jumlah pasien lumayan, aku tetap saja tidak berani membina rumah tangga, sebab aku benar-benar ingin membahagiakan isteriku, bila aku memilikinya kelak, dan kebahagiaan dapat dengan mudah dicapai bila kantongku tebal, simpananku banyak di bank dan rumahku besar.
Namun aku tidak pernah mengeluh akan keadaanku ini. Aku tidak ingin membanding-bandingkan diriku pada Dr. Susilo yang ahli bedah, atau Dr. Hartoyo yang spesialis kandungan, sekalipun mereka dulu waktu masih sama-sama kuliah di fakultas kedokteran sering aku bantu dalam menghadapi ujian. Mereka adalah bintang kedokteran yang sangat cemerlang di bumi pertiwi, bukan hanya ketenaran nama, juga kekayaan yang tampak dari Baby Benz, Toyota Land Cruiser, Pondok Indah, Permata Hijau, Bukit Sentul dll.
Dengan pekerjaanku yang melayani masyarakat kelas bawah, yang sangat memerlukan pelayanan kesehatan yang terjangkau, aku memperoleh kepuasan secara batiniah, karena aku dapat melayani sesama dengan baik. Namun, dibalik itu, aku pun memperoleh kepuasan yang amat sangat di bidang non materi lainnya.
Suatu malam hari, aku diminta mengunjungi pasien yang katanya sedang sakit parah di rumahnya. Seperti biasa, aku mengunjunginya setelah aku menutup praktek pada sekitar setengah sepuluh malam. Ternyata sakitnya sebenarnya tidaklah parah bila ditinjau dari kacamata kedokteran, hanya flu berat disertai kurang darah, jadi dengan suntikan dan obat yang biasa aku sediakan bagi mereka yang kesusahan memperoleh obat malam malam, si ibu dapat di ringankan penyakitnya.
Saat aku mau meninggalkan rumah si ibu, ternyata tanggul di tepi sungai jebol, dan air bah menerjang, hingga mobil kijang bututku serta merta terbenam sampai setinggi kurang lebih 50 senti dan mematikan mesin yang sempat hidup sebentar. Air di mana-mana, dan aku pun membantu keluarga si ibu untuk mengungsi ke atas, karena kebetulan rumah petaknya terdiri dari 2 lantai dan di lantai atas ada kamar kecil satu-satunya tempat anak gadis si ibu tinggal.
Karena tidak ada kemungkinan untuk pulang, maka si Ibu menawarkan aku untuk menginap sampai air surut. Di kamar yang sempit itu, si ibu segera tertidur dengan pulasnya, dan tinggallah aku berduaan dengan anak si ibu, yang ternyata dalam sinar remang-remang, tampak manis sekali, maklum, umurnya aku perkirakan baru sekitar awal dua puluhan.
“Pak dokter, maaf ya, kami tidak dapat menyuguhkan apa apa, agaknya semua perabotan dapur terendam di bawah”, katanya dengan suara yang begitu merdu, sekalipun di luar terdengar hamparan hujan masih mendayu dayu.
“Oh, enggak apa-apa kok Dik”, sahutku.
Dan untuk melewati waktu, aku banyak bertanya padanya, yang ternyata bernama Sri.
Ternyata Sri adalah janda tanpa anak, yang suaminya meninggal karena kecelakaan di laut 2 tahun yang lalu. Karena hanya berdua saja dengan ibunya yang sakit-sakitan, maka Sri tetap menjanda. Sri sekarang bekerja pada pabrik konveksi pakaian anak-anak, namun perusahaan tempatnya bekerja pun terkena dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan.
Saat aku melirik ke jam tanganku, ternyata jam telah menunjukkan setengah dua dini hari, dan aku lihat Sri mulai terkantuk-kantuk, maka aku sarankan dia untuk tidur saja, dan karena sempitnya kamar ini, aku terpaksa duduk di samping Sri yang mulai merebahkan diri.
Tampak rambut Sri yang panjang terburai di atas bantal. Dadanya yang membusung tampak bergerak naik turun dengan teraturnya mengiringi nafasnya. Ketika Sri berbalik badan dalam tidurnya, belahan bajunya agak tersingkap, sehingga dapat kulihat buah dadanya yang montok dengan belahan yang sangat dalam. Pinggangnya yang ramping lebih menonjolkan busungan buah dadanya yang tampak sangat menantang. Aku coba merebahkan diri di sampingnya dan ternyata Sri tetap lelap dalam tidurnya.
Pikiranku menerawang, teringat aku akan Wati, yang juga mempunyai buah dada montok, yang pernah aku tiduri malam minggu yang lalu, saat aku melepaskan lelah di panti pijat tradisional yang terdapat banyak di kawasan aku berpraktek. Tapi Wati ternyata hanya nikmat di pandang, karena permainan seksnya jauh di bawah harapanku. Waktu itu aku hampir-hampir tidak dapat pulang berjalan tegak, karena burungku masih tetap keras dan mengacung setelah ’selesai’ bergumul dengan Wati. Maklum, aku tidak terpuaskan secara seksual, dan kini, telah seminggu berlalu, dan aku masih memendam berahi di antara selangkanganku.
Aku mencoba meraba buah dada Sri yang begitu menantang, ternyata dia tidak memakai beha di bawah bajunya. Teraba puting susunya yang mungil. dan ketika aku mencoba melepaskan bajunya, ternyata dengan mudah dapat kulakukan tanpa membuat Sri terbangun. Aku dekatkan bibirku ke putingnya yang sebelah kanan, ternyata Sri tetap tertidur. Aku mulai merasakan kemaluanku mulai membesar dan agak menegang, jadi aku teruskan permainan bibirku ke puting susu Sri yang sebelah kiri, dan aku mulai meremas buah dada Sri yang montok itu. Terasa Sri bergerak di bawah himpitanku, dan tampak dia terbangun, namun aku segera menyambar bibirnya, agar dia tidak menjerit. Aku lumatkan bibirku ke bibirnya, sambil menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Terasa sekali Sri yang semula agak tegang, mulai rileks, dan agaknya dia menikmati juga permainan bibir dan lidahku, yang disertai dengan remasan gemas pada ke dua buah dadanya.
Setalah aku yakin Sri tidak akan berteriak, aku alihkan bibirku ke arah bawah, sambil tanganku mencoba menyibakkan roknya agar tanganku dapat meraba kulit pahanya. Ternyata Sri sangat bekerja sama, dia gerakkan bokongnya sehingga dengan mudah malah aku dapat menurunkan roknya sekaligus dengan celana dalamnya, dan saat itu kilat di luar membuat sekilas tampak pangkal paha Sri yang mulus, dengan bulu kemaluan yang tumbuh lebat di antara pangkal pahanya itu.
Kujulurkan lidahku, kususupi rambut lebat yang tumbuh sampai di tepi bibir besar kemaluannya. Di tengah atas, ternyata clitoris Sri sudah mulai mengeras, dan aku jilati sepuas hatiku sampai terasa Sri agak menggerakkan bokongnya, pasti dia menahan gejolak berahinya yang mulai terusik oleh jilatan lidahku itu.
Sri membiarkan aku bermain dengan bibirnya, dan terasa tangannya mulai membuka kancing kemejaku, lalu melepaskan ikat pinggangku dan mencoba melepaskan celanaku. Agaknya Sri mendapat sedikit kesulitan karena celanaku terasa sempit karena kemaluanku yang makin membesar dan makin menegang.
Sambil tetap menjilati kemaluannya, aku membantu Sri melepaskan celana panjang dan celana dalamku sekaligus, sehingga kini kami telah bertelanjang bulat, berbaring bersama di lantai kamar, sedangkan ibunya masih nyenyak di atas tempat tidur.
Mata Sri tampak agak terbelalak saat dia memandang ke arah bawah perutku, yang penuh ditumbuhi oleh rambut kemaluanku yang subur, dan batang kemaluanku yang telah membesar penuh dan dalam keadaan tegang, menjulang dengan kepala kemaluanku yang membesar pada ujungnya dan tampak merah berkilat.
Kutarik kepala Sri agar mendekat ke kemaluanku, dan kusodorkan kepala kemaluanku ke arah bibirnya yang mungil. Ternyata Sri tidak canggung membuka mulutnya dan mengulum kepala kemaluanku dengan lembutnya. Tangan kanannya mengelus batang kemaluanku sedangkan tangan kirinya meremas buah kemaluanku. Aku memajukan bokongku dan batang kemaluanku makin dalam memasuki mulut Sri. Kedua tanganku sibuk meremas buah dadanya, lalu bokongnya dan juga kemaluannya. Aku mainkan jariku di clitoris Sri, yang membuatnya menggelinjang, saat aku rasakan kemaluan Sri mulai membasah, aku tahu, saatnya sudah dekat.
Kulepaskan kemaluanku dari kuluman bibir Sri, dan kudorong Sri hingga telentang. Rambut panjangnya kembali terburai di atas bantal. Sri mulai sedikit merenggangkan kedua pahanya, sehingga aku mudah menempatkan diri di atas badannya, dengan dada menekan kedua buah dadanya yang montok, dengan bibir yang melumat bibirnya, dan bagian bawah tubuhku berada di antara kedua pahanya yang makin dilebarkan. Aku turunkan bokongku, dan terasa kepala kemaluanku menyentuh bulu kemaluan Sri, lalu aku geserkan agak ke bawah dan kini terasa kepala kemaluanku berada diantara kedua bibir besarnya dan mulai menyentuh mulut kemaluannya.
Kemudian aku dorongkan batang kemaluanku perlahan-lahan menyusuri liang sanggama Sri. Terasa agak seret majunya, karena Sri telah menjanda dua tahun, dan agaknya belum merasakan batang kemaluan laki-laki sejak itu. Dengan sabar aku majukan terus batang kemaluanku sampai akhirnya tertahan oleh dasar kemaluan Sri. Ternyata kemaluanku cukup besar dan panjang bagi Sri, namun ini hanya sebentar saja, karena segera terasa Sri mulai sedikit menggerakkan bokongnya sehingga aku dapat mendorong batang kemaluanku sampai habis, menghunjam ke dalam liang kemaluan Sri.
Aku membiarkan batang kemaluanku di dalam liang kemaluan Sri sekitar 20 detik, baru setelah itu aku mulai menariknya perlahan-lahan, sampai kira-kira setengahnya, lalu aku dorongkan dengan lebih cepat sampai habis. Gerakan bokongku ternyata membangkitkan berahi Sri yang juga menimpali dengan gerakan bokongnya maju dan mundur, kadangkala ke arah kiri dan kanan dan sesekali bergerak memutar, yang membuat kepala dan batang kemaluanku terasa di remas-remas oleh liang kemaluan Sri yang makin membasah.
Tidak terasa, Sri terdengar mendasah dasah, terbaur dengan dengusan nafasku yang ditimpali dengan hawa nafsu yang makin membubung. Untuk kali pertama aku menyetubuhi Sri, aku belum ingin melakukan gaya yang barangkali akan membuatnya kaget, jadi aku teruskan gerakan bokongku mengikuti irama bersetubuh yang tradisional, namun ini juga membuahkan hasil kenikmatan yang amat sangat. Sekitar 40 menit kemudian, disertai dengan jeritan kecil Sri, aku hunjamkan seluruh batang kemaluanku dalam dalam, kutekan dasar kemaluan Sri dan seketika kemudian, terasa kepala kemaluanku menggangguk-angguk di dalam kesempitan liang kemaluan Sri dan memancarkan air maniku yang telah tertahan lebih dari satu minggu.
Terasa badan Sri melamas, dan aku biarkan berat badanku tergolek di atas buah dadanya yang montok. Batang kemaluanku mulai melemas, namun masih cukup besar, dan kubiarkan tergoler dalam jepitan liang kemaluannya. Terasa ada cairan hangat mengalir membasahi pangkal pahaku. Sambil memeluk tubuh Sri yang berkeringat, aku bisikan ke telinganya, “Sri, terima kasih, terima kasih..”.
BERCINTA DENGAN WANITA SETENGAH PERAWAN
POKERBOLA - Ini merupakan pengalaman pertamaku. Tapi bukan berarti baru pertama kali aku melakukan senggama, tapi pertama dalam arti mendapatkan wanita dengan status setengah perawan. Lho kok bisa setengah perawan, barangkali itu yang menjadi pemikiran para pembaca budiman. Setengah perawan itu dengan pengertian, tidak pernah disetubuhi laki-laki, tapi kemaluannya pernah dijilati pacarnya dan dimasuki jari tangan sehingga perawannya jebol, tapi masih perawan karena tidak pernah dimasuki kemaluan lelaki. Ini yang disebut setengah perawan.
Aku mendapatkan Sri secara kebetulan. Ketika itu, aku yang senang naik bus kota karena banyak bertemu dengan karyawati, sedang menunggu di halte bus kawasan Slipi. Ketika sedang duduk-duduk menanti bus, seorang gadis dengan wajah tidak terlalu cantik dan tidak jelek, berkulit putih dengan payudara yang tidak terlalu besar (seperti kesukaanku), berjalan ke arahku dan langsung duduk di sebelahku. Perilakunya terkesan cuek, seperti pada umumnya cewek Jakarta. Aku mencari akal, bagaimana cara untuk mengajak ngomong cewek ini. Aku punya pikiran untuk minta maaf karena akan merokok. Ketika aku minta ijin merokok, Sri dengan senyum manisnya menyatakan tidak keberatan. Selanjutnya obrolan kian akrab dan saling tukar nomor handphone. Aku dan Sri kemudian berpisah karena tujuan kami berbeda. Aku mau ke Blok M sedang Sri mau ke Kampung Melayu, rumah temannya.
Malam harinya, aku sudah tidak sabar untuk menghubungi telepon selulernya. Obrolan pun terjadi, cukul lama. Hampir setiap hari aku telepon. Obrolannya pun mulai mengarah ke masalah pacaran. Dia mengaku baru saja putus dengan pacarnya karena menghamili gadis lain. Pura-pura sok suci, aku pun menasehatinya untuk tabah dan tawakal karena memang bukan jodohnya. Hubungan via telepon ini cukup lama, sekitar dua minggu dan hampir setiap hari aku selalu menghubunginya. Menginjak minggu ketiga, aku memberanikan diri mengajak untuk jalan-jalan. Karena aku belum lama di Jakarta, aku minta diantar ke Ancol, ternyata Sri tidak keberatan.
Malam Minggu, aku dan Sri dengan naik sepeda motor pergi ke Ancol. Aku berpura-pura alim dan bercerita tentang masa laluku, dan cerita itu kubuat sedemikian rupa sehingga terkesan aku ini punya sifat terbuka. Dia juga menceritakan masa lalunya, termasuk tentang dirinya yang sudah setengah perawan. Di Ancol, aku juga menghindari untuk menciumnya. Ternyata sikapku yang sok suci ini membuat dia jatuh hati.
Memasuki minggu keempat, dia mengajakku untuk pergi jalan-jalan. Dia minta ke puncak dan berangkat minggu pagi. Usulnya kuterima dengan alasan aku juga belum pernah ke sana (padahal, di kawasan dingin itulah, aku sering membawa cewek-cewek Jakarta). Sekitar pukul 06.00, aku sampai di Terminal Rambutan dan tidak lama kemudian dia juga sampai di satu titik yang telah ditetapkan bersama. Singkat cerita, sekitar pukul 08.30, aku dan dia sampai di Puncak. Setelah sarapan, kita kemudian mencari tempat untuk melihat-lihat pemandangan. Di puncak, aku melihat Sri mulai aktif dengan menggandeng tanganku. Aku berpikir, inilah saatnya untuk mengeluarkan jurus terampuh, apalagi Sri ini termasuk wanita terlama yang aku minta menyerahkan barangnya (sekitar sebulan).
Setelah mendapatkan tempat duduk, aku dan Sri kemudian terlibat pembicaraan hangat. Saat itu, mendung semakin tebal. Aku kemudian bilang sama Sri untuk mencari tempat karena hujan lebat tidak lama lagi akan turun. Tanpa kuduga, Sri menerima karena dia mengaku senang dengan sifat keterbukaanku dan berharap aku bisa jadi suaminya. Itulah kelemahan wanita, yang cepat percaya, yang akhirnya akan jadi korban lelaki.
Aku dan Sri kemudian mencari tempat dan tidak terlalu sulit untuk mendapatkannya. Singkat cerita, aku dan Sri sudah masuk ke kamar. Dengan sikap jantan dan tidak tergesa-gesa, aku dan Sri kemudian menonton televisi sambil ngobrol-ngobrol dan sekali-kali menyinggung tentang seks, terutama ketika kemaluannya dicium oleh pacarnya dulu. Pertanyaanku ini ternyata membuatnya bersalah dan berjanji tidak akan mengulangi lagi, kecuali pada calon suaminya. Dengan rayuan gombal, Sri tampak percaya sekali kalau aku merupakan calon suaminya.
Kemudian kucium pipinya dan Sri diam saja sambil menutup matanya. Setelah itu, dengan gaya halus, aku minta ijin untuk mencium bibirnya. Tanpa ada jawaban, Sri langsung menyosor bibirku, dan tanpa dikomando bibirnya segera kulumat dan tanganku menggerayangi payudaranya yang tidak terlalu besar. Ketika putingnya kuraba, dia mulai melenguh. Dengan gerakan halus, aku mulai membuka pengait BH-nya sehingga terbukalah bukit kembar miliknya. Sementara bibirku sudah beralih, tidak lagi di bibirnya tapi sudah menjilati telinga, dan lehernya. Karena buah dadanya sudah terbuka, mulutku pun bergeser ke puting susunya yang sudah menegang. Ketika kumainkan dengan lidahku, lenguhannya semakin panjang. Tangankupun tidak tinggal diam, retsleting celana panjangnya kubuka dan tanganku menerobos masuk dan dia tampaknya diam saja.
Sambil memainkan clitorisnya, aku terus menjilati kedua payudaranya. Ketika aku merasakan kemaluannya sudah sangat basah, aku coba membuka celana panjangnya, ternyata dia mengangkat pantat sehingga memudahkan aku melepas celana panjang sekaligus celana dalamnya. Setelah terlepas, tanganku pun membuka baju kaos dan BH-nya. Dalam waktu singkat, Sri sudah telanjang bulat sedang aku masih berpakaian rapi. Melihat ini, Sri pun protes dan segera membuka T-Shirt warna putih milikku. Bersamaan itu pula, aku melepas celana panjang dan celana dalamku sehingga aku dan dia sama-sama telanjang bulat. Dalam keadaan begitu, aku kemudian mengajaknya masuk ke kamar dan dia tampak setuju atas ajakanku. Begitu duduk di pinggir kasur, aku langsung menyerang bibirnya dan tangannya kubimbing untuk memijit-mijit penisku yang sudah menegang berat. Sedang tanganku kembali ke vaginanya yang sudah becek.
Tak lama kemudian, aku mendorongnya jatuh ke kasur. Mulutkupun segera menyusuri bukit kembarnya. Sri terus-menerus melenguh dan tampak sudah pasrah. Ketika aku minta supaya penisku dimasukkan, dia tak menjawab dan hanya tangannya merangkul leherku erat-erat. Inilah tanda-tandanya dia sudah tidak kuat. Aku pun segera menindihnya dan tanganku mengarahkan penisku ke liang vaginanya. Ketika kudapati lubang kenikmatan, segera penisku kutekan. Tapi tidak segampang wanita lain yang pernah kuajak bersenggama, lobang vagina Sri sangat sempit sekali. Berkali-kali kucoba untuk menekannya, masih tak berhasil menembus juga. Setelah lama dengan keringat membasahi tubuh, kepala penisku akhirnya dapat masuk, tapi setelah itu seperti lubangnya buntu. Karena aku sudah capek, babak pertama dengan tanpa hasil itu kuhentikan. Aku dan dia kemudian tiduran sambil tanganku memainkan puting susunya. Selang beberapa saat kemudian, aku dan Sri tertidur.
Sekitar satu jam kemudian, aku terbangun karena kedinginan dan penisku tegak kembali. Aku kemudian mencium kening Sri hingga terbangun. Setelah itu, aku langsung melumat bibirnya yang cukup sensual. Tanganku kembali bermain di vaginanya hingga basah. Melihat kenyataan ini, aku kembali menindihnya dan mencoba memasukkan penisku dan ternyata kembali gagal, hanya kepala penisku yang masuk. Karena berkali-kali gagal, aku kemudian mengangkat kakinya yang kecil mulus ke atas hingga belahan vaginanya terlihat jelas. Dalam posisi ini, aku mencoba memasukkan penisku dan lagi-lagi hanya kepalanya saja yang masuk.
Aku kemudian berpikir bahwa Sri barangkali tegang hingga otot-otot vaginanya ikut tegang sehingga elastisitas vaginanya menjadi berkurang. Karena itu, aku kemudian mendiamkan saja kepala penisku terbenam di liang vaginanya dan aku kemudian membisikkan kata-kata gombal kepadanya.
Tampaknya, rayuanku mengena sehingga kurasakan otot-otot vaginanya mulai melemas dan kesempatan itu kugunakan untuk kembali menggenjot penisku dan berhasil masuk setengah, setelah itu vagina Sri kembali mengeras. Melihat ini, aku membiarkan penisku terbenam tanpa berusaha kucabut. Rayuanku pun tak berhenti. Selang beberapa waktu kemudian, aku kembali merasakan otot vaginanya melemas dan kembali kutekan penisku hingga masuk dan total sekitar tiga perempat. Setelah itu, otot vaginanya kembali kaku dan tidak melemas meski sudah kurayu atau kubisikkan supaya tidak tengang dan menerima saja keadaan ini karena sudah telanjur masuk.
Karena buntu, aku berusaha mencabut penisku. Ketika akan kutekan lagi, ternyata buntu. Aku kemudian memintanya untuk rileks dan akhirnya penisku bisa masuk tiga perempat seperti semula. Aku kemudian mencabut penisku dengan perlahan, begitu keluar aku kembali memasukkannya, ternyata buntu lagi. Terus terang aku menjadi keki juga. Aku lantas bilang untuk rileks saja, dan kalau dia rileks maka penisku bisa masuk tiga perempatnya.
Karena pengalamanku dua kali, aku tak mau mencabut tapi langsung memutar-mutarkan penisku, dan terlihat olehku bibirnya menyeringai dan sesekali dia melenguh panjang. Kurasakan, vaginanya sangat basah. Ketika kutanya apakah sakit, dia ternyata diam saja maka penisku kembali kuputar-putar dan lama-lama menjadi cepat, ketika itu pula dia melenguh panjang dan tangannya mencengkeram punggungku. Ketika itulah, dia menjerit panjang sambil mengatakan, “Aduh Mas, enak Mas..”. Mendengar ini, putaranku semakin cepat dan selang beberapa lama dia menjerit dengan mengatakan hal yang sama. Ketika aku merasakan vaginanya sudah sangat basah, kucoba untuk mencabut penisku dari liang vaginanya, begitu aku menekan lagi ternyata buntu lagi. Sungguh, aku sangat heran dan baru pertama kali ini aku menemukan vagina seperti ini.
Karena sudah keki, aku minta dia supaya menjilati penisku. Awalnya, dia menolak karena tidak biasa dan jijik. Tapi setelah kurayu dan aku janji akan menjilati vaginanya, dia pun setuju. Setelah aku mencuci penisku, dia mulai menjilati. Awalnya, jilatannya tidak terasa karena masih merasa jijik. Tapi lama kelamaan jilatannya menggairahkan dan Sri mau memasukkan penisku ke mulutnya. Gerakannya pun makin lama makin kuat. Karena aku sudah terangsang dan sejak tadi begitu lama berjuang untuk mengebor vaginanya, akupun merasa penisku mulai berdenyut-denyut. Tanpa harus kutahan (daripada tambah pusing) aku pun mengeluarkan spermaku ke mulutnya. Merasa ada cairan masuk ke mulutnya, Sri melepas kulumannya dan memuntahkan sperma. Sri lantas seperti orang mual mau muntah. Aku tak peduli dan tanganku mengocok-ngocok penisku hingga spermaku banyak yang tumpah di kasur dan tubuhnya.
Setelah aku dan Sri mencuci kemaluan masing-masing, kemudian kami tiduran di kasur. Selang beberapa lama, Sri memintaku untuk menjilati vaginanya. Meski aku di kantor terkenal dengan julukan penjahat kelamin, tapi aku belum pernah menyosor barang milik perempuan, karena aku yakin wanita yang kutiduri selalu puas dengan permainan ranjangku. Permintaan itupun kutolak halus dengan alasan lemas dan mengantuk. Aku dan Sri pun akhirnya tertidur lagi karena kecapaian.
SUKSES SEKALI
POKERBOLA - Aku masih jengkel dengan suasana hari ini. Pagi-pagi kok sudah adu mulut, kalau sudah begitu maka satu hariku penuh pasti penuh kemuraman dan kedongkolan. Emosiku sudah menyedot energi sampai-sampai kerjapun tidak konsentrasi dan asal masuk kantor saja. Huahm, emang cewek susah sekali dimengerti. Ada saja yang bisa membuatnya ngomel panjang pendek. Misal karena telat jemput tadi pagi, padahal toh cuma persoalan 5 menit (ditinjau dari setting arlojiku maksudnya, he… he… he…). Kapan-kapan gara-gara lupa mampir beliin minyak wangi titipannya, lain waktu gara-gara ketiduran di gedung bioskop, dan sebagainya.
Berhubung kejengkelanku belum sirna sama sekali maka aku cabut dari kantor sebelum jam 4, toh berlama-lama di kantor juga percuma. Mondar-mandir ke toilet cuci muka, pura-pura buang hajat padahal ngerokok, pura-pura serius menatap monitor padahal tidak ada satu file-pun yang kubuka kecuali screen saver yang meliuk-liuk warna-warni (untung meja kerja kami diberi pembatas meskipun tidak penuh, sehingga masing-masing karyawan masih memiliki privacy yang cukup memadai).
Jadi sejak persengketaan tadi pagi sampai sore ini komunikasi kami sementara terputus, di mana masing-masing pihak sedang sibuk menenangkan (atau melepaskan) ledakan emosi dengan cara masing-masing. Aku suka keluyuran putar-putar tanpa arah yang penting adalah bergerak. Kalau cewekku paling pol juga mencari korban lagi di antara sahabat-sahabatnya untuk dicurhati sampai diusir saking kuping mereka sudah panas. Kalau yang sudah pernah pengalaman dicurhati bakalan jauh-jauh sudah pasang tampang pedes, staf-staf barulah yang masih hijau yang bakalan jadi sasaran empuknya. Tapi herannya kok ya masih pada mau berdekat-dekatan sama cewekku ini, masih mau bergerombol-gerombol makan siang atau jalan-jalan ke mall dekat kantor mereka. Demikian kali ya dunia kaum hawa. Mereka masih lebih membutuhkan satu sama lain meskipun suka saling omel-mengomeli.
Darahku semakin mendidih saja, lagi emosi begini kena macet lagi, sumpah serapahku mengalun tak henti-hentinya dan terus menderu-deru laiknya gas mobil yang kutekan-tekan. Ketololanku adalah aku lupa jam segitu di Jakarta adalah saat-saat lalu lintas lagi padat-padatnya, lha kok malah keluar jalan-jalan cari angin, rencananya, hasilnya yang ada malahan bukan jalan-jalan akan tetapi beringsut-ingsut. Kusumpahi semua orang di jalan kenapa mereka tumpah ruah tanpa mempedulikan kebutuhanku. Mbok ya sana cari jalan lain jauh-jauh dari aku atau bikin sendiri-sendiri saja, lebih bagus lagi kalau pada minggat dari Jakarta.
Sampai akhirnya kuputuskan daripada jalan tak tentu arah maka aku belok ke Grand Wijaya wilayah Blok A, di sana aku bisa memilih mau nonton atau pijat, atau nongkrong ngopi saja. Sejenak aku meminggirkan mobil untuk menimbang-nimbang. Ah, yang paling tepat adalah memarkirkan mobil di dalam kompleks. Perkara nanti akhirnya ingin sekadar nongkrong saja toh tinggal jalan kaki keluar menuju sisi luar dari kompleks, di sana ada beberapa cafe lumayan.
Kuarahkan mobilku menuju lokasi parkir dekat ATM berwarna biru sekalian mau narik cash. Syukurlah ternyata masih ada satu yang kosong. Dari dalam mobil kulihat ada beberapa orang yang lagi antre. Dan oh… Ada dua sosok cewek di antara antrean itu. Mereka bercanda. Yang satu berambut panjang, mata besar, hidung mancung, tinggi langsing, berkulit kuning langsat dengan kaos ketat warna pink. Satunya sedikit lebih pendek, hidung lokal termasuk matanya, kulit krem (lebih terang dari hitam manis), berkemeja coklat, rambut potongan pendek, sedikit lebih montok, teteknya maksud saya. Hmm hehe. Keduanya memakai celana jeans di mana kaosnya sama-sama menggantung tidak menjangkau sampai celana. Standar pakaian cewek masa kini, menyisakan kulit-kulit pinggang untuk disiarkan. Bagus juga sih begitu, hihihi. Malah ada yang sampai CD-nya nyaris kelihatan semua ketika nungging dibonceng motor pacarnya atau dibonceng tukang ojek atau dibonceng pacarnya yang tukang ojek. Yang pasti adalah pantat yang berambut pendek ini lebih besar dari yang berambut panjang.
Sebaiknya kuberdiam diri dulu di dalam mobil saja sambil secara leluasa memandangi cewek-cewek itu secara lebih leluasa. Mereka tidak bakalan tahu kutatapi begini, film kaca mobilku 70%, sangat gelap. Sudah keluar satu makhluk dari ATM. Seekor cowok, sekilas melihat para cewek tadi. Terus ngeloyor entah ke mana. Masih ada 5 lagi, ada 3 ekor Om-Om selain ke dua bidadari itu (hihi, sori ya Om-Om). Kalau ternyata salah satu cewek itu hanya mengantar maka tinggal 4 antrean lagi. Baiklah, nyantai saja, aku toh punya waktu banyak. Kuputar CD lagu. ‘Girl from Ipanema’ yang Bossas itu yang pertama mengalun.
Seleraku memang rada-rada ndangdut, makanya koleksiku lebih mengarah pada lagu-lagu latin ketimbang rock atau pop. Ketukan-ketukan perkusi lebih mampu memikat hatiku ketimbang suara-suara tiup atau ringkikan-ringkikan gitar elektrik. Tinggal satu lagi sebelum para cewek itu. Aku keluar mobil persis satu lagu tadi habis. Kuberdiri di belakang si Krem Manis.
Kutatap tengkuknya (rambutnya pendek, jadi tengkuknya ternampak, lalu aku tengok saja), ada bulu-bulu halus. Mereka menoleh ke arahku, wajar sekadar ingin tahu kedatangan orang. Sengaja kutatap langsung ke arah mata salah satu dari mereka, yang berambut panjang. Yang satu ini berdirinya tegak lurus (90′) dengan arahku jadi dia lebih mudah membelokkan kepalanya ketimbang si Krem Manis yang membelakangiku. Kami agak lama saling bersitatap, kira-kira 7 detik (mungkin kalau kita menatap orang secara ‘menohok’ akan menimbulkan hawa hipnotis kali ya, sehingga lawan tatapan kita akan tercekat seolah-olah terperangkap seperti kucing menatap tikus).
Mereka melanjutkan canda tawa, cekikikan sana cekakakan sini, menimbulkan kesan memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Anak gaul kali. Yang begini lebih tepat kalau langsung disapa bila kita memang ingin kenalan. Kalau memang mau maka tidak akan memerlukan waktu lama untuk segera berakrab-akraban, kalau memang tidak ingin juga akan jelas. Kalau cewek-cewek manis rumahan serba tidak jelas, mau dan enggak sulit dibedakan meskipun pada akhirnya mau. Tergantung tingkat kenekatan cowoknya.
Tapi itu persepsiku semua yang kusadur dari cerita teman-temanku yang berpengalaman yang sebentar lagi akan kupraktekkan (jadi jangan tersinggung ya pemirsa, cool aja). Anehnya kok sukses sekali pengalaman praktek kerja lapangan yang baru pertama kali kujalani ini. Oh, kenapa nggak dari jaman dulu kala.
Kucoba cari momen bersitatap kembali. Siapa saja dari kedua orang ini. Caranya, pandang mereka bergantian terus-menerus. Bila mereka akhirnya menoleh karena merasa diperhatikan, langsung lempar senyum dan ucapkan salam.
“Hai….”
Memang begitulah kebetulan akhir dari drama caper (cari perhatian) ini, lalu dilanjutkan dengan dialog-dialog standar sebagai berikut.
“Kenalin, Prakosa…” tanganku sudah melaju ke depan.
“Winnie,” jawab si Langsat.
Untung disambut. Kalau enggak ya biasa, kadang untung kadang buntung. Kayak dagang, mengandung resiko.
“The Pooh,” batinku.
“Ruly,” jawab si Krem.
“Mau nonton?” aku bergegas.
“Yoi,” jawab si Tinggi (atau sama juga dengan yang Kuning alias Winnie, baca lagi deskripsi di atas kalau lupa yahh).
“Apa nih?”.
“Collateral”.
“Wah kok sama ya,” jawabanku akan selalu fleksibel dalam situasi darurat-darurat macem begini. Mengikuti arah angin. Jurus-jurus cowok sepanjang masa.
“He he he, kuno deh,” Ruly nyengenges bijak atas siasat-siasat kuno begini.
“Tapikan manjur sepanjang masa. Ya kan?”.
“Yoi, so bertiga nih?” potong si Mancung (hayo, ingat yang mana..).
“Jelas, ada kasus?” maksudku ‘ada kasus’ adalah ‘ada masalah’ atau ‘keberatan’. Eh mereka cepat mengerti dengan kata yang baru kugunakan itu.
“No problem-lah. Tapi you yang antre, nih duit kami berdua.”
“Ok deh, nggak mau dibayarin nih?” basa-basi kunoku muncul ulang.
“Udah deh, rileks aja.”
“Sip deh.”
Lalu kami meninggalkan lokasi ATM. Sambil ngobrol tentunya. Benarkan kataku, cewek-cewek ini emang anak gaul jadi enak digauli (maksudku diajak bergaul, jangan nafsu dulu dong, entar ada epsiodenya sendiri).
“Wah main jam 8 nih, gimana nona-nona?”. Ternyata jam main Collateral jam 8 ketika kulihat jadwalnya, masih ada 1 jam lagi.
“Ya udah makan dulu aja yok,” Ruly menawarkan solusi.
“Tapi mending beli tiket dulu kali,” ujarku.
“Sure, antrelah dikau,” Winnie menginstruksikan.
Langsung aku menuju loket sementara mereka menuju sofa-sofa tunggu. Antrean tidak terlau panjang, soalnya bukan hari libur dan bukan harinya nomat. Ini hari Kamis pemirsa, tepatnya tanggal 16 September 2004 kalau mau tahu. Sori ya lupa kasih preambul. Sori dong. Giliranku maju.
“3 orang Mbak, minta di baris C tengah deket gang ada nggak?” pesanku sambil menyerahkan uang.
“Baik.”
Kuamati si penjaga loket. Wow, di bibirnya ada bulu kumis tipis. Seksi sekali cewek ini. Dia tahu kalau kuamati. Senyum tipis ketika melirik. Disodorkan tiket. Kulirik tangannya, oh mijn god, ada bulu-bulu kucingnya juga. Kuambil tiket sambil sengaja kusentuh tangannya. Melirik dan tersenyum lagi doi. Secara cepat kilat kuambil kartu namaku dan kuserahkan bersamaan ketika dia menyerahkan uang kembalian. Kukedipkan mataku, dia mencebirkan bibirnya. Adegan-adegan ini amat merangsangku.
“Yok makan,” kejemput kedua bidadari tadi di sofa penunggu.
Mereka duduk membelakangiku. Kami keluar gedung kembali mencari tempat makan.
“Apa dong?” sejenak kami berembug.
“Ayam goreng aja, tuh ada fast food,” sesuai dengan potongan rambutnya yang pendek, selera makannya pun praktis juga nih si Kemeja Coklat (Ruly, huh lupa melulu nih pemirsa).
“Nggak nglawan, ayo,” nggak nglawan tuh setuju aja maksudnya. Kami mencari tempat duduk di pojok setelah memesan makanan. Giliran makan aku didiamkan saja untuk membayar. Ternyata mau juga dibayarin. Naluri kewanitaanya keluar deh, naluri dibayarin. Hihihi.
Lalu kami sambil bersantap melanjutkan perkenalan kami.
“Lu-lu pada kerja apa masih sekolah?”.
“Kul, di LA”.
Untung aku tahu LA itu Lenteng Agung, pada suatu ketika sekian tahun yang lalu baca koran mengenai sebuah perguruan tinggi ilmu sosial swasta yang cukup dikenal itu.
“Dua-duanya?”.
“Yup, kami sekelas.”
“Jurnalistik?”.
“Yup,” keriuk-keriuk ayam renyahnya tanpa sungkan-sungkan disiarkan suaranya oleh Ruly.
“Ker di mana lu?”.
“Di Kuningan, kantorku jualan alat-alat telekomunikasi.”
“Wah untung lu nggak kena bom, kalau kena nggak bakalan lu nemuin cewek-cewek cakep kayak kita gini, hehe,” cengengesen melulu nih si Pantat Montok.
“Hush, kita masih perlu berduka buat mereka jangan bercanda yang begituan,” aku pura-pura serius.
“Upps, sori Bang.”
“Lu berdua rajin nonton ke sini emang?” kualihkan ke suasana yang kembali rileks.
“Nggak sih, kadang. Tadi mau ke KC tapi mendingan ke sini aja, maklum anak sekolahan duit masih minta bokap,” jawab si Langsing.
“Ooh…” aku hanya ber oh-oh. Soalnya sekelebat bayangan penjaga loket yang bibirnya berkumis halus muncul.
“Lu tingkat berapa? Dan entar mau kerja di mana?”.
“Lagi skripsi, kerja apa aja. Susah deh gini hari cari ker, mau nampung?” kata Winnie.
“Mau numpang aja, hehe,” candaku memancing.
Tapi sekelebat bayangan si bulu kucing melintas lagi. Aku terhorni lagi.
“Jidat lu, enak aja numpangin orang, baru juga kasih makan dah nglunjak,” Ruly cekakakan menjawab.
“Loh, ini bukan urusan makan, tapi urusan setelah makan,” aku nyosor terus.
Inilah gunanya cari tempat duduk mojok biar kalau ngomong kebablasan begini seminimal mungkin dipergoki orang.
“Lu nggak pingin jadi wartawan aja?” kucoba manuver biar nggak ketahuan terlalu bernafsu.
“Boleh juga, tapi nggak tahulah entar aja. Kayaknya ramai juga persaingan jadi wartawan.”
“Eeh, belon-belon kok pesimis. Lu pada mesti punya tujuan dari sekarang entar mau apa mumpung belon lulus,” sok tua deh aku menasihati mereka.
“Maunya sih jadi pembawa berita, bacain doang tapi keren tuh,” cekikikan lagi Ruly. Kuevaluasi ternyata memang Ruly yang lebih bawel ketimbang Winnie.
“Eh sudah kurang 10 menit lagi, yuk,” sela Winnie.
“Lu mau di tengah apa di pinggir,” kata Winnie lagi.
“Tengah dong, biar adil,” hidungku kembang kempis serasa mendapat suplai oksigen berlebih.
“Bener ya yang adil, awas kalau Ruly aja yang dijamah, huahaha,” meledak tawa Winnie atas kejorokannya sendiri.
“Dijamin, dosa kalau enggak,” wah kubawa-bawa jargon agama segala.
“Muka lu bawa-bawa dosa segala,” cekikikan Ruly.
Mereka sudah mulai mau merapat-rapat jalannya denganku. Kadang buah-buah mereka tersenggol-senggol lenganku. Permulaan yang bagus. Tapi masalahnya aku saat ini lagi horni ke orang lain. Jadi kubayangkan toket si Penjaga Loket yang gede juga ukurannya yang menyenggol-nyenggol lenganku. Suara-suara panggilan ke studio 3 sudah berkumandang. Itu studio di mana Collateral diputar. Kami langsung masuk dan tanpa sungkan aku mengambil duduk di tengah.
“Geer lu,” Winnie mendengus. Dengan mantap aku duduk di tengah mereka sambil nyengir. Dering SMS berbunyi, kubaca. Upps, dari Penjaga Loket.
“Mau ketemuan nggak?” tulisnya.
Kujawab dengan semangat, “Malam ini jam 11 langsung aja ke hotel M di M, ok honey?”. Uji coba langsung ke pokok persoalan.
“Ok deh”. Eh disambut. Ruaarr biasa.
Mereka di kanan kiriku cuek dengan aktivitasku. Lengan-lengan kami sudah saling bersentuhan. Kanan kiri. Kayak raja minyak kupikir-pikir, dikelilingi wanita selalu. SMS berdering lagi.
“Lu di mana?”
Aduh pacarku sudah mulai mau berbaikan kembali. Kubiarkan saja besok tinggal bilang ketiduran dari sore atau HP dimatiin lagi dicharge. Kumatikan HP ketika film sudah mulai. Kutengok kanan kiri.
“Mau ngapain lu,”
Kupikir marah nggak tahunya serentak mereka mendekatkan diri dan memasukkan lengan masing-masing ke lenganku. Anak-anak gaul sejati. Mereka sudah membelitkan diri. Nah, tetek-tetek mereka sudah mulai langsung kontak dengan diriku. Yang terasa emang punya Ruly, lebih gede sih. Kepala mereka disandarkan di pundakku. Aku meregangkan tanganku ke arah paha-paha mereka. Di samping lengkanku dapat menekan-nekan penuh tetek-tetek mereka, aku mencoba lebih intim lagi.
Kuusap-usap pelan lalu kubiarkan parkir dulu di sana.
“Hmm, mulai nafsu nih ye,” cekikikan mereka berdua.
Kutoleh ke kiri, Ruly, “Excuse me, your lips”.
Kukecup bibir Ruly. Lalu ke kanan, “Please.” Kukecup juga bibir Winnie.
Kulepas belitan lengan kemudian aku merengkuh melalui belakang punggung mereka. Maksudku agar aku dapat menjamah tetek mereka. Kalau dalam posisi tadi sulit sekali, posisi lenganku di depan tubuh mereka.
Film bagiku sudah menjadi nomor sekian. Aku sedang berkonsentrasi dan menyibukkan diri meraba. Kuusap pelan mulai dari perut. Arah hidung mereka tidak lagi ke depan, lebih dekat ke leherku. Secara perlahan hembusannya semakin dalam dan kuat.
“Ehhm..”.
Kuputari pinggiran tetek mereka dengan telapak tanganku dengan usapan-sapan, ujung jari telunjukku kusentuhkan ke puting. Tidak menekan, hanya menyentuh.
“Ehhm.. Ooh…” lenguhan-lenguhan tipis dan hembusan udara dari hidung mereka menerpa leherku semakin kencang. Kontolku semakin tegang. Sejak masuk ke ruangan sebenarnya sudah, saat ini semakin kencang. Lebih-lebih tangan-tangan mungil mereka mulai mencari-cari selangkanganku, persis di bawah kontol, lalu mengurut masing-masing kanan dan kiri. Ini sebenarnya lebih nikmat sebagai pembukaan ketimbang langsung pegang kontol. Lebih-lebih ketika menyentuh persis di pangkal batang di antara dua bola bakso itu. Wuuihh. Ampun deh. Nampaknya mereka ahli sekali.
Jangan-jangan mereka eks tukang pijat, atau nyambil. Hihi.
Setelah agak lama aku mengusap-usap kaum tetek itu, kutingkatkan dengan meremas. Kusorong dari bawah ke atas. Pelan tapi kuat.
“Ohh.. Oohh.. Mas…” berselingan di telinga kanan-kiriku lenguhan-lenguhan yang agak keras suaranya. Aku sadar, lalu kutengok ke sekitar. Untunglah sepi, dan yang ada duduknya berjauhan. Barangkali mereka sedang beradegan sendiri juga. Kalau penontonnya pada begini mending mereka nyewain tempat aja, film nggak usah diputar, asal dikasih suara audio kenceng-kenceng dan lampu dimatikan. Hehehe. Kulanjutkan ya pemirsa.
Rupanya si Winnie sedang mencoba membuka resleting, kubantu mengangkat pantat. Jeans memang sulit dibuka resletingnya. Aku nanti nggak mau kalah juga ah, tapi sementara ini aku masih menikmati aktivitas meremas.
Kutoleh ke kanan, kupagut mulut Winnie. Lidah kami beradu seperti bergulat di dalam mulut dan saling memilin. Berkecap-kecap enak rasanya. Kugilir Ruly kemudian. Dia sudah menengadah siap dilumat. Dengan rakusnya kuhisap dan kutelan bibirnya secara penuh sementara lidahku menjulur ke dalam mencari lidahnya. Diadu dengan sekuat-kuatnya lidah-lidah kami.
Sementara itu Winnie sudah berhasil melolosi burungku dari sangkarnya. Kepalanya turun, dielus terlebih dahulu si my little brother. Lalu mulai dijilati dengan lembut. Ketika dia menunduk tanganku menyusup di balik kaosnya lalu menyusup di dalam kutangnya. Sekarang teteknya telah kujamah secara langsung. Lembut sekali kulitnya. Lumayan sudah keras, kucari putingnya lalu kusentuhi dengan ujung telunjuk jari. Semakin cepat kegiatan Winnie dalam menjilat akibat rangsangan di putingnya. Tangan kiriku tak kalah nggragasnya sudah
Meremasi tetek Ruly langsung di dalam kutangnya. Lidah kami masih beradu dan bertempur. Saking nafsunya aku lupa mengambil nafas sampai tersedak. Kuhisap oksigen sebanyak-banyaknya lalu mulai kuserbu lagi Ruly, kali ini leher dan belakang telinganya. Dia mengelinjang liar. Badannya tertegak-tegak, karena posisinya jadi lebih lurus menjadi terbuka kesempatan bagi tanganku untuk masuk ke dalam celananya. Kutelusuri sampai menemukan gundukan. Kuusap. Semakin liar goyangan kepala Ruly, desahannya sudah mulai tak terkendali. Biarlah, suara sound system sangat kencang, mungkin bisa melindungi erangan-erangan kami.
“Ahh.. Esshh.. Oohhss,” terjepit tanganku oleh selangkangan Ruly.
Horni berat nampaknya dia. Kucoba lepaskan dan mulai menyusup ke dalam CD-nya. Jembutnya tebal sekali dan kaku. Kubekap sejenap gundukan itu, gemas aku. Kuremas-remas.
“Masshh.. Ouugh.. Ahhg.. Shh…” dibantu tanganku meremasi gundukannya oleh tangannya dari luar celana.
Jari tengah tanganku tepat berada di belahan veginya. Kuperosokkan untuk mencari itilnya, telah basah sekali suasana internalnya. Ketemu. Kutekan-tekan.
“Aadduuhh.. Masshh.. Ahhgg.. Teruusshh.. Teruusshh…”
Semakin mengejang-ngejang Rulyku. Semakin cepat lalu menegang sampai tanganku terjepit kuat oleh selangkangannya.
“Ahh.. Masshh.. Uudaahh.. Keelluuaarrh.”
Gantian tangan kananku menyusup ke dalam celana Winnie. Dia masih asik mengenyot rudalku yang sudah mulai menetes-menetes.
Kutahan-tahan biar tidak jebol dengan mencoba memperhatikan film. Jembut Winnie tidak setebal Ruly dan lebih halus. Kubekap-bekap, lalu kucari itilnya dengan jari tengah. Banjirnya lebih banyak dari Ruly, tiba-tiba dia menghengtikan kenyotannya akibat tidak kuat menanggung deraan kenikmatan luar biasa atas itilnya yang mulai kutekan dan kujawil-jawil.
“Iigghh.. Eaarrgghh.. Uuhh.. Ehhmm…” erangannya nyaris membikinku menghentikan aksi jariku saking lumayan keras suaranya.
“Teruusshh.. Oohh.. Terrusshh.. Ennakkss.. Sshh.. Sekkallii.. Oohhs.. Shh,” kupercepat genjotan jariku atas itilnya. Nggak mengerang lagi Winnie kecuali hanya menggeleng-nggelengkan kepalanya kanan-kiri dengan liarnya dan meremas erat kontolku. Cairan kewanitaannya semakin luber bersamaan kedutan veginya yang semakin cepat.
“Aagghh…” lalu dia lemas akibat telah mencapai orgasme.
Aku belum keluar. Aku punya agenda berikutnya sehingga aku tahan-tahan. Aku sudah merencanakan akan melanjutkannya dengan Si Bulu Kucing. Aku akan melakukan habis-habisan dengannya. Dia mau ke hotel, berarti siap untuk saling melahap.
Film selesai jam 10 kurang, lampu ruang mulai terang benderang. Untung kami sudah merapikan pakaian agak yang berantakan. Kutawarkan mengantar pulang pada mereka, basa-basi tentu saja sementara kuharap ditolak. Soalnya aku lelaki yang sedang memiliki agenda. He… he…
“Thanks, kami bawa mobil kok.”
Terus kami berpisah setelah saling bertukar no HP.
Aku buru-buru memacu mobilku menuju hotel M di daerah M takut Si Bulu Kucing sudah menunggu. Aku tadi nggak berani menawarkan berangkat bareng, siapa tahu kedua bidadari tadi minta diantar. Jadi begitulah skenario yang dapat terpikir olehku saat itu.
Sudah sampai hotel yang kujanjikan tadi. Kumasuki pelataran hotel, nampak tidak terlalu ramai. Aku langsung menuju lobi, ku-SMS terlebih dahulu Si Bulu Kucing sebelum memesan kamar untuk memastikan bahwa dia jadi mau ketemu.
“Jadi ketemuan?” tulisku singkat.
“Lagi nyari taksi, Om. Sabar ya hehe.,” sial sudah dipanggilnya aku Om. Memang sih sudah Om-Om, angka 36 pantaslah menggolongkan diriku ke dalam grup Om-Om. Karena sudah deal mau ketemu aku menuju resepsionis booking kamar. Kupesan kamar standar saja, yang smoking room.
Aku masih belum bisa berhenti merokok meskipun sudah diancam pacarku. Aku bilang sudah berusaha, tapi kalau gagal ya terserah mau diambil keputusan apa saja kataku. Yang penting tidak melukainya. Aku paling pilu kalau melihat wanita dilanda perasaan tak berdaya.
Entah kenapa sudah lama aku kehilangan hasrat bercumbu dengan pacarku. Sensasinya sudah hilang lama. Apakah semua ini karena kejadian setahun yang lalu, ketika dia ‘dikerjai’ orang. Padahal sudah berkali-kali kubilang, sebagai makhluk lemah harus antisipatif.
Antisipasi, hanya itu senjatanya bila kita tidak memiliki kekuatan. Hindari keadaan, tempat, atau waktu yang dapat membahayakan keselamatan ataupun kehormatan. Entah karena terlalu polos, entah terlalu berlebihan menganggap baik semua orang, entah karena menyepelekan himbauanku bahwa dipikirnya kejadian yang begitu nggak bakalan terjadi pada dirinya, lalu akhirnya terjadi juga.
Aku rajin menghimbau begitu mungkin pada dasarnya secara bawah sadar aku enggak mau menerima ‘korban’ orang lain. Ada semacam perasaan terhina bahwa aku hanyalah sebagai tempat pembuangan akhir para berandal-berandal itu. Enak di mereka dong. Mending yang ngerjain pacarku melebihi aku, eh ini malah berandal kampung yang enggak jelas KTP-nya. Ini sebenarnya yang pinter penjahatnya atau yang bodoh pacarku. Masak sama berandal udik begitu bisa dikerjain.
Tapi bagaimanapun aku amat sangat tidak prihatin sekali, jadi aku melanjutkan hubungan sebagaimana biasa. Rasa kasihanku tidak terperi sebenarnya, hanya pada saat yang sama secara bawah sadar egoku sulit menerimanya.
Hingga akhirnya aku kehilangan hasrat mencumbunya seperti sedia kala. Sudah terbang ke angkasa nafsuku. Pacarku merasakan perubahan ini, lalu sempat minta putus. Aku tidak mengiyakan atau menolaknya. Aku semacam lelaki yang terbengong di titik persimpangan. Rasa cedera dan prihatin sama kuatnya saling tarik-menarik. Energiku terkuras luar biasa karena jiwaku selalu berputat-putar tidak tahu akan menuju ke mana hubungan ini pada akhirnya. Pada saat itulah aku mulai merasakan gairah terhadap cewek-cewek di bawah strataku yang dulu di luar jangkauan radarku, misal si Penjaga Loket ini.
Aku sering mambayangkan menyetubuhi mereka. Mereka sekarang lebih mampu membangkitkan gairahku. Sudah campur aduk kali antara gairah seksual dengan gairah memainkan kekuasaan. Seolah-olah mereka lemah di hadapanku. Mungkin raja-raja dulu mengkoleksi banyak wanita lebih untuk alasan kekuasaan, lebih menikmati ketakberdayaan wanita di bawah kekuasaannya ketimbang murni urusan seksualitas. Tapi memang keduanya suka bercampur padu dan sulit dikenali mana yang lebih berperan.
“Hai dah lama ya Om, hehe,”
Bulu Kucing mengagetkanku. Om? Waduh aku sudah setara Om-Om. Memang sih, bilangan 37 menyudutkanku ke kategori Om-Om. Lantas aku bangkit dari sofa lobi menuju pintu lift bersama. Kamarku di lantai 7, bernomor 717.
Kami cepat intim. Tanpa canggung dia menggelayut ke lenganku. Lift sepi, hanya kami berdua. Kutekan tombol 7. Pintu menutup. Kupeluk dia dari belakang sambil menelangkupkan tanganku di depan perutnya. Kepalanya menyender ke belakang sehingga tercium bau rambutnya yang tebal dan ikal. Lumayan wangi, gairahku mulai merayap.
Untuk menuju lantai 7 memberikan waktu cukup bagi kami untuk bercumbu. Asik juga juga bercumbu di ruang publik begini. Dia menolehkan kepalanya, kucium pipinya lalu kugeserkan ke arah bibirnya dari pinggiran kanan. Aku ingin menyentuhkan bibirku ke kumis tipisnya. Tanganku mulai merembet ke arah buah dadanya. Dia pakai kaos putih diselimuti jas hijau seragamnya.
Kancing jas tidak dipasangkan, sehingga toketnya yang lumayan super tegak menantang-nantang. Kuremasi. Pantatnya kutekan kuat dengan burungku yang sudah mulai mengeras.
Kepalanya menggeliat-geliat sambil matanya terpejam. Kusapu bibirnya, dia memutarkan kepalanya ke belakang sambil menengadah merekah, bibirku dapat mencapai bibirnya secara penuh kini. Kami berpagut. Lidah saling menyentuh dengan pertukaran hembusan nafas dari hidung yang semakin bertekanan.
“Thing thong,” pintu lift terbuka.
Kami melepaskan pelukan karena di depan pintu berdiri dua orang. Kami belok ke kanan setelah membaca petunjuk nomor kamar di tembok depan pintu lift. Sambil jalan kurangkul pinggangnya. Kubuka pintu kamar dengan menggesekkan kunci kamar berupa kartu berlobang.
Kunyalakan lampu hotel dengan memasukkan kartu berlobang tadi di kotak yang terpasang di tembok belakang pintu. Byar. Kupandangi kumis tipis dan bulu-bulu kucingnya. Kupepet ke tembok. Kuangkat roknya sehingga melampau CD-nya, kuusap-usap pahanya. Kutekan ‘bocal’ di pangkal pahaku yang sudah semakin keras ke arah memeknya yang masih tertutup CD sambil kuangkat paha kanannya. Kuambil kedua tangannya terangkat dan kuletakkan di atas kepalanya menempel tembok. Tas tangannya terjatuh di lantai. Kupagut bibirnya kuat-kuat. Kumasukkan lidahku menyenggamai lidahnya. Dadaku kugesek-gesekkan ke toketnya yang menggunung itu.
“Shhss.. Ehhss…” begitu bunyinya. Semakin nafsu aku. Kulepas tangannya dan kusibakkan rambutnya. Kuselusuri telinga dan lehernya. Tekananku di tempat-tempat lain tak kulonggarkan sama sekali. Malah semakin menguat.
“Heemmff.. Aahh.. Sshh…” matanya mulai meredup dan bola hitamnya sudah di sisi atas. Seksi sekali. Aku harus membuang pikiran biar tidak cepat panas lalu tumpah duluan. Kuturunkan tangan kiriku menelusuri ke bawah. Kuusap-usap gundukan yang masih tertutup CD-nya. Kujilati dagunya, menengadah kepalanya. Kutengok sebentar bibirnya, lalu kujilati kumis tipisnya dari sisi ke sisi. Terus berulang-ulang.
“Ehhmmff.. Oohh.. Ehhsshh,” bola hitamnya semakin menghilang. Wajahnya merona seksi. Dadanya maju mundur berlawanan dengan pantatnya. Usapan-usapanku di gundukan memeknya terus berlangsung.
Kedua tanganku mulai menggerayangi pantatnya yang padat. Kuremas-remas lalu kubawa maju biar menekan ‘maskot’-ku sekuat-kuatnya. Posisi kaki-kakinya mengangkangi kaki-kakiku. Wow seksi sekali kalau diabadikan.
Akhirnya aku melepaskannya untuk beristirahat sambil mencari udara segar. Kami menuju ranjang. Dia melepas jas hijaunya lalu ditaruh di kursi. Aku membuka botol air mineral lalu kunyalakan rokok. Kusetel TV lalu aku menuju sisi kiri ranjang yang berdekatan dengan meja biar mudah menjangkau asbak. Aku berbaring sambil menonton TV. Dia melepaskan rok dan kaosnya, Bra dan
CD masih dikenakan lalu menyusul berbaring dan memelukku dengan posisi miring. Kepala disandarkan ke dadaku, toket menekan dadaku, dan kaki kanannya ditumpangkan di atas kaki kananku. Kuhisap rokokku satu dua. Jari-jarinya memencet-mencet hidungku. Menjawil-jawil bibirku. Lalu hidungnya digesek-gesekan ke pipiku. Kubiarkan agak lama masa gencatan senjata ini.
Tapi tangan kananku yang bebas dari batang rokok mengusap-usap pahanya yang menumpangi pahaku. Sesekali kusambut ciumannya. Aku ingin berlama-lama menikmati ritual persenggamaan ini. Tidak langsung bless bless crett creett.
Sebatang rokokku sudah habis. Kuajak dia menuju kamar mandi. Dilepasnya Bra dan CD-nya, aku lepas semua pakaianku. Kami bertelanjang menuju kamar mandi. Dalam perjalanan kuremasi pantatnya. Dia cekikikan. Dia menjamah kontolku yang sudah mulai reda dari ketegangan.
Kuputar kran shower, kutunggu sebentar dan kurasakan air sudah mulai hangat. Kubimbing dia menuju di bawah kran. Kusabuni bagian punggungnya. Bulu-bulu kucingnya nampak tegas di bawah guyuran air. Seluruh tubuhnya memiliki bulu kucing, halus dan panjang.
Dengan lembut kusabuni mulai dari tengkuknya. Menggelinjang kegelian sehingga terkikik-kikik. Kutelusuri sampai ke pantatnya. Pas di belahan pantatnya sengaja sabun kususupkan. Cekikikan lagi. Kusabuni pahanya sampai ke betisnya. Kubalikkan tubuhnya. Lehernya kugosok-gosok. Terangkat-angkat pundaknya kegelian. Tubuhnya dipenuhi busa. Kuangkat tanganya lalu kusapu
Ketiaknya dengan busa. Bulu kucing di ketiaknya lebih tegas dari wilayah lainnya. Belum dicukur bulunya. Ingin kujilat kalau aku enggak mencoba menahan diri. Buah dadanya kusabuni dengan cari melingkar dan meremas.
Tangannya yang tadi diangkat tiba-tiba turun bertumpu ke pundakku. Mencoba menahan birahi yang terbangkit. Lalu tanganku meluncur ke perut sebelum dia terbangkit lebih jauh. Masalahnya kalau dia mendesah-desah aku juga ikut hanyut. Giliran kugosok selangkangannya, sengaja tidak kusentuh veginya, lalu sampai ujung kakinya.
Selesai kupenuhi tubuhnya dengan busa, kubilas sampai habis busa yang menempel di tubuhnya. Kudekap dari belakang ingin menikmati wangi sabun sambil kuremas-remas teteknya. Tangan kanannya menjangkau ke belakang mencari-cari ‘my johnny’. Tangan kananku meremas tetek kanannya, tangan kiriku turun membekap gundukan veginya lalu kuusap-usap. Gairah kami mulai mendaki. Kontolku dikocoknya pelan. Jari-jariku mulai menekan-nekan pangkal bibir vegi bagian atasnya.
“Oohsshh.. Oohhss…” erangan kami mulai menggema di toilet. Semakin kuat kocokannya, semakin cepat tekanan-tekananku di pangkal veginya itu. Lalu kujebloskan jariku mencari itilnya.
“Yyaa.. Masshh.. Dii.. Ssiittuu.. Ceeppettinnh.. Oohh.. Sshh,” mulai meningkat pacuan hormon libidonya.
Meskipun pegel jariku mengocok itilnya namun kuberjuang terus sampai kubuat dia merem melek, kepalanya tertunduk dan tertegak bergantian.
Pantatnya menekan ke belakang semakin kuat sementara pegangan di kontolku dilepasnya. Dia sudah tenggelam dalam kenikmatannya sendiri. Biarlah dia duluan yang kupuaskan.
“Yaahh.. Eegghh.. Terussh.. Teruussh.. Masshh.. Ouuhss”.
Kontolku kujepitkan di selangkangannya. Aku nggak tahan, kucari lubang veginya lalu kuparkir di sana. Cairan sudah mulai memenuhi rongganya. Pantatnya mulai dimaju mundurkan. Kutahan dulu. Aku ingin dia orgasme duluan. Kupercepat kocokanku. Tangannya memegang tembok sambil menungging-nungging.
Kesadarannya sudah lenyap dilanda gelombang birahi yang kupersembahkan melalui jari-jariku. Setelah 15 menit tiba-tiba dia terpekik dan mengejang hebat.
“Oohhgg…”
Dirinya terbujur lemas setelah mencapai orgasme yang pertama sambil menyender ke tembok setelah menyemprotkan cairan di liang veginya. Kedutan-kedutan veginya yang cepat dan kuat menyebabkan aku ingin segera menyetubuhinya. Kugenjotkan kontolku maju mundur yang dari tadi sudah parkir di sana dengan perlahan. Kunikmati detik demi detik gesekan penuh antara permukaan kulit kontolku dengan kulit veginya yang masih kuat erat mencengkeram. Alangkah lezatnya.
Kumenunduk untuk menjangkau teteknya yang masih tegang.
“Sshh.. Shh…”
Mulai naik lagi birahinya. Tubuhnya bergoncang maju mundur seiring sodokan-sodokanku. Kusenggamai dia dari belakang selama 5 menit sebelum akhirnya kubalikkan dan kunaikkan dipangkuanku. Kuangkat lalu kumasukkan kontolku di veginya, kugenjot lagi dalam posisi berdiri. Kaki-kakinya membelit melingkari pinggangku. Kudekap erat sehingga tetek-teteknya menekan dadaku kuat-kuat. Kusedot lehernya dengan nafsu. Kugenjot, kupompa, kusodok sehingga dia tersentak-sentak naik turun. Matanya telah hilang di dalam pelupuknya yang menutup. Rambutku dijambak kuat-kuat.
“Aahh.. Ahh.. Ahh…” semakin kuat jambakannya. Aku semakin gregetan melihatnya telah kalap tenggelam dalam luapan birahi. Kujilati putingnya. Semakin liar kepalanya menekuk-nekuk ke samping. Lepas tangannya dari rambutku. Tangannya menjambaki rambutnya sendiri sekarang. Semakin kuat sodokanku, seolah-olah kuingin menembuskan kontolku sampai ke perutnya.
Nafas-nafas kami sudah berat dan terengah keras pertanda jantung sedang bekerja keras (penelitian mengatakan kalor yang dikeluarkan orang bersenggama melebihi olah raga renang). Keringat kami banjir hebat bercampur air mandi kami. Sambil masih terbenam kontolku di veginya, kugotong dia menuju ranjang.
Kurebahkan, kuangkat kakinya di atas pundakku, kupompa kembali liang memeknya yang sudah diluberi cairan kewanitaannya yang sudah amat sangat beceknya.
“Clop.. Clop.. Clop…” merembes cairannya membasahi sprei. Kutopangkan tangan-tanganku di kasur. Kaki-kakinya semakin tertekuk, bahkan paha-pahanya menyentuh perutnya sendiri. Kugenjot habis dalam posisi aku berdiri miring. Keringatku mengucur tumpah menimpa tubuhnya. Gila, kuat sekali aku kali ini. Sudah hampir setengah jam lebih aku belum keluar juga.
Aku naik ranjang, kumiringkan posisinya lalu kuangkat paha kanannya. Sekarang aku leluasa memasukkan kontolku dari belakang.
Kusenggamai dari belakang dalam posisi berbaring. Teknik ini baru kupraktekkan sekarang. Aku melihat film bokep di mana kontol gede dan panjangnya si cowok menghunjam dari belakang, sangat panjang sehingga masih tersisa separuh meskipun yang separuh sudah dalam menyeruak di dalam vegi ceweknya. Aku horni sekali melihatnya. Sambil kuhujami memeknya, kuremasi teteknya, kuciumi punggungnya. Gila, nikmmaatt sekalee.
“Yeesshh.. Oogghh.. Yyesshh.. Oouughh…” lenguhan-lenguhan panjangnya menandai orgasmenya bakalan datang lagi. Aku jadi ikut terangsang dan terpacu juga untuk segera mencapai klimaks. Tangannya kalang kabut mencengkeram sprei. Ranjang kami berdentam-dentam menghantam tembok. Tetangga kamar sebelah pasti akan terganggu sekali dengan kebisingan olah asmara kami. Namun kayaknya malam ini hotel sepi dari tamu. Semoga tidak ada tamu di sekitar.
Dan, “oouugghh.. Aarrgghh…” akhirnya kami bersamaan menyemburkan cairan dari alat-alat reproduksi kami seolah berliter-liter banyaknya. Akhirnya kami lemas dan letih tak terperi sampai seperti lumpuh rasanya.
Dengkul-dengkulku benar-benar seperti terlolosi. Nafasku jadi panjang-panjang kayak ikan megap-megap kekurangan zat asam. Tak tertahankan akhirnya kami jatuh tertidur sampai pagi.
Pagi-pagi jam 7 sebelum pulang ke rumah untuk bersiap-siap ke kantor baru kujawab SMS pacarku minta maaf bahwa semalam aku sudah ketiduran sehabis ngobrol sama teman lamaku sampai larut. Memang pacarku tahu kebiasaanku dulu suka ngobrol dengan kawan-kawanku sampai larut.
Sebenarnya kejadian-kejadian yang baru kualami di luar dugaan, hanya sekadar iseng. Bahkan aku masih tidak percaya kalau aku bisa seberani itu. Selama ini aku tidak berani menyapa cewek asing di tempat umum. Malu.
Monday, August 30, 2021
PESONA KOTA
POKERBOLA - Aku adalah seorang “Computer Engineer” yang selalu dinas keliling Indonesia guna melayani customer perusahaan tempatku bekerja. Satu saat tepatnya bulan Juni 1994, aku ditugaskan ke kota Y. Sesampai di stasiun kereta api jam 8 pagi aku langsung naik becak dan melintas jalan M yang cukup terkenal lalu meminta kepada tukang becak untuk segera diantar ke hotel yang mempunyai cukup fasilitas. Aku menurunkan tas koperku di depan hotel M. Setelah cukup istirahat aku berniat ingin sarapan, karena semalam di kereta api aku tidak makan. Namun ketika keluar dan akan mengunci pintu kamar, aku terkejut melihat beberapa wanita memakai pakaian swimsuit melintas dibelakangku. “Ada apa gerangan?”, dalam hati aku bertanya.
Rasa ingin tahuku begitu besar, sehingga membuat perutku rasanya menjadi kenyang. Aku coba mengikuti para wanita tersebut dari belakang dan.., wowww.., betapa bahenolnya pantat mereka. Sesaat aku berhenti dan.., ternyata mereka adalah pengujung biasa yang hanya ingin latihan fitness.
Beberapa saat aku memperhatikan mereka, dan ketika itu juga terdengar suara wanita menggoda menyapaku “Mau fitness juga Mas?”, aku mencoba berbalik badan.., ya ampun!, seorang wanita memakai swimsuit warna pink dengan body yang aduhai dan mempunyai rambut lurus terurai hingga pundak menghampiriku sambil tersenyum.
“Wah senyumnya begitu menggoda pikirku dalam hati”, hingga aku sejenak terdiam bagai patung tapi biji mataku berjalan dari atas ke bawah memperhatikan wanita tersebut yang mempunyai kaki begitu panjang dan indah. “Ohh.., tidak!, hanya lihat-lihat saja”, jawabku.
“Mas.., dari Jakarta?” wanita tersebut kembali bertanya.
“Iya.., saya sedang tugas ke sini, dan kebetulan saya menginap di hotel ini, anda sendiri sedang apa disini?” aku memberanikan diri balik bertanya.
“Sebenarnya aku ke sini mau fitness, tapi sudah full.., jadi aku mengubah rencana ingin berenang saja, kebetulan kolam renangnya bersebelahan dengan ruangan fitness”.
Kesunyian memecahkan pembicaraan kami sejenak.., dan “Oh, ya.., Bambang namaku.., kamu siapa?”, aku mencoba berkenalan.
“Namaku Vina.., aku juga orang Jakarta, aku kuliah di sini, aku sering ke hotel ini hanya untuk fitness dan berenang” jawab Vina.
“Kalau begitu kita sama-sama saja ke kolam renang,” aku coba mengajak.
“Emang Mas Bambang mau berenang juga”, tanya Vina. Aku terkejut sambil menelan ludah.., gawat! aku kan nggak bisa berenang yachh.., “, pikirku dalam hati. “Oh, tidak.., tidak! kamu saja yang berenang, aku pesan makanan dan minuman, kebetulan aku belum sarapan”, jawabku sambil memanggil pelayan.
“Oke dech kalau begitu.., Vina sekalian minta minuman berenergi boleh nggak..?”.
Langsung aku jawab, “Boleh-boleh.., mau berapa botol?”, Byuurr Vina menjatuhkan badannya ke kolam”, aku pesan satu botol saja yach..”, jawab Vina manja dari dalam kolam.
Setelah 30 menit Vina baru beranjak dari kolam renang dan langsung glek.., glek.., glek.., satu botol kecil minuman berenergi langsung kering diteguk Vina. “Pantas Vina mempunyai body begitu aduhai, dan pasti mempunyai gairah seks yang tinggi”, aku mengira-ngira.
“Mas Bambang berapa lama di sini?”, tanya Vina sambil mengusap-usap rambutnya dan menjatuhkan pantatnya di kursi malas di sampingku.
“Enggak lama kok, hanya 2 hari” jawabku berbohong, padahal aku harus 1 bulan menetap di kota Y, karena tugas yang akan aku lakukan cukup berat.
Angin sepoi-sepoi mengusap pembicaraan kami berdua, rasanya kami sudah cukup akrab meskipun perkenalan kami baru berlangsung beberapa jam dan tak terasa waktu menunjukan pukul 10 pagi.
“Kamu mandi dan ganti pakaian di kamarku saja”, aku memberanikan diri memberi tawaran pada Vina yang sejak tadi melonjorkan badannya dengan tangan ke atas sehingga dengan bebas bulu ketiaknya menari-nari tertiup angin.
“Boleh dech..”, jawab Vina singkat. Sampai di kamar, timbul rasa birahiku karena tergoda bentuk tubuh Vina yang menggigit seluruh persendianku.
“Mas.., nanti malam aku boleh ke sini nggak?, karena sekarang aku mau kuliah dulu, Mas juga kan mau tugas dulu kan..?”, tanya Vina ketika keluar dari kamar mandi dengan pakaian sudah rapi. Pertanyaan Vina itu sekaligus mengundang ribuan setan mempengaruhi pikiranku mencari akal untuk merayu Vina agar dapat aku setubuhi. “Boleh.., datang saja”, jawabku sambil memegang pundak Vina yang mempunyai umur 21 tahun tinggi badan 163 cm. Vina diam saja saat aku pegang pundaknya, malah dia menatapku tajam. Aku tak berdaya akan tatapan matanya yang begitu indah. Suasana hening.., dan perlahan aku goyangkan kepalaku untuk mencoba menyentuh bibirnya.
“Jangan Mas.., aku sudah pakai lipstik, nanti berantakan lagi” jawab Vina menolak dengan halus. Aku jadi penasaran, tapi aku yakin dari tatapan matanya tersembunyi ada kesan frustasi dalam diri Vina, tapi aku tidak mau mencoba berusaha tau ada apa sebenarnya yang terjadi tehadap diri Vina. Karena pikiranku sudah kacau termakan keindahan lekuk tubuh Vina yang begitu menggoda.
“Ting tong.., ting tong.., ting tong..”, tepat pukul 7 malam suara bell kamar berbunyi 3 kali, aku segera menghampiri pintu dan saat kubuka.., wuuaahh kulihat Vina berdiri manis dengan mengenakan gaun tipis panjang warna biru muda dengan tali kecil di pundak hingga terlihat anggun. Terlihat bercak dua bulatan BH di dadanya dan celana dalam mungil yang tembus pandang tersorot lampu utama saat aku nyalakan.
“Mau mengajak jalan ke mana yach..? Kalau ke disco tidak mungkin, pasti makan malam, sebab Vina mengenakan pakaian resmi untuk pesta”, dalam hati aku bertanya-tanya.
“Silakan masuk.., aku masih pakai handuk dan mau ganti pakaian dulu, aku baru selesai mandi”, jawabku sambil menarik tangan Vina yang mulus putih bersih.
“Blaakk!” pintu kamar kututup dan.., terkejut aku tiba-tiba jemari lentik nan lembut memegang jemariku yang kasar yang setiap hari memegang obeng dan solder ketika aku mengunci pintu. Aku berbalik badan dan sambil berdiri langsung aku belai rambut Vina yang halus lurus terurai.., aku teruskan belaianku ke wajah Vina yang berbentuk oval dan terlihat ada rasa penyesalan bercampur keputus-asaan juga keinginan untuk melakukan persetubuhan yang paling melekat.., kulanjutkan belaianku menyusuri pundak.., “Ohh Mas..”, jawab Vina lirih sambil memejamkan matanya isyarat meminta untuk dicium.
Aku tatap bibirnya tidak berwarna merah muda lagi saat Vina pakai di siang hari tadi, mungkin ini menandakan aku boleh menciumnya. Aku dekap Vina dengan mesra seperti layaknya seorang istri di malam pertama. Dengan lembut aku hunjamkan ciuman dengan deras ke bibir Vina yang tipis menggoda. Tak disangka.., Vina membalas dengan menjulurkan lidahnya kedalam mulutku dan memainkannya dengan lihai. Aku segera membelai dan menciumi tengkuk leher panjang Vina sampai pundak dan.., ting..!, aku lepas tali gaunnya, hingga gaun terusan sampai kaki itu terjatuh ke lantai.
Kini hanya BH ukuran 36B tanpa tali ke pundak yang ada di hadapanku siap aku mangsa. “Ahh.., ouuhh.., Mass.., beri aku kepuasan..” terdengar suara Vina meminta dengan pasrah yang saat itu juga terdengar degupan jantung Vina yang berdetak keras dengan nafas terengah-engah apalagi disaat aku mencoba membuka BH-nya yang yang tipis berwarna putih. Woowww.., indah sekali buah dada Vina yang menonjol ke depan dengan puting kecil dan dikelilingi aurora yang kecil pula dan penuh kehangatan itu.
“oouuhh.., Mass.., isap.., isap dong Mass..” pinta Vina memelas.
Aku langsung melahap dua buah gunung kembar itu dengan hisapan dan jilatan yang liar sehingga membangunkan kemaluanku yang bersembunyi di balik handuk, sepertinya kemaluankupun sudah tidak sabar menggedor-gedor dan menjatuhkan handuk hingga aku kini telanjang bulat. Aku semakin gencar melancarkan serangan ke seluruh tubuh Vina yang wangi khas parfum true love, aku meremas buah dada kiri Vina dan menjilati buah dada kanan Vina sambil memeluk dan mengelus-eluskan tanganku di punggung Vina sampai ke pantat. Vina mendengus keenakan dan membuang kepalanya ke belakang dengan otomatis dadanya membusung ke depan dan makin tampak pula keindahan buah dadanya yang menonjol membesar. “Terus Mass.., ouugghh.., yang keras isapnya Mass..”, Vina memaksa.
Perlahan aku pelorotkan celana dalam Vina yang tipis berwarna putih dan berbunga di tengahnya hingga dengkul dan tanpa dikomando aku telah benamkan kepalaku di hadapan liang kewanitaan Vina yang tersembunyi dibalik bulu-bulu halus yang lebat tak terkira. Ohh.., honey.., please go on.., ouuhh.., sepertinya Vina kurang bebas, akhirnya dia pelorotkan sendiri celana dalamnya sampai kini dia benar-benar bugil tanpa sehelai benangpun menempel di tubuh indahnya itu. Sambil berdiri Vina membuka kakinya lebar-lebar untuk menyerahkan lubang kenikmatannya yang menganga agar segera dijilat.
“sstt.., sluupp.., eehhmm.., ohh.. Vina betapa sempitnya memekmu”, pikirku yang terus membungkuk dan menjilati clitoris Vina yang nangkring di pintu gua yang penuh misterius namun penuh kenikmatan itu.
“uugghh.., oouuhh.., eehhmm..” Vina mendesah dan.., sseerr.., cairan madzi membanjiri liang kewanitaan yang membuatku semakin mudah meluncurkan kemaluanku untuk menembus liang kewanitaan Vina. Kebangkitan birahi Vina makin membara dan mulai memutar-mutarkan pantatnya yang gempal dan bulat seirama dengan jilatan lidahku yang lincah menari-nari di sekitara clitoris dengan sekali-sekali memasukan lidahku ke dalam gua yang gelap gulita. Vina menggelinjang keenakan. Aku begitu merasakan kenikmatan begitupun Vina yang menarik-narik rambutku dengan ganas.., bagai seorang wanita yang sudah lama haus menantikan kenikmatan yang tiada tara itu. “Oohh.., honey masukin cepat kemaluannya”, pinta Vina tak sabar sambil menjatuhkan kedua tangannya ke sofa dan menjulurkan pantatnya ke belakang dengan kaki mengangkang.
Kini Vina dalam posisi berdiri menungging kebelakang siap menerima kemaluanku dari belakang. Sleebb.., kemaluanku menembus lorong gelap menuju singgasananya dengan perlahan.
“oouuhh.., nikmat sekali Maass.., terus perlahan Maass.., acchhkk.., jangan berhenti Maass..” Vina memohon lirih, diputar-putarkan pantatnya dari kiri ke kanan dan sebaliknya, sehingga rasa geli menyelimuti kemaluanku yang keluar masuk di liang senggama Vina yang sempit tapi lembut. Aku semakin mengganas tatkala aku dengar desahan Vina yang tiada hentinya.
“Oouugghh.., acchhkk.., yang cepat.., yang keras.., Mass.., Mass.., oouugghh.., Maass..!”. Seerr.., terasa basah mengguyur kemaluanku yang masih berdiri tegak dengan panjang 14 Cm dan diameter 3.5 cm itu. Sehingga terdengar bunyi clep.., clep.., liang surga Vina mulai becek, Vina mengeluarkan kemaluanku dan.., slupp.., sluupp.., sstt.., Vina langsung melahap kemaluanku dan mengisap dengan rakusnya, sesekali dia julurkan lidahnya untuk menjilati dua buah biji kemaluanku hingga lubang anus yang membuatku mengelinjang kegelian.
Setelah puas memainkan kemaluanku, sepertinya Vina meminta kembali untuk diserang dan dia menarikku ke kamar mandi hingga ke bath tab dengan memegang kemaluanku. Aku seperti kerbau dungu yang mau menuruti perintah tuannya, namun jika kerbau yang ditarik hidungnya, tapi aku yang ditarik kemaluanku yang sedang menegang. Vina membuka kran air dingin tanpa air panasnya, jadi terasa dingin sekali tatkala kami berdua menjatuhkan diri kedalam bath tab tersebut.., namun tidak mengecilkan semangat kemaluankku yang masih terus menjulang tegang. Vina menutup air kran setelah bath tab terisi sedikit sekedar membasahi alas bath tab. Vina kembali menjilati kemaluanku.., selangkanganku.
Aku tidak mau kalah, akhirnya aku bangkit dan aku tidur kembali membalikkan tubuhku sehingga kepalaku kini berada tepat di depan liang kewanitaan Vina yang telah dari tadi menganga minta dijilat. Dalam keadaan posisi 69, Vina berada di bawah dengan kaki merenggang diangkat ke sisi-sisi bath tab, Vina mengangkat pantatnya sambil digoyang-goyang dengan dengan cepat karena semakin geli oleh jilatan lidahku yang menusuk-nusuk hingga dalam.
“oouuhh.., Maass.., masukin sayang.., aku sudah nggak tahan nich..”, Vina mengeluh minta dimasukin.
Akhirnya kami merubah posisi, giliran Vina yang berada di atas, sedang aku di bawah. Dengan posisi berjongkok Vina langsung menangkap kemaluanku dan menuntunnya masuk kedalam lubangnya yang sudah basah dengan campuran madzi dan air kran juga air ludahku. Sleebb.., sleebb.., perlahan Vina menaik-turunkan tubuhnya sambil memegang dadaku yang plontos tanpa bulu sedikitpun. Aku lihat mata Vina merem-melek keenakan sambil mengigit-gigitkan bibirnya yang mungil itu dengan sesekali mendesah. “Aahh.., acchh.., oouucchh.., Mass.., nikmat sekali, kamu hebat mass.., bisa bikin aku puas.., oouuhh! acchh..! uuhh.., baru kali ini aku merasakan kepuasan.., oouugghh..!”, Vina mengerang merasakan kenikmatan yang tiada tara. Vina semakin mempercepat gerakannya dan terdengar suara bleb.., bleb.., yang begitu keras antara pantat Vina yang besar dengan pahaku, berpadu dengan suara teriakan Vina yang meminta ampun merasakan ngilu atas gesekan kemaluanku dengan liang kewanitaan Vina.
“Mass.., aku mau keluar lagi.., kita keluarin sama-sama yach say..?”, pinta Vina lagi memelas dengan suara sedikit gemetaran menahan rasa nikmat yang segunung.
“uugghh.., honey.., aku mau keluar.., ayo sayang.., lebih cepat, lebih cepat lagi sayang.., ouugghh..!”, aku mendengus. “oouuhh..,. aacckkhh..!!”, Vina berteriak keras sambil menggaruk dadaku kuat-kuat merasakan kenikmatan dunia yang hebat itu. Cret.., cret.., cret.., cret.., cairan maniku membasahi lubang kenikmatan Vina dan terasa becek sekali, tapi rasa itu menghilang dengan secara mendadak kemaluanku yang masih mendarat di lubang kemaluan Vina dipijit dengan keras oleh liang senggama Vina yang kembang kempis.
“Terima kasih ya Mas.., sudah memberi kepuasan kepada Vina” ucapan Vina membisik di telingaku dan Vina langsung terkulai lemas di atas tubuhku dan tanpa sadar dia terbaring lelap dengan keadaan telanjang bulat, indah dan mulus sekali tubuhnya walau sudah 3 kali orgasme, bau aroma True Love-nyapun tetap melekat di tubuhnya. Aku peluk tubuhnya dengan mesra dan akupun mulai tertidur, sebelumnya aku buka penyumbat air bath tab supaya airnya mengalir keluar dan tidak menggenang di dalam bath tub. “Kalau airnya nggak dibuang bisa masuk angin aku.., apalagi dalam keadaan capek begini”, pikirku dalam hati
Kamipun tertidur lelap sampai pagi di dalam bath tab. Ternyata Vina wanita yang kawin diusia muda dan melanjutkan kuliah di kota “Y”, tapi tidak pernah mendapatkan kepuasan seks dari suaminya, karena kemaluan suaminya lama sekali untuk bangun, sehingga kadang-kadang Vina sudah mencapai 3 kali orgasme sebelum rudal scud suaminya bangun dan masuk ke liang kewanitaan Vina. Jadi masih bisa dihitung baru 5 kali kemaluan suami Vina menyelam ke dalam liang senggama Vina. “Pantes.., memek Vina sempit seperti perawan”, pikirku dalam hati. Dan semenjak itu setiap ada tugas ke kota “Y” aku selalu mengambilnya, dan sebelum berangkat aku telepon Vina dahulu.
Subscribe to:
Comments (Atom)





